Senin, 23 Juli 2018

RI Lanjutkan Pembelian Kapal Perang dari Brunei  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah  pasukan TNI angkatan Darat berjaga-jaga saat kapal perang angkatan Laut India INS Ranjit D53  sandar di Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar, Minggu (10/3). TEMPO/Iqbal Lubis

    Sejumlah pasukan TNI angkatan Darat berjaga-jaga saat kapal perang angkatan Laut India INS Ranjit D53 sandar di Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar, Minggu (10/3). TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Surabaya -- Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan pemerintah akan tetap melanjutkan rencana pembelian tiga buah kapal perang jenis light fregat dari Angkatan Laut Kesultanan Brunei Darussalam. Menurut dia, kapal-kapal itu dibeli untuk memenuhi permintaan TNI Angkatan Laut dalam memperkuat pertahanan.

    Purnomo mengatakan light fregat buatan Inggris ini memiliki teknologi super canggih. Meskipun kapal-kapal itu relatif kecil, tapi mampu melakukan serangan udara, serangan atas permukaan, serta serangan bawah air. "Angkatan Laut meminta itu untuk bisa dibeli karena itu adalah light fregat yang sangat modern sekali," kata Purnomo seusai menghadiri sebuah acara di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Surabaya, Rabu, 9 Mei 2012.

    Proses pembelian kini tengah dibahas. Pemerintah telah membentuk tim gabungan yang terdiri dari Komisi Pertahanan DPR, TNI Angkatan Laut, serta dari Kementerian Pertahanan. Mereka saat ini sedang melakukan proses negosiasi mengenai harga serta melihat langsung spesifikasi khusus yang dimiliki kapal-kapal tersebut.

    Sekedar diketahui, rencana pembelian tiga buah light fregat dari Angkatan Laut Brunei ini menuai banyak kritikan. Kapal Brunei ini sebenarnya dipesan oleh Brunai dari Inggris sejak tujuh tahun silam. Namun, setelah diserahterimakan ke Brunei, langsung dijual lagi dengan alasan tidak sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan Angkatan Laut Brunei.

    Menjawab hal tersebut, Purnomo mengatakan belum tentu kapal yang tidak diperlukan oleh Brunei tidak bisa digunakan oleh Indonesia. "Kan, ada alasan kenapa Brunei waktu itu tidak jadi beli. Jadi suatu negara tidak jadi beli belum tentu negara lain juga tidak membeli, mesti ada alasan-alasan yang mendasari dan mungkin itu berbeda alasannya begitu. Makanya sekarang sedang ditinjau sedang di-apraisial, sedang dievaluasi oleh tim ke sana," kata Purnomo.

    FATHURROHMAN TAUFIQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Zainul Majdi Memihak Prabowo di Pilpres 2014, Kini Memilih Jokowi

    Tuan Guru Bajang Zainul Majdi memberi dukungan pada Jokowi untuk Pemilihan Presiden 2019. Padahal ia dan dua tokoh ini sebelumnya mendukung Prabowo.