Sabtu, 17 November 2018

Kisah Alfred Simanjuntak dan Tiga Komponis Besar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Komposer Pencipta Mars Bangun Pemudi Pemuda, Alfred Simanjuntak. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Komposer Pencipta Mars Bangun Pemudi Pemuda, Alfred Simanjuntak. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Semasa remaja, Alfred Simanjuntak, pencipta lagu Bangun Pemudi Pemuda, bersekolah di Hollands Inlandsche Kweekschool, Surakarta, pada 1935. Ketika itu usianya sekitar 15 tahun. Ia bersekolah selama enam tahun.

    Waktu Tempo bertandang ke kediamannya, Bintaro Paradis, Jakarta Selatan, Selasa, 16 Oktober 2012, Alfred bercerita tentang pertemanannya dengan tiga komponis besar: Cornelis Simanjuntak, Liberty Manik, dan Binsar Sitompul.

    Pertemanan keempatnya terajut ketika Alfred mendatangi sekolah Katolik di Muntilan, untuk mengikuti ujian. “Cornelis bersekolah di sana,” kata Alfred.

    Sejak awal bertemu dengan Cornelis, Alfred langsung mengaguminya. Sebab, sang teman memiliki suara sangat bagus. "Suara Cornel hebat. Tenor tinggi, padahal tanpa mikrofon, betul-betul seperti tenor Italia," kata Alfred dalam majalah Tempo edisi 17 November 2002, berjudul Selama Hayat Dikandung Badan.

    Meski keempatnya masih duduk di sekolah menengah pertama, mereka sudah diajarkan lagu orkestra, Messiah karya Handel. Di bawah arahan R. Sudjasmin, di kemudian hari menjadi konduktor Istana, mereka memainkan lagu Mozart, Verdi, dan Beethoven.

    Di Semarang, Alfred mengontrak rumah bersama Liberty Manik di Jalan Ledog Sari 12. Hampir setiap hari keduanya memainkan biola, bergantian suara satu, suara dua. Di rumah itu pula L. Manik melahirkan lagu Satu Nusa Satu Bangsa.

    "Saya sempat berkomentar sewaktu dia gremeng-gremeng menyanyikannya, bahwa lagunya seperti lagu gereja," ujar Alfred.

    Dalam pertemanan itu, mereka kerap bersaing dalam karya. Waktu C. Simanjuntak menciptakan Pada Pahlawan, Alfred mencipta Saudaraku Berpulang Dulu. Yang unik, lagu-lagu mereka memiliki ciri yang sama. "Pada akhir lagu, nada-nadanya pasti naik. Bersemangat. Tak ada yang cengeng."

    Pada 1950, Alfred melanjutkan pendidikan ke Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Sedangkan L. Manik berangkat belajar ke Jerman. Di sana Manik memperoleh gelar doktor filsafat dengan magna cum laude di Universitas Frein. Judul disertasinya: Das Arabische Tonsysten Im Mittelalter. Sebuah kajian kitab musik para filsuf muslim seperti Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ihwan al-Safa.

    "Luar biasa, sayang tak banyak orang tahu soal itu," kata Alfred.

    EVAN | PDAT | CORNILA DESYANA

    Berita Terpopuler
    Alasan Alfred Simanjuntak Dahulukan Pemudi

    Di Kamar Mandi, Lagu Bangun Pemudi Pemuda Tercipta

    Alfred Simajuntak Diminta Gus Dur Gubah Himne PKB

    Suara Alfred Simajuntak Masih Lantang dan Empuk

    Alfred Simajuntak: Lagu itu Mengobarkan Semangat


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.