Sukhoi Menabrak Setelah Menembus Kumulonimbus

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Helikopter Super Puma melintas di atas Gunung Pangranggo untuk melakukan evakuasi di Gunung Salak, Jawa Barat, Sabtu (12/05). Tim gabungan Pencari dan Penyelamat (Search and Rescue/SAR) hari ini melakukan evakuasi jenazah korban-korban kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 yang jatuh pada hari Rabu tanggal 9 Mei 2012. TEMPO/Seto Wardhana

    Helikopter Super Puma melintas di atas Gunung Pangranggo untuk melakukan evakuasi di Gunung Salak, Jawa Barat, Sabtu (12/05). Tim gabungan Pencari dan Penyelamat (Search and Rescue/SAR) hari ini melakukan evakuasi jenazah korban-korban kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 yang jatuh pada hari Rabu tanggal 9 Mei 2012. TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.CO, Jakarta -- Penyebab kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 masih menjadi teka-teki. Namun, data menunjukkan pesawat menabrak lereng Gunung Salak setelah menembus awan tebal kumulonimbus. 

    Hal itu terungkap dari laporan utama majalah Tempo edisi 14 Mei 2012 yang berjudul "Setelah Menembus Awan Kumulonimbus". Pucuk Gunung Salak, yang terlihat biru pada hari cerah, Rabu siang itu tak terlihat sama sekali dari pusat kota. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional bahkan melaporkan awan menutup total puncak gunung. "Pukul 14.33 itu cuaca di sana sangat buruk," kata juru bicara lembaga itu, Elly Kuntjahyowati.

    Pada Rabu siang itu, di atas gunung terbentang awan kumulonimbus sepanjang lima kilometer dan setinggi delapan kilometer. Awan supertebal yang menandai bakal turun hujan dan petir ini melayang 6.000 kaki di atas permukaan laut.

    Profesor Riset Astronomi Astrofisika, Thomas Djamaluddin, mengatakan berdasarkan Data Multifunctional Transport Satellites (MTSAT) sekitar waktu kejadian awan di sekitar Gunung Salak tampak sangat tebal dengan tingkat kerapatan lebih dari 70 persen. Ketinggian awan kumulonimbus ini bahkan menjulang tinggi sampai sekitar 37.000 kaki. 

    Kondisi cuaca inilah yang membedakan penerbangan pertama Superjet dengan penerbangan berikutnya. Selain menambah jarak tempuh, pada penerbangan kedua, cuaca terlalu ekstrem. "Pada penerbangan pertama tak ada manuver dan cuaca cerah," kata Sunaryo, konsultan PT Trimarga Rekatama, perusahaan rekanan Sukhoi di Indonesia.

    Pilot Sukhoi Alexandr Yablonstev diduga menurunkan pesawat untuk menghindari awan tebal itu. Ia masuk ke bawah awan, lalu naik menghindari tebing. Nahas. Pesawat tak terkendali dan menumbuk tebing yang menganga di depannya. Dar! Superjet itu menghantamnya tanpa sempat berbelok. (Baca juga: Sukhoi Superjet Sempat Memutari Gunung Salak)

    Mulya Budi Deputi Senior General Manager Air Traffic Control Soekarno-Hatta, menolak membeberkan detail percakapan Yablonstev ataupun kopilotnya dengan menara pengatur lalu lintas udara di Cengkareng. Percakapan itu penting karena Gunung Salak berada di luar training area, yang mengharuskan pilot melaporkan apa pun tindakannya di langit.

    Seperti umumnya penerbangan promosi, penerbangan siang itu seharusnya dibuat senyaman mungkin bagi para calon pembeli yang menumpang. Karena itu, agar pesawat tetap terkendali ketika bermanuver untuk menunjukkan kehebatannya, pilot akan menerbangkannya hanya di wilayah yang aman. "Namanya juga joy flight, penerbangan gembira," kata I Gusti Ketut Susila, Presiden Indonesia Air Traffic Controllers Association.

    Petugas lalu lintas udara Cengkareng tak mengabarkan ada kumulonimbus karena radar di menara kendali itu bukan pemantau cuaca. Karena itu, kondisi lapangan, kata Susila, sepenuhnya menjadi tanggung jawab pilot. "Petugas akan memperingatkan ada halangan, berikutnya perlu dihindari atau bisa dilalui setelah mendapat laporan pilot," ujarnya.

    Sunaryo memastikan pengecekan peta dan kontur jalur sudah dilakukan pilot sebelum terbang. Ketinggian Gunung Salak dan peringatan cuaca buruk sudah dihitung Yablonstev saat masih di Halim. Dengan bobot terbang 45 ton, pesawat ini didesain masih bisa dikendalikan dalam cuaca buruk.

    Menurut Chappy Hakim, pilihan lazim para pilot jika menghadapi dinding awan tebal adalah menghindar dengan naik ke atasnya. "Kenapa dia turun, jawabannya terekam di kotak hitam," kata Chappy, yang punya pengalaman 8.000 jam terbang. Analisis kotak hitam memakan waktu bulanan, bahkan tahunan.

    BAGJA HIDAYAT | PRAMONO | AYU CIPTA | ANGGA SUKMA | RINA WIDIASTUTI |ANWAR SISWADI

    Berita Terpopuler Lainnya: 
    Sukhoi Superjet Sempat Memutari Gunung Salak 
    ATC Membantah Terbang di Indonesia Seperti Neraka  
    Sukhoi Jatuh, Kesalahan Pilot? 
    Jibaku Eko Mencari Sukhoi 
    Chappy: ATC Indonesia Sudah Ketinggalan 
    Perempuan Cantik dan Perempuan Tua di Gunung Salak


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gerhana Bulan Parsial Umbra Terakhir 2019

    Pada Rabu dini hari, 17 Juli 2019, bakal terjadi gerhana bulan sebagian. Peristiwa itu akan menjadi gerhana umbra jadi yang terakhir di tahun 2019.