Minggu, 18 November 2018

Pembela Terdakwa Penyerang Desa Beteleme Tolak Kesaksian

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Palu: Sidang lanjutan kasus penyerangan Desa Beteleme, Kecamatan Lembo, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah berlangsung Rabu (28/4) di Pengadilan Negeri Palu. Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang dipimpin Edi Dikdaya mengajukan dua saksi, yaitu Kapolsek Lembo Johanis S. Paleleng dan anggota Serse Polres Poso, Felly dengan dua orang terdakwa, yaitu Asnan Hadi dan Gufron bin Amaq Hamdan alias Guf.Menurut saksi, saat terjadinya peristiwa penyerangan 10 Oktober 2003, ia masih berada di Polres Poso. Ia mengetahui adanya kerusuhan yang menyebabkan dua korban tewas dan puluhan rumah dibakar, setelah menerima telepon dari anak buahnya di Polsek Lembo. "Jadi, saat terjadinya peristiwa itu saya tidak berada di Beteleme," kata saksi. Menjawab pertanyaan penasihat hukum, saksi Johanis Paleleng mengatakan, sebelumnya dia sudah mengenal Gufron sebagai tukang ojek di Desa Pawaru, Kecamatan Lembo. Saat terjadinya peristiwa itu Gufron bertindak sebagai pengantar makanan, tapi ia tidak mengetahui kepada siapa terdakwa mengantarkan makanan itu. "Saya mengetahui terdakwa yang mengantarkan makanan setelah membaca Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang saya tandatangani," katanya.Johanis menjelaskan, dari BAP yang ia baca, diketahui bahwa kelompok penyerang itu berjumlah 17 orang. Mereka datang dari Tojo menuju Kolonodale, Ibukota sementara Kabupaten Morowali. Dengan ojek, mereka menuju Desa Pawaru. Di desa tersebut, kelompok yang dipimpin Ibnu alias Madong ini, sempat berlatih perang selama dua hari. Setelah itu, mereka kembali ke Kolonodale, dan hari Jumat tanggal 10 Oktober sekitar pukul 24.00 Wita, mereka menyerang ke Desa Beteleme.Sementara itu, saksi Felly bersaksi mengetahui ada penyerangan setelah menerima laporan dari Polsek Lembo. ?Tapi, saya tidak tahu bagaimana kejadian sebenarnya,? kata Felly.Saat itu, katanya, ia termasuk salah seorang yang ditugasi mengejar para pelaku ke hutan sekitar Desa Pawaru. Mereka mengejar para pelaku, karena menerima laporan masyarakat, mereka melihat ada sekitar 15 orang bersenjata menuju ke hutan. Saksi Felly juga mengatakan selain Gufron, yang bertugas mengantar makanan kepada kelompok tersebut adalah Asnan Hadi. "Saya tahu bahwa di rumah Asnan Hadi dijadikan sebagai tempat memasak untuk kelompok penyerang tersebut," kata saksi. Namun, kesaksian Felly dibantah oleh terdakwa Asnan Hadi. Menurut Asnan, dialah yang melapor kepada Kepala Desa Pawaru mengenai adanya kelompok penyerang itu. Sedangkan terdakwa Gufron mengaku mengantarkan makanan ke kelompok penyerang. "Saya tidak tahu kepada siapa makanan tersebut saya antar. Saya hanya disuruh saja, setelah itu saya pulang lagi ke rumah," jelasnya.Andi Makkasau, salah seorang pengacara yang mendampingi para terdakwa, kepada wartawan mengatakan, kesaksian tersebut sangat lemah, karena hanya mengetahuinya setelah membaca BAP dan tidak mengetahui langsung peristiwa penyerangan. TPM meminta agar JPU menghadirkan saksi korban terlebih dahulu sebelum mengajukan saksi penyidik. Bahkan, katanya, kesaksian kedua anggota polisi itu tidak boleh dijadikan alasan untuk menghukum kedua terdakwa (Asnan Hadi dan Gufron bin Amaq Hamdan).Sidang selanjutnya pada 5 Mei 2004.Darlis - Tempo News Room

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.