'R', Si Provokator Penyerangan Syiah di Sampang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapolri Jenderal Timur Pradopo memberi keterangan pers terkait hasil dari rapat kordinasi konflik Sampang di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jatim, (27/8). Kapolri menyatakan polisi telah menetapkan tersangka berinisial

    Kapolri Jenderal Timur Pradopo memberi keterangan pers terkait hasil dari rapat kordinasi konflik Sampang di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jatim, (27/8). Kapolri menyatakan polisi telah menetapkan tersangka berinisial "R" dan tujuh orang dimintai keterangan intensif yang terlibat dalam kerusuhan di Sampang, Madura. ANTARA/M Risyal Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian RI menetapkan seorang tersangka atas kasus penyerangan di desa Karang Gayam dan Omben, Sampang, Madura, pada Ahad, 26 Agustus 2012, berinisial R. Tersangka ini diduga menjadi penggerak dan pelaku penyerangan ke komunitas Islam Syiah di Sampang.

    "Sudah dilakukan penahanan terhadap R, dia adalah salah satu tokoh masyarakat sehingga bisa menggerakan massa," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Brigadir Jenderal Boy Rafli saat ditemui di kantornya, Selasa, 28 Agustus 2012.

    Penetapan R sebagai tersangka adalah kelanjutan proses pemeriksaan atas delapan orang yang diduga terlibat. Tujuh orang yang diperiksa lainnya, menurut Boy, masih menjalani pemeriksaan dan akan dievaluasi perannya sore hari ini. "R akan ditahan dan lanjut diperiksa di Polda Jawa Timur," kata Boy.

    Tersangka R, menurut Boy akan dijerat Pasal 354 KUHP tentang tindakan penganiayaan. Selain itu, untuk sementara akan dikembangkan pada pasal 160 KUHP tentang penghasutan juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP. "Tersangka diduga terlibat penganiayaan dan pengahsutan sehingga jatuhnya korban," ujarnya.

    Polisi juga telah meminta kepada masyarakat yang terlibat dalam penyerangaan tersebut untuk menyerahkan diri. Hal ini juga diimbau kepada masyarakat dan tokoh agama untuk melaporkan atau membujuk para pelaku menyerahkan diri.

    Saat ini, menurut Boy, kepolisian juga masih menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengurus para warga yang mengungsi. Polisi juga mengklaim masih mencari dan menjemput para warga yang masih bersembunyi seperti di daerah-daerah bukit. Hingga saat ini tercatat total warga yang mengungsi sebanyak 221 orang.

    "Beberapa dari mereka bersembunyi di rumah sanak keluarga atau tetangga, kita jemput yang sembunyi di bukit," kata Boy.

    Bentrok antarmasyarakat Syiah dan Suni Ahad lalu menyebabkan dua orang meninggal dunia. Selain itu tujuh orang juga mengalami luka berat, 15 rumah terbakar, dan ratusan orang mengungsi.

    Polisi mengklaim akan memproses seluruh kasus ke jalur hukum dan mengindentifikasi tempat kejadian perkara yang dilakukan tim Indonesia Automatic Fingerprints Identification dan Pusat Laboratorium Forensik Polda Jawa Timur.

    Kepolisian juga telah mengirimkan tiga kompi Brigadir Mobil Polda Jawa Timur, satu kompi Sabara Polda Jawa Timur, dan mendapat bantuan dari empat kompi TNI Kodam Brawijaya untuk pengamanan.

    FRANSISCO ROSARIANS

    Berita terpopuler lainnya:
    Mantan Gubernur Ini Akhirnya Nikahi Selingkuhannya
    Tomy Winata: Konflik Paulus Bukan dengan Andi

    Bercinta dengan Pasien, Perawat Ini Diskors

    Tommy Winata: Saya Menengahi, Paulus Ajak Damai

    Tewas Saat Berfoto dengan Gaun Pengantin

    Survei: Wanita Malaysia Paling Tak Setia

    Suami Diam-diam Jadi Donor Sperma, Istri Menggugat

    Jokowi ''Punya'' Esemka,Gubernur Jabar Tak Mau Kalah

    Awal September, Jakarta Punya Wi-Fi Gratis

    OJK Buka Lowongan 2500 Pegawai


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.