Soegondo Djojopoespito Gemar Baca Buku  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Diorama di Museum Sumpah Pemuda, Jln. Kramat Raya, Jakarta, Gedung inilah yang digunakan para pemuda untuk berjuang melawan penjajahan dan dari tempat ini pula lahirlah Sumpah Pemuda pada 28 Oktobefr 1928 TEMPO/Subekti

    Diorama di Museum Sumpah Pemuda, Jln. Kramat Raya, Jakarta, Gedung inilah yang digunakan para pemuda untuk berjuang melawan penjajahan dan dari tempat ini pula lahirlah Sumpah Pemuda pada 28 Oktobefr 1928 TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta -- Soegondo Djojopoespito lahir di Tuban, Jawa Timur, 22 Februari 1905. Majalah Tempo Edisi 36/37 tertanggal 2 November 2008 lewat tulisan yang berjudul "Peran Soegondo: Sang Pemimpin yang Redup" menuliskan bahwa adalah sulung dari dua bersaudara. 

    Ayahnya, Kromosardjono, seorang penghulu di Tuban, menikah dengan putri khatib Djojoatmodjo dan cucu penghulu Tuban, Raden Iman Razi. Pasangan ini juga dikaruniai anak perempuan, Sudaraweti.

    Pada 1932 ia pindah ke Bandung menjadi Kepala Sekolah Taman Siswa di Bandung. Pada tahun itu juga, ia menikahi Suwarsih di Cibadak, Bogor.

    Soegondo gemar membaca. “Sampai tua, ia masih senang dibelikan buku sebagai oleh-oleh,” kata Sunarindrati, putri kedua Soegondo, yang ketika ditemui Tempo pada 2008 berusia 71 tahun.

    Sunarindrati pun mengenang ayahnya. Ayahnya sangat gemar membaca buku tentang tokoh-tokoh internasional berbahasa Inggris, Belanda, Prancis, dan Jerman.

    Setelah lulus dari AMS afdeling B (sekolah menengah atas bagian B 3 tahun) di Yogyakarta 1924, Soegondo melanjutkan studi ke Sekolah Hakim Tinggi, sekarang menjadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia di Jakarta pada 1925. Tapi ia tak tamat. “Beasiswa dari Belanda dicabut karena ayah aktif di politik,” katanya.

    Saat kuliah, ia menumpang di rumah pegawai pos di Gang Rijksman (sebuah kampung di sebelah utara Rijswik), Jalan Segara. Teman kosnya kebanyakan pegawai pos. Salah satunya pernah memberikan majalah Indonesia Merdeka terbitan Perhimpunan Indonesia di Belanda. Majalah ini dilarang masuk ke Indonesia.

    Setelah membaca majalah itu, mata Soegondo makin terbuka. Ia menyadari pentingnya meraih sebuah kemerdekaan. Ia ingin berbuat sesuatu. Soegondo lalu belajar dan berdiskusi politik dengan Haji Agus Salim. Teman-temannya pun dihubungi untuk membaca majalah terlarang itu dan berdiskusi di pemondokannya. Mereka antara lain Soewirjo dan Usman Sastroamidjojo, adik Ali Sastroamidjojo. Maka sejak saat itu, semangat Soegondo untuk ikut memerdekakan Indonesia seolah tak terbendung.

    TEMPO | WIKIPEDIA | GRACE S GANDHI


    Baca juga:

    Edisis Khusus Tempo.co Sumpah Pemuda
    Wawancara A. Simanjuntak, Pengarang Bangun Pemudi Pemuda
    Soegondo: Politikus, Birokrat, dan Wartawan

    Soegondo Djojopoespito, Berpolitik Sejak Remaja

    Soegondo, Indonesia Raya, dan Soempah Pemoeda


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ponsel Tanpa IMEI Terdaftar Mulai Diblokir pada 17 Agustus 2019

    Pemerintah akan memblokir telepon seluler tanpa IMEI terdaftar mulai 17 Agustus 2019 untuk membendung peredaran ponsel ilegal di pasar gelap.