Naskah Sumpah Pemuda Tak Orisinal?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratusan penari membawakan tari daerah secara kolosal saat Upacara Sumpah Pemuda ke 83 di Stadion Siliwangi, Bandung, Jawa Barat, Jumat (28/10). Peringatan Sumpah Pemuda yang dipusatkan di Bandung tersebut mengambil tema memupuk jiwa wirausaha dan daya saing di kalangan pemuda yang peduli sesama. TEMPO/Prima Mulia

    Ratusan penari membawakan tari daerah secara kolosal saat Upacara Sumpah Pemuda ke 83 di Stadion Siliwangi, Bandung, Jawa Barat, Jumat (28/10). Peringatan Sumpah Pemuda yang dipusatkan di Bandung tersebut mengambil tema memupuk jiwa wirausaha dan daya saing di kalangan pemuda yang peduli sesama. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejarawan JJ Rizal mengatakan Sumpah Pemuda merupakan bentuk kepalsuan yang dibuat oleh Presiden Sukarno. Tujuannya untuk menangkal upaya-upaya yang memecah belah bangsa. "Sumpah pemuda itu produk tahun 1950-an," kata Rizal dalam diskusi "Sumpah Pemuda, Sumpah Serpah" di Warung Daun, Jakarta, Sabtu, 27 Oktober 2012.

    Menurut Rizal, isi teks pasca-1950 berbeda dengan aslinya. Menurut surat kabar harian Sinpo, bunyi aslinya adalah sebagai berikut:
    1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertanah air Indonesia.
    2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa Indonesia.
    3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa, bahasa Indonesia.

    "Jadi teks yang sekarang itu merupakan produk masa depan, terutama kata-kata 'satu' yang ada di tiap poin Sumpah Pemuda itu. Ini kepalsuan sejarah," ujar Rizal. Ia juga mengatakan sebenarnya naskah itu bukan sumpah, tetapi deklarasi sebuah kongres pemuda. Agar terlihat sakral, kata Rizal, Sukarno menggantinya menjadi "Sumpah Pemuda".

    Sebelum tahun 1950-an, menurut Rizal, tanggal 28 Oktober adalah perayaan untuk mengenang lagu Indonesia Raya ketika pertama kali dikumandangkan. Situasi demokrasi liberal yang memecah belah membuat Sukarno menjadikan tanggal itu sebagai momen memotivasi persatuan bangsa, terutama pemuda.

    Apa pun sejarahnya, aktivis buruh dan perempuan Dita Indah Sari mengatakan Sumpah Pemuda merupakan penghargaan sebuah pluralisme bangsa. "Koran yang memuatnya merupakan koran etnis Tionghoa, gedung untuk kongres milik orang Katolik," ucap Dita.

    Selain itu, momen sumpah pemuda merupakan upaya menolak sentimen kolonialisme yang bersuku-suku dan berstrata sosial. Generasi muda Indonesia, kata Dita, sudah semestinya bercermin pada peristiwa 28 Oktober 1928 ini. Misalnya, peristiwa penggulingan kekuasaan pada tahun 1998, juga erat kaitannya dengan Sumpah Pemuda.

    "Pada tahun 1998 itu semangatnya hampir sama dengan 1928. Untuk merebut kekuasaan dari kaum tua," ujar Dita. Semangat 1998 melepaskan diri dari penjajahan dan memperjuangkan pluralisme pemikiran dan pendapat.

    SUNDARI

    Berita Terpopuler
    Alasan Alfred Simanjuntak Dahulukan Pemudi

    Karang Lagu, Jepang Daftar Hitamkan Alfred Simanjuntak

    Di Kamar Mandi, Lagu Bangun Pemudi Pemuda Tercipta

    Alfred Simajuntak Diminta Gus Dur Gubah Himne PKB

    Suara Alfred Simajuntak Masih Lantang dan Empuk



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    KPU Menetapkan Jokowi Widodo - Ma'ruf Amin Pemenang Pilpres 2019

    Pada 21 Mei 2019, Komisi Pemilihan Umum menetapkan pasangan Joko Widodo - Ma'ruf Amin sebagai pemenang Pilpres 2019. Inilah komposisi perolehan suara.