Pecel Lele, Makanan Kesukaan Munir

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Kontras Munir pada lokakarya HAM di auditorium Bidakara, Jakarta tanggal 28 April 2000. DOK/TEMPO/Bernard Chaniago

    Ketua Kontras Munir pada lokakarya HAM di auditorium Bidakara, Jakarta tanggal 28 April 2000. DOK/TEMPO/Bernard Chaniago

    TEMPO.CO, Jakarta - Almarhum Munir Said Thalib tidak doyan makan di tempat yang mahal. Begitulah Sugiarto, sopir almarhum semasa di YLBHI mengenang aktivis Hak Asasi Manusia ini. "Dia kalau makan suka mencari tempat yang murah," kata Sugiarto kepada Tempo, saat dihubungi Ahad 9 September 2012.

    Biasanya, almarhum mencari warung pecel lele dan mengajak serta sopirnya ikut makan. "Cak Munir punya nama besar, tapi hidupnya sederhana sekali," Sugiarto berujar.

    Sugiarto mengaku telah mengenal sosok Munir sejak di Jakarta, sekitar 1990-an. Namun, ia baru intens dan akrab dengan almarhum sejak 1996, ketika menjadi sopirnya. Di matanya, majikannya adalah pejuang orang-orang tertindas dan mempedulikan kesejahteraan kaum buruh. "Dia berani memperjuangkan hak asasi manusia. Saya sedih kasus beliau tidak tuntas," ujarnya.

    Almarhum juga dikenang sebagai sosok yang pemberani. Sugiarto mengingat pada 2002 kantor YLBHI pernah diserbu sekelompok orang. Bukannya menyelamatkan diri, Munir malah menghadapi mereka dengan berani. "Dia nggak menghindar," ujarnya.

    Semasa hidupnya, Munir kerap membela hak para buruh dan aktivis. Saat menjabat Dewan Kontras, namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi aktivis korban penculikan Kopassus. Setelah Presiden Soeharto jatuh, kasus penculikan itulah yang menyebabkan Prabowo Subianto dicopot dari jabatannya sebagai Danjen Kopassus.

    Munir wafat di usia 38 tahun di atas pesawat Garuda Indonesia, dalam penerbangan dari Jakarta ke Amsterdam pada 7 September 2004. Ketika terbang ke Amsterdam, ia menjabat Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial dan bermaksud melanjutkan studi di Belanda.

    Pada 20 Desember 2005, Pollycarpus Budihari Priyanto dijatuhi vonis 14 tahun hukuman penjara atas pembunuhan terhadap Munir. Hakim menyatakan bahwa Pollycarpus, seorang pilot Garuda yang sedang cuti, menaruh arsenik di makanan Munir. Hakim Cicut Sutiarso menyatakan bahwa, sebelum pembunuhan, Pollycarpus menerima beberapa panggilan telepon dari sebuah telepon yang terdaftar oleh agen intelijen senior. Hukuman itu diperberat menjadi 20 tahun penjara oleh Mahkamah Agung pada 2008.

    19 Juni 2008, Mayor Jenderal (Purnawirawan) Muchdi Pr, orang dekat Prabowo Subianto dan politisi Partai Gerindra, ditangkap dengan dugaan kuat bahwa dia adalah otak pembunuhan Munir. Namun, ia divonis bebas oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 31 Desember 2008.

    Jenazah Munir bersemayam di Taman Pemakaman Umum Kota Batu. Istri Munir, Suciwati, bersama aktivis HAM lainnya terus menuntut pemerintah agar mengungkap kasus pembunuhan ini.

    NIEKE INDRIETTA



    Berita Lainnya:
    UI Bersih Kecewa Gumilar Maju Calon Rektor Lagi
    Polisi Kejar Pencopet Smartphone Menteri Amir
    Misteri Wanita Bercadar di RS Polri
    Alasan Munir Pilih Garuda Indonesia
    Kamar Hartati Dijaga Bodyguard  
    Novel ''9 Summers 10 Autumns'' Difilmkan  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Para Pencari Suaka Afganistan dan Data Sejak 2008

    Para pencari suaka Afganistan telantar di depan Kementerian BUMN di Jakarta pada Juli 2019. Sejak 2008, ada puluhan ribu pencari suaka di Indonesia.