Tokoh Nasionalis ini, Kakek dari Dian Sastro  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pekerja membersihkan diorama tokoh Sumpah Pemuda di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta, Senin (26/10). Hal ini merupakan rangkaian persiapan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober mendatang. TEMPO/Tony Hartawan

    Seorang pekerja membersihkan diorama tokoh Sumpah Pemuda di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta, Senin (26/10). Hal ini merupakan rangkaian persiapan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober mendatang. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Siapakah Sunario sebenarnya? Sunario Sastrowardoyo, yang beragama Islam dan berasal dari Jawa Timur, menikah dengan Dina Maranta Pantauw, gadis Minahasa beragama Protestan yang ditemuinya ketika berlangsung Kongres Pemuda 1928.

    Perkawinan ini awet. Mereka hanya terpisahkan oleh maut. Sunario wafat pada 1997 dan istrinya wafat tiga tahun lebih awal. Bakat politik menurun kepada salah seorang putrinya, Profesor Astrid Susanto, yang setelah lama berkarier di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, kemudian menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat.

    Sunario Sastrowardoyo, kakek bintang film Dian Sastrowardoyo, terkenal sederhana. Setelah pensiun, ia mengajar di beberapa perguruan tinggi. Suanario tidak punya mobil sendiri. Dari rumah di Jalan Raden Saleh, Jakarta, ia pergi ke kampus naik bus kota atau bajaj. Ia sempat membuat heboh pejabat Departemen Luar Negeri ketika suatu saat mantan Menteri Luar Negeri ini naik sepeda datang ke Pejambon.

    Pelajaran utama yang selalu diajarkan kepada anak-anaknya serta dijalaninya sendiri adalah hidup jujur. Kenapa kita harus jujur? Alasannya sederhana: supaya malam hari bisa tidur nyenyak. Barangkali itulah salah satu resep panjang umur tokoh yang sempat mengecap usia di atas 90 tahun itu.

    Salah satu obsesi tokoh nasionalis ini adalah persatuan bangsa. Sejak dari negeri Belanda sampai proklamasi kemerdekaan, Sunario adalah tokoh yang konsisten dengan pandangan tentang negara kesatuan.

    Ia keberatan dengan negara federal. Pidatonya dalam Kongres Pemuda mengutip filsuf Prancis, Ernest Renant, yang kemudian juga pernah disitir Bung Karno. Artikel “Qu'est-ce qu'une nation” tersebut diterjemahkan Sunario ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Apakah Bangsa Itu”. Bangsa adalah hasil historis yang ditimbulkan oleh deretan kejadian yang menuju ke satu arah.

    Setelah menguraikan masalah ras, bahasa, agama, persekutuan kepentingan bersama, keadaan alam, Renant menyimpulkan bahwa bangsa itu merupakan keinginan untuk hidup bersama (le desir de vivre ensemble). Bangsa merupakan hasil masa silam yang penuh usaha, pengorbanan, dan pengabdian. Jadi bangsa itu adalah suatu solidaritas besar yang terbentuk karena adanya kesadaran bahwa orang telah berkorban banyak dan bersedia memberikan pengorbanan lagi.

    ALIA FATHIYAH | PDAT| EVAN

    Berita Lain:

    Edisi Khusus Tempo.co Sumpah Pemuda
    Hatta, Motor Perjuangan Pemuda di Belanda

    Hatta dan Kata Indonesia

    Wawancara A. Simanjuntak, Pengarang Bangun Pemudi Pemuda
    Naskah Sumpah Pemuda Tak Orisinal?

    Kenapa Sukarno Ubah Sumpah Pemuda?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.