Algojo 1965 Ini Bunuh 39 Orang, 2 Anggota Keluarga  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Arifin C Noor (kedua dari kiri) saat syuting film G30S/PKI di Jakarta, 1984. Dok. TEMPO/Maman Samanhudi

    Arifin C Noor (kedua dari kiri) saat syuting film G30S/PKI di Jakarta, 1984. Dok. TEMPO/Maman Samanhudi

    TEMPO.CO, Kupang - Frans de Romes, 74 tahun, satu dari 10 algojo penumpas anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengisahkan tentang pembantaian yang dilakukannya pada 1966.

    Kisah ini berawal ketika dia bersama sembilan orang teman lainnya direkrut di Rumah Tahanan (Rutan) Maumere, karena tersangkut kasus pembunuhan. Mereka lalu dijadikan algojo penumpasan PKI di daerah itu.

    "Saya membunuh sekitar 39 orang, termasuk dua anggota keluarga saya," kata Frans ketika disambangi Tempo di kediamannya, Rabu, 19 September 2012.

    Selain membantai warga terduga PKI itu, menurut dia, mereka juga diperintahkan oleh Komando Operasi (Komop) untuk menggali lubang dan menguburkan orang terduga PKI yang dibantai secara massal.

    Pembantaian itu dilakukan para algojo selama empat bulan, sejak Februari-Mei 1966. Usai menjalankan tugas mereka, para algojo dibayar sebesar Rp 150 ribu per orang dan beras sebanyak 5 karung ukuran 50 kg yang dibagi 10, masing-masing algojo mendapat 25 kg beras.

    Dari 10 algojo itu, tersisa dia yang masih hidup. Sedangkan sembilan algojo lainnya telah wafat. Frans pun hidup sengsara di sebuah gubuk di salah satu desa di Kabupaten Sikka, NTT.

    YOHANES SEO

    Berita lain:
    Tokoh di Balik Penghentian Pemutaran Film G30S

    Untuk Tabok PKI, Tentara Pinjam Tangan Rakyat

    Tiga Pesan Soeharto Kala G30S/PKI 

    Pengakuan Anwar Congo, Algojo di Masa PKI 1965

    Tragedi Kanigoro, PKI Serang Pesantren


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.