JK: Apa Urusan Golkar Tegur Saya!  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (ki-ka) Ketua Dewan Pakar Partai Nasdem Harry Tanoesudibjo, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan Ketua Dewan Pembina Ormas Nasdem Surya Paloh saat menghaduru acara

    (ki-ka) Ketua Dewan Pakar Partai Nasdem Harry Tanoesudibjo, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan Ketua Dewan Pembina Ormas Nasdem Surya Paloh saat menghaduru acara "Apel Besar Baret Garda Pemuda Ormas Nasional Demokrat" yang berlangsung di pelataran Tugu Monas, Jakarta, Minggu (03/06). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Politikus senior Golkar, Jusuf Kalla, mengatakan partainya tidak menegur dia atas kedekatannya dengan partai lain. Mantan wakil presiden itu pada Selasa, 24 Juli 2012 kemarin diketahui menghadiri undangan buka puasa bersama dengan petinggi Partai Nasional Demokrat. Dalam acara itu ada Surya Paloh dan Harry Tanoesoedibyo.

    "Apa urusan Golkar tegur saya!" kata Jusuf Kalla ketika mengunjungi Palang Merah Indonesia DKI Jakarta, Jumat, 27 Juli 2012. JK, begitu ia biasa disapa, belum memastikan maju dari partai mana. Ia enggan berkomentar mengenai pencalonan presiden untuk 2014.

    Sebelumnya, Wakil Ketua DPP Golkar Agung Laksono mengatakan, Jusuf Kalla tidak perlu keluar dari partai beringin. "JK itu aset penting," kata Agung ketika ditemui seusai rapat koordinasi mengenai Morotai di Kementerian Perhubungan, Rabu kemarin.

    Agung menepis kalau Jusuf Kalla akan dicalonkan menjadi presiden dari partai lain. Lebih spesifik lagi, Agung membantah kemungkinan JK dicalonkan oleh Partai Nasional Demokrat. "Buka bersama bukan berarti akan dicalonkan," kata Menteri Kooordinator Kesejahteraan Rakyat ini. Lagipula jika pun dia resmi diajukan partai lain, menurut Agung, Golkar tidak bisa langsung memecatnya.

    Berdasarkan hasil keputusan rapimnas  pada 2011 lalu, kesempatan JK maju ke RI 1 dari Golkar sudah tertutup. Pasalnya, rapat pimpinan pada 1 Juli lalu tersebut memutuskan Aburizal Bakrie sebagai calon presiden pada pemilu 2014.

    Namun, dari survei yang dilakukan oleh Soegeng Sarjadi Syndicate, Jusuf Kalla meraih 14,9 persen suara, meninggalkan Aburizal Bakrie yang hanya 10,6 persen suara. Karena itu, tingginya popularitas dan elektabilitas Kalla dibanding Aburizal ini sempat merongrong pencalonan Aburizal menjadi calon dari Golkar.

    SUNDARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.