Kisah Munir dan Sepeda Motor Tuanya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak ikut serta dalam Aksi Diam Kamisan memperingati 8 tahun kematian Munir di depan Istana Negara, Jakarta, Kamis (6/9). TEMPO/Yosep Arkian

    Seorang anak ikut serta dalam Aksi Diam Kamisan memperingati 8 tahun kematian Munir di depan Istana Negara, Jakarta, Kamis (6/9). TEMPO/Yosep Arkian

    TEMPO.CO, Jakarta - Selama hidupnya, aktivis hak asasi manusia, Munir Said Thalib, memiliki segudang kegiatan. Rekam jejaknya sebagai pembela demokrasi dan HAM ada di mana-mana. Dia pernah menjadi pengacara perkara hilangnya 24 aktivis dan mahasiswa di Jakarta (1997-1998); kuasa hukum kasus pembunuhan besar-besaran terhadap masyarakat sipil pada 1984 di Tanjung Priok (1998); atau penembakan mahasiswa di Semanggi, Tragedi Semanggi I dan II (1998-1999).

    Dalam semua kesibukan itu, Munir pergi ke mana-mana dengan tunggangan setianya: sepeda motor Honda Astrea warna hitam dengan helm full face merah marun.

    Kepada mantan Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Ikrar Nusa Bakti, Munir pernah berkeluh-kesah. Cerita Munir, ia mendapat perlakuan diskriminatif dari satpam sebuah hotel. Sebab, Munir nyelonong masuk pelataran hotel berbintang sambil mengendarai sepeda motor.

    "Turun! Copot itu helm!" kata Ikrar menirukan ucapan Munir waktu menceritakan teguran satpam. "Motor dilarang masuk ke sini. Kamu tahu aturan tidak?" begitu hardik si petugas keamanan.

    Mendapat teguran begitu, Munir tersinggung. Ia membalas perkataan satpam itu. "Kamu tahu tidak, saya ini tamu, menginap di sini. Ini kunci kamarnya," kata Munir. Kepada Ikrar, Munir mengaku kesal akan teguran itu. "Saya naik pitam," ujar Ikrar mengulangi pernyataan Munir.

    Ayah dua anak ini memang selalu bepergian ke mana pun dengan Honda Astrea bututnya. Bahkan, kata teman Munir di Himpunan Mahasiswa Islam, Husein Anis, suami Suciwati itu baru membeli mobil beberapa bulan sebelum ia dibunuh. "Setahu saya, selama ini Munir selalu naik sepeda motor dari rumahnya di Bekasi atau Jatinegara," ujar Husein.

    Cerita soal Munir dan sepeda motornya ini dituturkan Ikrar dan Husein dalam film dokumenter tentang Munir berjudul Kiri Hijau Kanan Merah. Diproduksi Watchdoc dan KASUM, film menarik ini disutradarai jurnalis muda Dandhy Dwi Laksono.

    Munir tewas diracun ketika menumpang pesawat Garuda Indonesia pada 7 September 2004. Kala itu, usia Munir 38 tahun dan menjabat sebagai Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia, Imparsial. Sampai sekarang, polisi hanya berhasil mengungkap pelaku langsung pembunuhan, yakni pilot Garuda Pollycarpus Budihari Priyanto. Pilot ini disebut-sebut memiliki kaitan dengan sejumlah pejabat penting Badan Intelijen Negara.

    CORNILA DESYANA

    Berita Terpopuler:
    Wanita Teman Telanjang Pangeran Harry Ditahan

    Ribuan Pendukung Hartati Kepung KPK

    Cari Donasi demi Tonton Eksekusi Pemerkosa Anaknya

    Keputusan Arsenal Jual Van Persie-Song, Disesali

    40 Jenis Mobil Akan Dilarang Minum BBM Bersubsidi

    Zulkarnaen Minta Sebutan Korupsi Al Quran Direvisi

    Sejumlah Tokoh Siapkan Mahfud MD Jadi Capres

    Golkar: Naik Turun Bisnis Bakrie Itu Biasa

    Tes Mamografi Malah Menyebabkan Kanker

    Awas, Anda Bisa Kehilangan Motor di Sini


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gerhana Bulan Parsial Umbra Terakhir 2019

    Pada Rabu dini hari, 17 Juli 2019, bakal terjadi gerhana bulan sebagian. Peristiwa itu akan menjadi gerhana umbra jadi yang terakhir di tahun 2019.