Sabtu, 17 November 2018

Etnis Tionghoa Butuh Pengakuan Lebih dari Sekedar Ditetapkannya Imlek Sebagai Hari Besar Nasional

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua Solidaritas Nusa Bangsa (SNB) Ester Yusuf Purba menegaskan, penetapan Imlek sebagai hari libur nasional, bukanlah sesuatu hal yang sangat penting bagi etnis Tionghoa. “Esensinya adalah penghapusan diskriminasi terhadap etnis Tionghoa,” tandas Ester kepada Tempo News Room, saat dihubungi per telepon di Jakarta, Minggu (17/2) malam. Menurut Ester yang perlu dilakukan pemerintah saat ini ialah memperbaiki status kewarganegaraan dan menghapuskan kontrol militer terhadap etnis Tionghoa. Sebab selama ini, tutur Ester, sepak terjang etnis Tionghoa selalu diawasi secara ketat oleh militer Indonesia. Sebagai contoh dia menyebutkan adanya Badan Koordinasi Masalah Cina di bawah naungan Badan Intelijen Negara. Mengenai status kewarganegaraan, Ester mengungkapkan, sampai saat ini masih banyak Etnis Tionghoa yang tidak dilayani hak-hak sipilnya oleh negara. Dicontohkan, bagi etnis Tionghoa, diperlukan dokumen Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI). Surat itu digunakan untuk mendapatkan hak-hak sipil dari negara, seperti akta kelahiran, akta kematian, dan sebagainya. “Tanpa itu mereka tidak bisa memperoleh semua itu,” ujarnya. Dia sendiri menceritakan pengalaman pribadinya yang berkaitan dengan hal tersebut. Dalam Kartu Keluarganya, hanya namanya saja yang dilingkari, sementara suami dan anak-anaknya, tidak memperoleh perlakuan itu. Selain itu, warga etnis Tionghoa yang berada di Tegal Alur dan Cibinong, tidak mendapatkan hak-hak sipilnya. “Mungkin karena mereka miskin,” ujarnya memberi contoh. Diceritakannya, ketika warga etnis Tionghoa yang berada di dua lokasi itu ingin membuat KTP, mereka disuruh ganti agama. “Sampai sekarang mereka enggak punya akte kelahiran,” imbuhnya. Ester bersuamikan pria batak ini mebantah jika dikatakan kultur etnis Tionghoa tertutup. Kendati begitu dia tak memungkiri adanya sebagian warga etnis Tionghoa yang bersikap seperti itu. Dia sendiri menegaskan, kultur etnis Tionghoa itu sudah dihancurkan sejak zaman Orde Baru. “Saya sendiri tidak bisa bahasanya,” tambahnya. Ester mengakui, memang sampai saat ini ada prasangka-prasangka rasial antara etnis Tionghoa dengan warga Indonesia satu sama lain. Oleh karena itu, untuk menghilangkan prasangka rasial tersebut, menurut dia, etnis Tionghoa harus lebih berperan aktif terjun dalam masalah-masalah bangsa, termasuk dengan lingkungannya sendiri. (Faisal Assegaf)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.