Kang Jalal: Konflik Sampang Bukan Soal Keluarga  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jalaludin Rakhmat. TEMPO/Praga Utama

    Jalaludin Rakhmat. TEMPO/Praga Utama

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejak 2004, penganut Syiah Sampang, Madura, kerap mengalami kekerasan. Bahkan mereka diusir dari daerah itu. Menurut polisi, konflik itu dipicu masalah keluarga antara Tajul Muluk dan adiknya, Roisul Hukama. Namun, menurut cendekiawan Jalaluddin Rakhmat, masalahnya bukan soal keluarga.

    "Bukan konflik saudara yang mengatasnamakan agama, tapi kefanatikan agama yang menggunakan masalah keluarga," kata Kang Jalal, sapaan Jalaluddin Rakhmat, Rabu, 29 Agustus 2012.

    Lalu mengapa Sampang yang diserang? Sebab, komunitas Syiah di sana lebih lemah daripada daerah lain. Di Sampang, pemeluk Syiah hanya berjumlah 700-an orang. Mereka pun bukan datang dari kalangan terpelajar atau berekonomi mapan. "Sedangkan orang yang menyerang mendapat sokongan dana hingga bisa datang menggunakan bus sewaan," kata dia.

    Tak cuma itu, keberadaan Syiah Sampang semakin terimpit ketika Majelis Ulama Indonesia di Jawa Timur mengeluarkan fatwa bahwa aliran itu sesat. Bahkan Menteri Agama Suryadharma Ali pernah setuju dengan putusan itu.

    Kata Kang Jalal, sebetulnya masyarakat tak membenci umat Syiah. Ketidaksukaan itu muncul karena bisikan ulama mereka. Apalagi masyarakat tradisional seperti Sampang lebih memilih bertani, sementara soal agama diserahkan ke ulama. "Penduduk merasa tak paham soal agama. Jadi, kalau ulamanya bilang A, ya mereka akan ikut," ujarnya.

    Karena itu, fatwa MUI Jawa Timur sungguh berpengaruh besar terhadap penyerangan Syiah. Sebab, masyarakat Madura cenderung membebek apa kata ulamanya. "Preman saja hormat pada kiai," kata Kang Jalal.

    Konflik di Sampang tak cuma sekali. Sebelumnya, perseteruan terjadi pada 2004 dan 2006. Kemudian pada 29 Desember 2011, ratusan orang dari Kecamatan Omben dan Karang Penang menyerbu kompleks Pesantren Islam Syiah di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Madura. Sambil mengumandangkan takbir, massa membakar musala, madrasah, asrama, serta rumah pemimpin Syiah Sampang, Tajul Muluk. Buntut dari penyerangan itu, polisi menangkap Tajul Muluk.

    Pada 26 Agustus 2012, penyerbuan kembali terjadi di Sampang. Kali ini, sepuluh rumah milik warga Syiah dibakar ratusan orang. Mereka juga menyabetkan celurit hingga menewaskan satu orang dan melukai puluhan penganut Syiah lainnya.

    CORNILA DESYANA

    Berita Terkait

    EDISI KHUSUS: Syiah di Indonesia

    Hubungan Pemerintah-Penganut Syiah Indonesia Baik

    Iran Tak Pernah Bantu Syiah Indonesia

    Syiah Berkembang di Indonesia Pascarevolusi Iran

    Tabot, Jejak Syiah dalam Tradisi Indonesia

    Penyebaran Syiah di Aceh

    4 Periode Penyebaran Syiah di Indonesia

    Kata Kemendikbud Soal Sekolah Anak Warga Syiah

    Sekolah Bisa Pulihkan Trauma Anak Warga Syiah

    60 Anak Warga Syiah Dipersulit Kembali ke Sekolah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.