Hatta dan Kata Indonesia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gedung museum Sumpah Pemuda, di Jln. Kramat Raya, Jakarta, Museum inilah yang dahulu digunakan para pemuda untuk berjuang melawan penjajahan dan dari tempat ini pula lahirlah Sumpah Pemuda pada 28-10, 1928 TEMPO/Subekti.

    Gedung museum Sumpah Pemuda, di Jln. Kramat Raya, Jakarta, Museum inilah yang dahulu digunakan para pemuda untuk berjuang melawan penjajahan dan dari tempat ini pula lahirlah Sumpah Pemuda pada 28-10, 1928 TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Mohammad Hatta bersekolah di Sekolah Dagang Rotterdam atau Rotterdamse Handelshogeschool. Pada 1921, Hatta bergabung dengan organisasi Indische yang kemudian berubah menjadi Indonesische Vereniging.

    Saat itu istilah "Indonesier" dan kata sifat "Indonesich" sudah tenar digunakan oleh para pemrakarsa politik etis seperti Profesor Van Vollenhoven. "Sehingga kata "Indonesia" menjadi Tanah Air adalah ciptaan Indonesische Vereniging," kata Hatta, dalam memoir yang ditulisnya pada 1979 seperti tertulis dalam edisi khusus Sumpah Pemuda, Majalah Tempo.

    Menarik untuk diikuti bahwa saat pertemuan berlangsung, Darmawan Mangunkusumo demikian bersemangat dan berkata bahwa mulai saat itu mereka mesti membangun Indonesia dan meniadakan Hindia atau Nederlands-Indie. Namun, Sastromoeljono menyindir dan mengatakan, "Itu kan teori saja, prakteknya bagaimana?" kata dia, seperti dikutip Hatta.

    Sindiran Sastromoeljono, kemudian menjadi hakim dan panitia persiapan kemerdekaan, terjawab. Dalam rapat diputuskan, mereka menerbitkan kembali majalah dwibulanan Hindia Poetra. Hatta pengasuhnya. Disepakati pula, setiap tulisan dalam majalah 16 halaman seharga 2,5 gulden setahun itu tak ada nama pengarang agar, "isinya mencerminkan pendapat kolektif," Hatta menulis.

    Penerbitan Hindia Poetra itu kemudian menjadi "praktek" manjur bagi para intelektual muda itu menyebarkan ide-ide antikolonial. Dalam dua edisi pertama, Hatta menyumbangkan kritiknya akan sewa tanah industri gula di Hindia Belanda yang merugikan kalangan tani.

    Tapak mereka sungguh berani. Tatkala Iwa Kusumasumantri menjadi ketua (1923), Indonesische mulai menyebarkan ide nonkooperasi, artinya berjuang demi kemerdekaan tanpa butuh kerja sama Belanda. Setahun kemudian, ketika Nazir (1924) memimpin Indonesische, nama majalah Hindia Poetra berubah menjadi Indonesia Merdeka. Giliran Soekiman Wirjosandjojo yang memimpin (1925), nama Indonesische Vereniging resmi berubah menjadi Perhimpunan Indonesia.

    PDAT | MAJALAH TEMPO | YANDI

    Baca juga:

    Edisi Khusus Tempo.co Sumpah Pemuda
    Hatta, Motor Perjuangan Pemuda di Belanda

    Wawancara A. Simanjuntak, Pengarang Bangun Pemudi Pemuda
    Naskah Sumpah Pemuda Tak Orisinal?

    Kenapa Sukarno Ubah Sumpah Pemuda?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    KPU Menetapkan Jokowi Widodo - Ma'ruf Amin Pemenang Pilpres 2019

    Pada 21 Mei 2019, Komisi Pemilihan Umum menetapkan pasangan Joko Widodo - Ma'ruf Amin sebagai pemenang Pilpres 2019. Inilah komposisi perolehan suara.