Pilot Sukhoi itu Baru Pertama Terbang di Indonesia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pilot Sukhoi Superjet-100 Alexander Yablontseva (kiri) dalam penerbangan dari Myamnar menuju Indonesia. sergeydolya.livejournal.com

    Pilot Sukhoi Superjet-100 Alexander Yablontseva (kiri) dalam penerbangan dari Myamnar menuju Indonesia. sergeydolya.livejournal.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Aleksandr Yablontsev, pilot Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di kawasan Gunung Salak pada Rabu, 9 Mei 2012 lalu, baru pertama kali menerbangkan pesawat di wilayah Indonesia. Sebagai pilot senior, ia sudah malang-melintang membawa berbagai jenis pesawat. "Di Indonesia, ia baru pertama kali," kata Sunaryo, konsultan bisnis PT Trimarga Rekatama sekaligus agen penjualan Sukhoi di Indonesia, Kamis 10 Mei 2012.

    Menurut Sunaryo, sebelum peristiwa nahas, pilot Yablontsev dan kopilot Aleksandr Kochetkov melakukan preparation flight dan between flight (persiapan penerbangan) masing-masing selama 30 dan 35 menit. Persiapan penerbangan singkat itu dilakukan di sekitar Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

    Dalam penerbangan itu, kata dia, kru pesawat memastikan semuanya dalam keadaan bagus. "Sinyal pesawat bagus, wing-nya bagus, kokpit bagus, dan indikator-indikatornya menyala," ucap Sunaryo.

    Sunaryo menyebutkan, rekam jejak pilot Rusia cukup baik. "Track record-nya bagus," katanya. Adapun kondisi Sukhoi, sebelum tiba di Indonesia terlebih dulu menempuh perjalanan dari Rusia ke Kazakhstan, Pakistan, dan Myanmar.

    ATMI PERTIWI | EVAN-PDAT | DARI BERBAGAI SUMBER

    Berita terkait
    Sebelum Hilang, Pilot Sukhoi Kontak Bandara Soetta
    Sukhoi yang Jatuh Andalan Rusia
    Trimarga Akui Ada Pelanggaran Prosedur Joy Flight 
    Persiapan Pilot Sukhoi Dipertanyakan 
    KNKT Selidiki Izin Sukhoi Turunkan Ketinggian 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.