Umar Patek: Saya Bukan Anggota Jamaah Islamiyah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Umar Patek berbicara kepada wartawan setelah membaca pernyataan terakhirnya di pengadilan Jakarta Barat, 31-5, 2012. Umar Patek menjadi tersangka pembuat bom yang meledak di klub malam Bali pada tahun 2002, dan juga 13 bom yang meledak di lima gereja di Jakarta pada Malam Natal, 2000. REUTERS/Enny Nuraheni

    Umar Patek berbicara kepada wartawan setelah membaca pernyataan terakhirnya di pengadilan Jakarta Barat, 31-5, 2012. Umar Patek menjadi tersangka pembuat bom yang meledak di klub malam Bali pada tahun 2002, dan juga 13 bom yang meledak di lima gereja di Jakarta pada Malam Natal, 2000. REUTERS/Enny Nuraheni

    TEMPO.CO, Jakarta - Terpidana kasus Bom Bali I, Hisyam bin Ali Zein alias Umar Patek, tercatat ikut dalam pelatihan militer di kamp militer Jamaah Islamiyah di Hudaibiyah, Filipina. Lelaki bernama lain Umar Kecil ini gabung di pelatihan militer pada 1998. Namun, pada Mei 2012, kepada kedua wartawan Tempo, Riky Ferdianto dan Hermien Y. Kleden, Umar Patek menampik keanggotaannya itu.

    "Tidak, saya tidak pernah di Jamaah Islamiyah," kata Umar Patek.

    Jamaah Islamiyah merupakan organisasi militan Islam di Asia Tenggara. Berdiri sekitar 1969, Jamaah Islamiyah berupaya mendirikan negara Islam raksasa di wilayah Indonesia, Singapura, Brunei, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Di Indonesia, organisasi ini dinyatakan terlarang.

    Satu kegiatan teror yang dilakukan Jamaah Islamiyah adalah tragedi Bom Bali I pada 2002. Bom seberat 50 kilogram meledakkan Paddy's Pub dan Sari Club (SC). Akibatnya, 202 jiwa melayang dan 209 orang terluka. Dalam pengeboman itu, Umar Patek berperan merakit bom. Dialah yang melakban bahan peledak hingga tak mudah beterbangan.

    "Saya cuma anak buah di Bom Bali I," kata Umar Patek. "Karena keahlian saya merakit bom berdaya ledak rendah."

    Sebelum Bom Bali I, lulusan kamp pelatihan militer Afganistan pada 1990-an ini juga ikut terlibat dalam konflik di Ambon dan Bom Natal. Selain itu, Umar Patek juga pernah bergabung di Moro Islamic Liberation Front, Mindanao, pada 1995.

    Kini Umar Patek mendekam di penjara setelah majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat memvonisnya hukuman 20 tahun. Umar Patek dianggap bersalah karena sudah menghilangkan nyawa 202 orang dan melukai 209 orang di Bom Bali I.

    "Saya berharap vonis yang seadil-adilnya. (Putusan) bebas tidak mungkin. Saya ini bersalah, dan saya akui itu," ujar Umar Patek.

    CORNILA DESYANA

    Berita terpopuler lain:
    Begini Olga Setelah Ditegur Soal Assalamualaikum

    Mega: Kalau Mau Berantem, Kita Berantem

    Bocah Usia 11 Tahun Dilacurkan di AS

    Anas Mungkin Tak Akan Datang ke KPK

    Besok KPK Periksa Anas untuk Kasus Hambalang


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.