Wawancara Tempo dengan Hartati Murdaya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Direktur PT. Hardaya Inti Plantation, Siti Hartati Murdaya. TEMPO/ Nita Dian

    Presiden Direktur PT. Hardaya Inti Plantation, Siti Hartati Murdaya. TEMPO/ Nita Dian

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi telah menetapkan Siti Hartati Murdaya, Presiden Direktur PT Hardaya Inti Plantations, sebagai tersangka dalam kasus suap Bupati Buol, Sulawesi Tengah. Anggota Dewan Pertimbangan Partai Demokrat ini diduga menyuap Bupati Buol, Amran Batalipu, senilai Rp 3 miliar untuk pengurusan hak guna lahan sawit dua perusahaannya. Amran sendiri sudah lebih dulu dijadikan tersangka.

    Hartati berkunjung ke Tempo, Selasa, 7 Agustus 2012, dan menjelaskan kasus tersebut. Berikut petikan wawancaranya.

    Kasus Buol itu sebenarnya bagaimana?
    Kasus Buol ini membuat saya sendiri terkejut karena perkebunan sawit saya di sana sudah saya serahkan ke orang yang sudah 30 tahun bekerja (Totok Lestiyo, Direktur PT Hardaya Inti Plantations).

    Lalu, bagaimana ceritanya sampai Bupati Buol Amran Batalipu bisa meminta uang ke Anda?
    Waktu Amran telepon minta uang, sebetulnya yang ditelepon Totok. Tapi Totok tidak berani menolak Amran, dia lalu kasih ke saya. Bupati minta uang untuk pemilihan kepala daerah. Mintanya banyak…. Itu untuk pilkada Juli 2012, tapi dia mintanya sejak tahun lalu.
    Waktu itu saya tidak kasih, karena lebih baik uangnya saya kasih ke karyawan, jadi gaji mereka naik.

    Tapi ada rekaman Anda dengan Bupati Buol?
    Jadi, begini. Prinsipnya, saya barter. Minta Rp 3 miliar, saya minta tiga paket. Permintaan saya itu sulit dan tidak masuk akal, tapi ya saya minta saja. Permintaan saya itu adalah, pertama, saya minta semua janji pemerintah. Pada 1993 kan pemerintah berjanji, kalau saya mau berinvestasi sawit di Kawasan Timur Indonesia, saya diberi lahan 75 ribu hektare dan dipermudah perizinannya.

    Kedua, lahan 75 ribu hektare itu semuanya ada hak guna usaha (HGU). Ketiga, batalin izin lahan sawit yang diberikan kepada Artalyta Suryani alias Ayin, karena lahan itu merupakan tanah sengketa.

    Ya, saya sudah mencoba menolak halus dengan meminta barter itu. Nah, habis itu kan saya sibuk sebagai Presiden Direktur, sedangkan hariannya kan diurus Totok. Jadi, saya tidak tahu juga dia ngeluarin duit berapa untuk si Amran. Saya tidak tahu. Nah, saya gak tau lagi, sampai akhirnya ada orang perusahaan bilang orang kami ditangkap KPK.

    Apa hubungan Anda dengan Artalyta?
    Besan, anak saya yang laki-laki menikah dengan anak Ibu Ayin yang perempuan.

    Perkara tanah dengan Artalyta itu bagaimana ceritanya?
    Tanahnya sudah masuk dan mepet ke tempat kita, malah sekitar 4,5 ribu hektare yang belum disertifikat, belum dapat izin hak guna usaha, mau dia ambil juga. Jadi, dia dapat jatah 70 ribu hektare. Kalau saya kan dapat 75 ribu hektare. Si Ayin ini sepertinya mau masuk ke situ karena daerah yang dia dapat itu gunung-gunung. Dia nyari yang datar, dan itu di tempat kami. Jadi, sejak Januari, tempat kami diduduki.

    FRANSISCO ROSARIANS

    Berita Terkait:
    Hartati Tersangka, Demokrat Pasrah
    Profil Hartati, Cerdik Mencari Sandaran
    Hartati Tersangka, Begini Komentar Istana
    Walubi Tak Terpengaruh Penetapan Tersangka Hartati
    Potret Siti Hartati Murdaya dalam Kasus Buol
    Bukti Kuat, KPK Tetapkan Hartati Jadi Tersangka


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.