Kamis, 15 November 2018

Komnas HAM: Tidak Ada Pemenggalan Kepala  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Istimewa

    Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan tidak ada peristiwa pemenggalan kepala yang terjadi di Desa Sodong, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Wakil Ketua Komnas HAM Ridha Saleh menyebutkan, dua warga yang tewas pada peristiwa 21 April 2011 lalu mengalami luka sayat dan diduga juga luka tembak. "Dari informasi masyarakat, tidak ada warga yang mengalami penggal kepala," ujar Ridha di ruang kerjanya, Jumat, 23 Desember 2011.

    Peristiwa yang masih menyisakan ketakutan bagi warga Sodong itu, menurut Ridha, berawal dari terbunuhnya dua warga. Mereka adalah Indra, 16 tahun, dan Saetu, yang merupakan paman Indra.

    Pada Kamis, 21 April 2011 itu, Saetu dan keponakannya pamit dari rumah untuk pergi membeli racun rumput. Keduanya meninggalkan rumah sekitar pukul 10.00 WIB menggunakan sepeda motor dengan melintasi jalan poros yang ada di lahan sawit milik PT SWA.

    Sekitar pukul 13.00, tiba-tiba keluarga dikejutkan dengan kabar--disampaikan oleh satu satu penduduk kampung--yang menyatakan Indra sudah meninggal. Keluarga bersama tokoh masyarakat segera menuju lokasi tempat ditemukannya jenazah Indra. Di lehernya terdapat bekas sayatan pisau. Sedangkan di tubuhnya terdapat tiga lubang, dua di dada, dan satu di pinggang. "Ada yang bilang itu bekas tembakan, tapi ada yang bilang bekas tusukan," ujar Ridha.

    Tak jauh dari lokasi tersebut, warga menemukan Saetu dalam kondisi sekarat. Ia mengalami luka tusuk di punggung dengan pisau masih menancap. Adik Saetu sempat menanyakan siapa yang melakukan penyerangan. Saetu menjawab, pelaku penusukan adalah anggota pasukan pengamanan masyarakat, satpam, dan aparat.

    Warga membawa Saetu ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Namun, sayang nyawanya tak tertolong. Adapun mayat Indra langsung dibawa pulang oleh warga.

    Menurut Ridha, dari temukan Komnas, lokasi pembunuhan Indra dan Saetu bukan berada di lokasi yang menjadi lahan sengketa. Saetu ditemukan di lahan milik PT SWA.

    Indra dan Saetu sebelumnya tidak pernah terlibat masalah dengan perusahaan. Hingga kini, masyarakat setempat masih bertanya-tanya apa motif di balik pembunuhan Indra dan Saetu.

    Sekitar satu jam setelah ditemukannya Indra dan Saetu, warga melakukan demonstrasi ke base camp PT SWA. Saat inilah, kata Ridha, terjadi perusakan terhadap fasilitas perusahaan. Lima orang dari pihak pengamanan perusahaan terbunuh. Informasi ini berdasarkan hasil laporan kepolisian setempat dan pemerintah daerah. "Tapi, masyarakat mengaku sama sekali tidak melakukan perusakan dan hanya melakukan demonstrasi," kata Ridha.

    Kepada Ridha, warga mengaku tidak mengenal kelima korban dari Pam Swakarsa, termasuk lima orang pelaku yang menurut polisi sudah diproses terkait terbunuhnya lima Pam Swakarsa tadi.

    Menurut Ridha, dari hasil kunjungan Komnas HAM ke Desa Sodong, warga masih tampak gelisah. Alasannya, kepolisian sudah menetapkan adanya delapan orang terkait kerusuhan di base camp PT SWA. Namun, polisi tidak pernah mengumumkan nama-nama itu.

    Ridha menginginkan pemerintah dan kepolisian bersikap transparan menjelaskan kepada publik siapa lima anggota Pam Swakarsa yang tewas dan siapa lima orang yang sudah diproses hukum terkait kasus ini. Ini agar masyarakat di Desa Sodong tidak merasa was-was lagi.

    IRA GUSLINA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Horor Pembunuhan Satu Keluarga Di Bekasi

    Satu keluarga dibunuh di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, pada Selasa, 12 November 2018.