Pohon Natal dari Limbah Kayu dan Akar Jati  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tampak pekerja membuat pohon Natal dari limbah kayu dan akar pohon jati di sebuah usaha kerajinan di JDusun Ngubalan, Ngawi, Jawa Timur, Sabtu (24/12). TEMPO/ISHOMUDDIN

    Tampak pekerja membuat pohon Natal dari limbah kayu dan akar pohon jati di sebuah usaha kerajinan di JDusun Ngubalan, Ngawi, Jawa Timur, Sabtu (24/12). TEMPO/ISHOMUDDIN

    TEMPO.CO, Ngawi - Pohon Natal buatan biasanya dibikin dari bahan plastik dan sejenisnya. Namun pohon Natal yang satu ini dibuat dari limbah batang dan akar pohon jati. Kerajinan ini bisa dijumpai di usaha kerajinan di Jalan Raya Ngawi-Solo, Dusun Ngubalan, Desa Banjarbanggi, Kecamatan Pitu, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

    Di tempat ini, batang dan akar jati yang tidak terpakai dimanfaatkan dan dibentuk sedemikian rupa menjadi replika pohon cemara yang jadi lambang perayaan Hari Natal.

    Replika pohon cemara ini ada beberapa bagian mulai dari dasar atau kaki penyangga, batang, hingga daun. “Bagian-bagian itu dibuat dari potongan kayu dan akar jati, menyesuaikan bentuknya,” ujar pengusaha kerajinan kayu UD Java Alam Esa, Somo Midi, Sabtu, 24 Desember 2011.

    Setelah masing-masing bagian dibentuk atau dipahat, permukaan kayu dihaluskan dan dibersihkan dengan disemprot air. Untuk mempercantik, biasanya dipoles dengan cat atau vernis. “Tidak selalu dicat, sebab kadang ada yang minta masih mentah atau belum dicat,” katanya.

    Setelah lengkap, seluruh potongan dirangkai dan disambung dengan paku dan diperkuat lem kayu. Potongan-potongan dirangkai hingga menjadi replika pohon cemara yang mengerucut di puncaknya.

    Bahan kayu dan akar jati itu didapat dari pencari kayu di hutan. “Kami biasanya membeli dari pencari kayu atau mencari sendiri kayu atau akar yang terpendam atau yang sudah dibuang,” tuturnya.

    Tak sembarang kayu jati yang dipakai. “Rata-rata jati yang sudah berumur lebih dari sepuluh tahun karena lebih kuat dan awet,” ujar Somo. Produk pohon Natal dari kayu dan akar jati ini sudah dipasarkan di dalam negeri dan bahkan diekspor ke Eropa.

    Selain dipasarkan di Ngawi dan Madiun, pihaknya juga bekerja sama dengan distributor di beberapa kota, seperti Jepara, Yogyakarta, dan Bali. Bahkan oleh distributor di Jepara, produknya diekspor ke Belanda dan Prancis.

    Pohon Natal dari kayu dan akar jati ini dibentuk dengan berbagai ukuran tinggi, antara lain 40-50 sentimeter; 1-1,5 meter; hingga 2-3 meter. “Semakin besar ukurannya, harganya semakin mahal,” katanya. Untuk ukuran 40-50 sentimeter hanya dihargai Rp 50 ribu; 1 meter Rp 120 ribu; 1,5 meter Rp 230 ribu; 2 meter Rp 350 ribu; dan 3 meter Rp 1,25-1,5 juta.

    Harga produk ekspor dipatok lebih mahal 10 persen dari harga lokal. Dalam sehari, pekerja bisa membuat sampai empat buah replika untuk ukuran 40-50 sentimeter. “Sedangkan yang ukuran 1-3 meter hanya dibuat satu buah dalam sehari,” kata salah satu pekerja, Muyantoko. Total ada sekitar 15 pekerja yang bekerja bergantian.

    Permintaan selalu meningkat menjelang perayaan Natal tiap tahunnya. Bahkan, dalam bulan Desember ini, sudah dipasarkan 200-250 buah pohon yang diekspor ke Prancis dengan omzet Rp 22 juta.

    Sedangkan, pada bulan biasa, jumlah produksi tak lebih dari 100 buah dengan omzet Rp 7-10 juta. Pemesan pohon Natal dari kayu dan akar jati ini biasanya dari pengurus gereja, hotel, dan perseorangan. Oleh pemesan biasanya akan ditambah dengan aksesori hiasan.

    ISHOMUDDIN



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tahun-Tahun Indonesia Juara Umum SEA Games

    Indonesia menjadi juara umum pada keikutsertaannya yang pertama di SEA Games 1977 di Malaysia. Belakangan, perolehan medali Indonesia merosot.