Rabu, 14 November 2018

Bentrok Sampang, Djoko Suyanto Salahkan Ulama

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah personil TNI dan Polri memasukkan jenazah korban kerusuhan Syiah-Sunni, ke dalam ambulan, di Desa Karanggayam, Omben Sampang, Jatim, Minggu (26/8). Dalam insiden tersebut seorang pengikut Syiah tewas, dua warga Sunni mengalami luka-luka serta puluhan rumah warga Syiah dibakar massa. ANTARA/Saiful Bahri

    Sejumlah personil TNI dan Polri memasukkan jenazah korban kerusuhan Syiah-Sunni, ke dalam ambulan, di Desa Karanggayam, Omben Sampang, Jatim, Minggu (26/8). Dalam insiden tersebut seorang pengikut Syiah tewas, dua warga Sunni mengalami luka-luka serta puluhan rumah warga Syiah dibakar massa. ANTARA/Saiful Bahri

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto menyatakan seharusnya para ulama dan tokoh masyarakat di Nangkernang, Karanggayam, Omben, Sampang, Madura, Jawa Timur turut bertanggung jawab atas terjadinya bentrokan warga di sana. Dia pun membela kepolisian yang dinilainya sudah turut mengamankan lokasi, meski kejadian bentrok bukan pertama kalinya terjadi. 

    "Kok nyalahin kepolisian? Mestinya para ulama dan tokoh masyarakat juga ikut memberikan pencerahan kepada umat dan warganya," kata Djoko, saat dihubungi melalui pesan pendek, Ahad 26 Agustus 2012. 

    Namun, Ketua Komisi Kepolisian Nasional ini mengaku belum mengetahui secara detail bentrok yang terjadi tadi pagi. "Saya di luar kota, ke Polri saja," kata dia singkat. 

    Pagi tadi, setidaknya sepuluh rumah milik warga penganut Syiah di Dusun Nangkernang, Desa Karanggayam, Kecamatan Omben, Kabupaten 
    Sampang, dibakar oleh sekitar 200 orang dari kelompok anti Syiah. "Selain ada dua korban meninggal, kurang lebih ada sepuluh rumah yang dibakar. Kerugian lainnya belum tahu karena kami masih bersembunyi," kata sumber  Tempo di lokasi kejadian yang hanya bersedia ditulis namanya dengan inisial HI, Minggu petang, 26 Oktober 2012.

    HI mengatakan, saat ini puluhan warga Syiah di Nangkernang telah dievakuasi di Madrasah Karanggayam. Namun, beberapa warga masih bersembunyi ke rumah-rumah warga di luar Dusun Nangkernang. "Listrik mati, kondisi mencekam. Ada informasi pembakaran rumah akan berlanjut pada malam hari nanti," ujarnya. 

    Menurut HI, penyerangan yang dilakukan oleh kelompok anti Syiah berawal dari penghadangan dua mobil yang akan mengangkut anak-anak remaja dari
    komunitas Syiah yang akan kembali melanjutkan aktivitas bersekolah ke pondok pesantren di Pasuruan usai libur lebaran. "Setelah menghadang mobil yang akan berangkat mereka kemudian menuju rumah istri Tajul Muluk," HI 
    memaparkan.

    Karena ratusan warga kelompok anti Syiah akan menyerbu rumah istri Tajul Muluk, maka sekitar 20 orang pengikut Tajul Muluk datang untuk  menyelamatkan keluarga Tajul. Saat itulah pelemparan batu, pembakaran dan perkelahian terjadi. Istri Tajul Muluk beserta dua anaknya dan ibu Tajul  Muluk saat itu tinggal di dapur pasca rumahnya dibakar oleh kelompok anti Syiah Sampang pada akhir Desember 2011 lalu. "Polisi sudah mulai berdatangan dan saat ini berjaga-jaga," tutur HI pula.

    ARYANI KRISTANTI

    Berita Terpopuler:
    Yang Terjadi di Kamar Itu Saat Harry Difoto Bugil

    Ahok: Hebat kan, Saya Jadi Koboi

    Ribuan Orang Padati Halal Bihalal Jokowi-Ahok

    Artis-artis Ini Dukung Jokowi-Ahok

    Hashim : Jokowi-Basuki akan Bantu Prabowo di 2014

    Rp 9,5 M Tak Cukup Buat Harry Tampil Bugil

    Quraish Shihab, Si Pengubah Dunia

    Jokowi Mengaku Tak Gentar Hadapi "Gajah"

    Sosial Media di Mata Jokowi

    Kalla: Isu SARA Pilkada DKI Bahayakan Bangsa


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?