Selasa, 23 Oktober 2018

Gunung Salak Rawan buat Pesawat Kecil

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Areal persawahan di perbukitan Gunung Salak, Cidahu, Sukabumi, Jawa Barat. TEMPO/Imam Sukamto

    Areal persawahan di perbukitan Gunung Salak, Cidahu, Sukabumi, Jawa Barat. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat penerbangan sekaligus pilot pesawat nonkomersial, Alvin Lie, mengatakan di daerah Gunung Salak sering terjadi kabut. Cuaca buruk ini bisa menyebabkan turbulensi sehingga pesawat tidak stabil. Menurut dia, gunung di perbatasan Bogor-Sukabumi ini rawan untuk pesawat ukuran kecil.

    Ia menyatakan kerap melakukan penerbangan sebagai pilot di sekitar Gunung Salak. Namun, jika sedang mengemudikan pesawat ukuran kecil, ia memilih menghindari daerah itu. “Saya memilih menghindari pegunungan jika terbang dengan pesawat kecil,” kata Alvin kemarin.

    Di kawasan Gunung Salak, dari 1998 sampai sekarang, terjadi delapan kecelakaan pesawat. Jumlah korban tewas mencapai 34 orang. Angka ini tak termasuk insiden Sukhoi.

    Mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Amanat Nasional ini menyatakan kaget atas jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 yang hilang kontak kemarin. “Sukhoi bukan pemain kemarin sore. Semestinya tidak ada masalah,” ujar Alvin. Menurut dia, mesin pesawat tersebut seharusnya tidak bermasalah untuk terbang di sekitar Gunung Salak, Jawa Barat.

    Pesawat Sukhoi, kata Alvin, dilengkapi dengan radar cuaca. Dengan radar tersebut, dia menuturkan, pilot Sukhoi mampu melihat apakah awan di depan dalam kondisi aktif atau tidak. Di samping itu, pesawat tersebut dilengkapi teknologi untuk mendeteksi lokasi daratan.

    Alvin menyatakan, jika pilot Superjet 100 melakukan manuver sekalipun, seharusnya tidak ada masalah. Dengan kondisi satu mesin mati pun, Sukhoi Superjet 100, menurut dia, masih dapat terbang dengan stabil. Begitu pula dalam kondisi cuaca buruk. Berdasarkan pengetahuan Alvin, pesawat Superjet 100 dapat tetap terbang dengan baik dalam kondisi cuaca yang tidak bersahabat.

    Seorang pilot pesawat komersial asing yang beroperasi di Indonesia punya pengalaman berbeda dengan Alvin Lie. Ia menganggap wilayah udara di sekitar Gunung Salak tidak berbahaya untuk dilalui. “Sebenarnya masih lebih tinggi Gunung Putri, yaitu 7.300 kaki,” ujarnya kepada Tempo kemarin. Menurut dia, Sukhoi memproduksi pesawat-pesawat yang selalu dilengkapi dengan teknologi pemberi peringatan.

    MARIA YUNIAR | SUNUDYANTORO

    Berita Terkait
    Seluruh Penumpang Sukhoi Superjet Diasuransikan
    Sukhoi Kemungkinan Jatuh di Cidahu
    Fotografer Angkasa Terakhir Kontak Tadi Siang
    Fakta Soal Sukhoi Superjet-100
    Batal Naik Sukhoi, Suharso Monoarfa Selamat
    Sukhoi Superjet Hilang, TNI AU Tak Ikut Mencari
    Dua Wartawan Majalah Commando Ikut Sukhoi
    4 Jam Terbang, Sukhoi Superjet Diduga Jatuh
    Batal Naik Sukhoi, Suharso Monoarfa Selamat


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.