Jumat, 16 November 2018

Goenawan Mohamad Tidak Cemarkan Nama Tomy Winata

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Saksi ahli di persidangan perkara gugatan Tomy Winata terhadap Goenawan Mohamad dan Koran Tempo, Masmimar Mangiang, mengatakan pernyataan Goenawan Mohamad di Koran Tempo, 12 dan 13 Maret 2003 tidak merugikan siapapun, termasuk Tomy Winata. Hal itu ia tegaskan saat menjawab pertanyaan Ketua Majelis Hakim Zainal Abidin Sangadji, di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (26/2). Masmimar Mangiang, 55 tahun, pakar ilmu Komunikasi dari Univesitas Indonesia, mengatakan, pernyataan Goenawan Mohamad saat itu sama sekali tidak memberikan makna bahwa Tomy Winata adalah preman. "Sesuai dengan (struktur) kalimatnya, kalimat itu tidak menyamakan Tomy Winata dengan preman," ujar dosen Universitas Indonesia itu. Kalimat yang dimaksud adalah, "Jangan sampai Republik Indonesia jatuh ke tangan preman, juga ke tangan Tomy Winata." Kalimat itu diucapkan Goenawan Mohamad usai mendatangi Kapolri, bersama beberapa tokoh nasional seperti Ketua PP Muhamadiyah Syafi'i Ma'arif, Todung Mulya Lubis, Lin Che Wei, Komaruddin Hidayat, Andi F Noya, dan lain-lainnya, berkaitan dengan penyerangan kantor majalah Tempo. Pernyataan itu kemudian dikutip Koran Tempo dan media lainnya. Namun, Tomy Winata menganggap pemuatan pernyataan Goenawan di Koran tempo adalah suatu bentuk penghinaan dan pencemaran nama baiknya. Tomy mengaku akibat pemuatan berita itu, ia dirugikan secara ekonomi karena kontrak bisnisnya berupa rencana pembuatan pabrik tepung di Sulawesi, batal.Menurut Masmimar, kata 'juga' dalam pernyataan Goenawan Mohamad adalah sebagai konjungsi yang memberikan fungsi alternatif. Marsimam mencontohkan kalimat "Saya jualan parfum, juga jualan bensin." Masmimar mengatakan, 'parfum' dan 'bensin' adalah kata yang sama sekali berbeda. "Kedudukan mereka setara, sebagai unsur kata, namun, maknanya jelas berbeda," jelas Masmimar.Oleh karenanya, pernyataan Goenawan juga tidak memberikan makna buruk terhadap Tomy Winata, karena antara 'preman' dan Tomy adalah unsur yang terpisah. Lain halnya, bila kata 'juga' diganti dengan kata 'apalagi'. "Kata 'apalagi' dalam kalimat itu, akan memberikan makna Tomy lebih buruk dari preman," ujar Masmimar. Hal itu, kata Masmimar dapat dilihat dalam buku tata bahasa yang disusun para ahli bahasa dan diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Lebih jauh, Masmimar mengatakan pernyataan Goenawan Mohamad itu bermakna penolakan, agar Republik Indonesia tidak dikuasai preman maupun Tomy Winata. Namun, penolakan itu tidak dapat ditafsirkan sebagai pernyataan yang bermaksud mencela Tomy. Pasalnya, maksud dibalik penolakan Goenawan tidak dikatakan dan hanya diketahui Goenawan sendiri. "Siapa yang bisa melihat isi hati orang," kata Masmimar, pengajar di Lembaga Pers Dr Soetomo itu.Sementara itu, Deswal Arief, pengacara Tomy Winata, mempersoalkan kepatutan penulisan pernyataan Goenawan di Koran Tempo yang dimuat dua hari berturut-turut. "Padahal, Tomy Winata telah membantahnya, di hari pertama," kata Deswal. Namun, Hal itu juga dibantah saksi ahli yang mengatakan bahwa bantahan Tomy Winata adalah bantahan keterlibatannya dalam aksi penyerangan di kantor majalah Tempo. Sedangkan pernyataan Goenawan yang dimuat adalah pendapat pribadi Goenawan yang bagi koran Tempo adalah sebuah fakta.Indra Darmawan - Tempo News Room

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.