Senin, 16 Juli 2018

Penambahan Jam Mengajar Perlu Penelitian  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fasli Jalal. TEMPO/Adri Irianto

    Fasli Jalal. TEMPO/Adri Irianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Rencana penambahan jam belajar harus diputuskan setelah ada penelitian, sehingga bisa memberi nilai lebih kepada para siswa. Hal ini dikemukakan mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal di sela Diskusi Pendidikan dan Kebangsaan yang digelar oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) dengan Indonesia Synergy di Canberra, Sabtu, 22 September 2012.

    “Penambahan jam mengajar sangat menarik, namun perlu dikaji lebih dalam dengan hasil penelitian yang ada, bukan hanya kasus per kasus,” ujar Fasli dalam rilis yang diterima Tempo dari panitia diskusi.

    Menurut Fasli, bila penambahan jam mengajar diisi dengan program yang menyenangkan, siswa akan betah di sekolah lebih lama. Berarti sekolah harus mampu menyediakan sarana, seperti sarana olahraga, yang mampu mengakomodasi bakat siswa. “Perlu persiapan, baik sarana maupun prasarananya. Harus ada kepastian bahwa pelajar tidak lelah terhadap pelajaran saja,” katanya.

    Fasli menambahkan, keuntungan dari penambahan jam mengajar dengan kondisi yang demikian akan melahirkan anak-anak yang lebih cerdas dan kreatif. Namun, bila ini tidak didukung kesiapan pengajar dan cara mengajar yang tidak menyenangkan, penambahan jam akan menjadi bumerang bagi anak.

    Penambahan jam belajar dengan kegiatan yang menyenangkan tentu akan memberi dampak positif bagi pelajar, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Tanah Air.

    Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan mengatakan bahwa kekuatan utama sebuah bangsa ada pada sumber daya manusianya. “Peningkatan kualitas sumber daya manusia dapat ditingkatkan melalui pengembangan pendidikan yang menjalar ke seluruh wilayah bangsa,” ujar Anies. Lebih lanjut, Anies menjelaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan merupakan tanggung jawab seluruh warga.

    Pada acara diskusi tersebut juga diresmikan prasasti Sinergi Indonesia. Ratih Maria Dhewi, Wakil Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Australia (PPIA), mengatakan, Sinergi merupakan forum diskusi lintas universitas di Canberra. Tujuannya, mendorong seluruh pelajar Indonesia di negeri itu mencapai prestasi terbaik bersama. Kegiatan ini diharapkan memberi sumbangan bagi pendidikan di Tanah Air.

    ADEK MEDIA ROZA

    Berita Terpopuler:
    Jokowi Janji Bangun Stadion untuk Persija

    FPI Segel Seven Eleven Pejaten

    Jokowi Diberi Kado Sepeda Kuno

    Usai Segel Seven Eleven,FPI Datangi Tempat Hiburan

    FPI Pusat Klaim Tak Tahu Penyegelan Seven Eleven


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jadwal Pertandingan Final Piala Dunia 2018 Prancis dan Krosia

    Setelah 62 pertandingan dan 161 gol, tiba saatnya perebutan tempat ketiga dan pertandingan Final Piala Dunia 2018 antara Kroasia dan Prancis.