Munir dan Mobil Toyota Mark Putih Kesayangannya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Munir, koordinator Kontras mengendarai motor bebeknya di Jakarta, tahun 2000. DOK/TEMPO/Bernard Chaniago

    Munir, koordinator Kontras mengendarai motor bebeknya di Jakarta, tahun 2000. DOK/TEMPO/Bernard Chaniago

    TEMPO.CO, Jakarta - Almarhum Munir Said Thalib hidup sederhana bersama istri dan kedua anaknya. Aktivis Hak Asasi Manusia ini baru mempunyai mobil sekitar Mei 2003. Mereknya Toyota Mark II berwarna putih, sedan keluaran 1980-an. Mobil bekas senilai Rp 10 juta itu ia beli dengan cara mengangsur. Sebelum punya mobil, Munir bepergian dengan sepeda motor.

    "Dia sangat cinta mobil itu," kata Suciwati saat dihubungi Tempo, Ahad, 9 September 2012.

    Pada Lebaran 2003, pertama kalinya pasangan suami istri ini menggunakannya untuk pulang kampung ke Malang. Tak cuma itu. Kata Suciwati, mobil ini sering digunakan Munir untuk menyelamatkan orang-orang yang terancam diculik. Banyak kenangan soal mobil itu. "Ada orang-orang yang terancam diculik yang dibantu Munir pernah naik mobil itu," kata Suciwati.

    Suciwati juga punya kenangan romantis bersama pria kelahiran 8 Desember 1965 ini di mobil itu. Ketika mengendarai mobil bersama suaminya, Munir sering memutar lagu-lagu. Lalu mereka menyanyi bersama di dalam mobil itu.

    Perasaan sayangnya pada mobil itu, kata Suciwati, Munir yang menguasai elektro pun mengutak-atik dan memodifikasi audionya. Mobil bekas itu menjadi semacam "studio" kecil dengan suara audio yang bagus. "Munir paham betul bedanya suara yang cempreng dan empuk. Dia mengajari saya soal audio," Suciwati berujar. Munir juga memasang tulisan www.munir.or.id di ujung kiri pintu bagasinya.

    Munir memutar lagu-lagu dari jazz sampai rock di mobil kesayangannya. Kalau jazz, misal lagunya Ermy Kulit, Dian Permana Putra, dan Incognito. Kadang, Munir memutar musik rock seperti The Queen yang judulnya We Wil Rock You. Lantaran kerap memutar lagu rock di mobil, Suciwati yang tadinya sama sekali tidak suka, jadi suka.

    "Mobil yang sudah dimodifikasi audionya itu sering dia pamerkan kepada teman-temannya. Dia bangga sekali dengan mobil itu," kata Suciwati.

    Husein Anis, kawan Munir semasa di HMI pun bercerita mengenai mobil kesayangan almarhum. "Munir beli mobil itu beberapa bulan sebelum dia meninggal," katanya seperti dikutip dari film dokumenter Munir berjudul Kiri Hijau Kanan Merah yang disutradarai Dandhy D. Laksono. Sebelumnya, kata Husein, Munir naik sepeda motor ke mana pun, dari Bekasi atau Jatinegara.

    Setelah Munir meninggal, mobil itu kemudian dihibahkan kepada Sugiarto, sopir Munir di YLBHI. "Buat orang lain beli mobil itu mungkin mudah, tapi buat Cak Munir beli mobil itu ukurannya termasuk mahal," kata Sugiarto, seperti dikutip dari film dokumenter Munir berjudul Kiri Hijau Kanan Merah yang disutradarai Dandhy D. Laksono.

    Semasa hidupnya, Munir kerap membela hak para buruh dan aktivis. Saat menjabat Dewan Kontras, namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi aktivis korban penculikan Kopassus. Setelah Presiden Soeharto jatuh, kasus penculikan itulah yang menyebabkan Prabowo Subianto dicopot dari jabatannya sebagai Danjen Kopassus.

    Munir wafat di usia 38 tahun di atas pesawat Garuda Indonesia, dalam penerbangan dari Jakarta ke Amsterdam pada 7 September 2004. Ketika terbang ke Amsterdam, ia menjabat Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial dan bermaksud melanjutkan studi di Belanda.

    Pada 20 Desember 2005, Pollycarpus Budihari Priyanto dijatuhi vonis 14 tahun hukuman penjara atas pembunuhan terhadap Munir. Hakim menyatakan bahwa Pollycarpus, seorang pilot Garuda yang sedang cuti, menaruh arsenik di makanan Munir. Hakim Cicut Sutiarso menyatakan bahwa, sebelum pembunuhan, Pollycarpus menerima beberapa panggilan telepon dari sebuah telepon yang terdaftar oleh agen intelijen senior. Hukuman itu diperberat menjadi 20 tahun penjara oleh Mahkamah Agung pada 2008.

    Pada 19 Juni 2008, Mayor Jenderal (Purnawirawan) Muchdi Pr, orang dekat Prabowo Subianto dan politisi Partai Gerindra, ditangkap dengan dugaan kuat bahwa dia adalah otak pembunuhan Munir. Namun ia divonis bebas oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 31 Desember 2008.

    Jenazah Munir bersemayam di Taman Pemakaman Umum Kota Batu. Istri Munir, Suciwati, bersama aktivis HAM lainnya terus menuntut pemerintah agar mengungkap kasus pembunuhan ini.

    NIEKE INDRIETTA



    Berita Lainnya:
    Nonton Matah Ati, Jokowi Pilih Lesehan
    Polisi Kejar Pencopet Smartphone Menteri Amir
    Fasilitas buat Atlet PON Payah, buat Wartawan Wah
    Perempuan Turki Penggal Kepala Pemerkosanya
    Istri Ustad Solmed Jalani Operasi Rahim
    Polisi Pastikan Ledakan di Depok Berasal dari Bom


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.