Rabu, 24 Oktober 2018

Dekat dengan Bos Artha Graha? Ini Kata Miranda  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Miranda S. Goeltom sebelum menjalani pemeriksaan di Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Selasa (10/01).. TEMPO/Seto Wardhana.

    Mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Miranda S. Goeltom sebelum menjalani pemeriksaan di Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Selasa (10/01).. TEMPO/Seto Wardhana.

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Gubernur Senior Bank Indonesia, Miranda Swaray Goeltom, yang menjadi tersangka kasus suap cek pelawat, akhirnya buka suara soal kedekatannya dengan pihak PT Bank Artha Graha Tbk.

    Miranda mengaku tidak kenal dengan pemilik Bank Artha Graha. “Siapa pemiliknya?” katanya kepada Tempo, Jumat pekan lalu. “Saya tidak tahu.”

    Dia mengaku hanya kenal dengan Wisnu Tjandra, Wakil Direktur Utama Bank Artha Graha. Namun hubungan itu hanya sebatas antara relasi bankir dan otoritas bank sentral. “Dia selalu aktif di pertemuan bankir dengan pejabat Bank Indonesia.”

    Miranda memastikan dirinya tidak tahu-menahu soal cek pelawat yang telah mengantarkan 29 anggota Komisi Keuangan dan Perbankan DPR periode 1999-2004 ke penjara. “Saya tidak pernah melihat cek itu,” katanya. “Apalagi berhubungan dengan orang yang membagikannya.”

    KPK telah menetapkan Miranda dan Nunun Nurbaetie sebagai tersangka. Istri mantan Wakil Kepala Polri Adang Daradjatun itu diduga berperan menyebarkan 480 lembar cek pelawat bernilai Rp 24 miliar kepada puluhan anggota Dewan Perwakilan Rakyat periode 1999-2004 terkait pemenangan Miranda Swaray Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.

    Bank Artha Graha diduga terlibat dalam kasus Nunun. Sebab cek pelawat tersebut dipesan oleh Artha Graha dari Bank Internasional Indonesia atas permintaan Budi Santoso. Dari dokumen Tempo, Budi memerintahkan Artha Graha membeli cek pelawat di Bank Internasional Indonesia pada 8 Juni 2004. Kuasa hukum Artha Graha, Otto Hasibuan, membenarkan kliennya mengeluarkan 480 lembar cek.

    Adapun mantan Ketua Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Yunus Husein, menuding sponsor atau cukong yang mendanai cek pelawat pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia 2004 berasal dari bank bermasalah.

    "Logikanya sudah mengarah ke bank bermasalah, tapi hukum membutuhkan bukti," kata Yunus Husein.

    Meski begitu, Yunus menolak membeberkan bank bermasalah yang dimaksud. Saat ditanyai, ia hanya menceritakan kesaksian Budi Santoso, Direktur Keuangan PT Firs Mujur Plantation & Industri, yang tertera dalam dokumen pemeriksaan.

    Budi, kata dia, mengaku mendapatkan kredit Rp 24 miliar berupa cek pelawat dari Bank Artha Graha. Cek itu berasal dari Bank Internasional Indonesia yang dibeli oleh Artha Graha. "Jadi Anda simpulkan saja (cerita) itu," kata Yunus.

    Kasus cek pelawat menjerat Miranda Swaray Goeltom sebagai tersangka. Kasus ini terjadi saat Miranda menang telak dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior di DPR 2004 silam.

    Di balik kemenangan itu, Miranda diduga berperan menyuap para politikus dengan cek pelawat. Cek tersebut berasal dari Bank Arta Graha yang dipesan oleh PT Firsh Mujur untuk membeli lahan di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Cek itu kemudian melayang ke politikus melalu perantara Ari Malangjudo, Direktur Wahana Esa Sejati.

    Menurut Yunus, dugaan bahwa cukong cek pelawat ini berasal dari bank bermasalah diperkuat oleh salah seorang deputi gubernur yang dimintai keterangan saat dirinya masih menjabat Ketua PPATK.

    Deputi gubernur yang dirahasiakan identitasnya itu mengatakan bank bermasalah itu memerlukan orang yang menduduki jabatan strategis di Bank Indonesia untuk memuluskan kepentingannya. "Baik mencari keuntungan di pasar modal, mencegah kerugian dalam mengambil kebijakan, serta memberi keringanan sanksi," ujar dia.

    Yunus pun mendorong agar Komisi Pemberantasan Korupsi bisa mengusut tuntas keberadaan bank bermasalah itu. "Kami sangat mendukung KPK dalam mengusut kasus ini," ujar dia.

    Sekretaris Jenderal Transparancy International Indonesia (TII) Teten Mazduki yang juga pembicara dalam eksaminasi kasus ini mendesak KPK mengungkap bank bermasalah itu. Termasuk dampak yang ditimbulkan setelah mereka berhasil memenangkan Miranda Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior. "KPK harus menumpas habis kasus ini," ujar dia.

    SETRI YASRA

    Berita Terpopuler
    Miranda Goeltom Diminta Kembalikan Gaji

    Empat Kali Miranda Goeltom Menangis

    Polisi: Korban Perkosaan 'di Angkot D01' Berbohong

    Cerita Miranda Goeltom tentang Orkestra Pribadinya

    Persib Vs Persija, Ribuan Bobotoh Serbu Stadion

    Jamuan Makan Malam di Dapur Miranda Goeltom

    Miranda Didik Anak Melupakan Masalah Jelang Tidur

    Mobil Chrysler Obama Dilelang Rp 9 Miliar


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Saham Lippo yang Jebol dan yang Melambung Dihantam Kasus Meikarta

    Jebloknya saham perusahaan-perusahaan Grup Lippo telah dimulai Selasa 16 Oktober 2018, sehari setelah KPK menangkap dan menetapkan Bupati Bekasi.