Rabu, 14 November 2018

Alasan ATC Menyetujui Sukhoi Turun ke 6.000 Kaki  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas mengatur dan mengawasi lalu lintas penerbangan di Menara Air Traffic Control (ATC) Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Petugas mengatur dan mengawasi lalu lintas penerbangan di Menara Air Traffic Control (ATC) Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Pesawat Sukhoi Superjet 100 menghantam dinding Gunung Salak, Jawa Barat, 9 Mei 2012, karena terbang di ketinggian rendah. Waktu itu, pilot Alesandr Yablontsev meminta restu menara ATC untuk menurunkan ketinggian hingga 4.000 kaki, dan pemandu mengaminkannya. Dengan kecepatan 290 knot atau 537 kilometer per jam, Sukhoi terlihat di radar menstabilkan diri pada ketinggian 6.100 kaki. Tak lama, Superjet ini hilang dari pantauan.

    Kata Pelaksana Harian General Manager Senior Air Traffic Services Bandar Udara Soekarno-Hatta, Mulya Abdi, alasan pemandu mengiyakan karena pesawat sudah di area latihan Atang Sendjaja. "Itu area bersih halangan," kata Mulya kepada Tempo, Kamis, 14 Juni 2012. "Saat itu tak ada pesawat lain. Mau turun ke 3.000 kaki juga pasti disetujui."

    Lalu mengapa Sukhoi menabrak Gunung Salak? Vice President Air Traffic Services PT Angkasa Pura II, Sutrisno Jaya Putra, mengatakan, sebelum celaka, Yablontsev telah membawa Sukhoi keluar dari area latihan. "Tanpa memberi tahu pemandu," ujarnya.

    Menurut Mulya, Superjet akan selamat jika tetap melayang di udara Atang Sendjaja. Pernyataan itu merujuk pada data, dalam kuartal pertama 2012, ada 263 pesawat berlatih di Atang Sendjaja. Dan semuanya kembali dengan selamat. "Bukan hanya pesawat kecil, tapi juga Boeing yang setara dengan Superjet," ujarnya.

    Sebelum tinggal landas, tiap pilot harus baca aeronautical information publication atau peta penerbangan dan paham akan tempat tujuannya. Bila sudah di udara, pilot diperbolehkan mengubah haluan melayangnya. Tapi pengubahan itu wajib sepengetahuan pemandu. "Tujuan awal Sukhoi adalah Pelabuhan Ratu, tapi cuma sampai Atang Sendjaja saja," ujar Mulya.

    Lalu apakah kecelakaan itu merupakan kesalahan pilot Yablontsev? Mulya menampiknya. Dia bilang, pemandu tak ingin menghakimi Aleksandr Yablontsev yang waktu itu membawa Sukhoi. "Biar KNKT (Komisi Nasional Keselamatan Transportasi) menjawab," ujarnya.

    CORNILA DESYANA | MAJALAH TEMPO


    Berita Terkait

    Sukhoi Hilang Kontak di Ketinggian 6.000 Kaki

    Sukhoi Superjet-100 Hilang Sekitar Gunung Salak

    Sukhoi yang Hilang Kontak untuk Perkenalan Pesawat Baru

    8 Penumpang Sukhoi Warga Rusia

    Sukhoi L100 Hilang dari Radar Masih Dicari


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?