Minim Ketersediaan Air Tanah Kota Yogyakarta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga mengambil air rembesan di pemukiman kawasan Lodan, Jakarta Utara. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Warga mengambil air rembesan di pemukiman kawasan Lodan, Jakarta Utara. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO Interaktif, Yogyakarta -  Wilayah perkotaan di Yogyakarta dinilai kekurangan ketersediaan air tanah. Pemanfaatan air yang disedot melalui sumur-sumur tak seimbang air yang terserap masuk ke dalam tanah.

    Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta Suyana mengatakan banyak warga memperdalam sumur menjelang musim kemarau akibat penurunan permukaaan. “Lebih banyak air yang diambil daripada yang meresap, jadinya tidak seimbang. Kepadatan pemukiman dan penciptaan sumur baru salah satu penyebabnya,” kata Suyana seusai menggelar Hari Air Sedunia di kawasan titik nol kilometer Yogyakarta, Ahad (20/3).

    Dengan kondisi ketidakseimbangan antara kuantitas air dan pemanfaatannya itu Suyana menghimbau perlu membangun infrastruktur sanitasi lebih aman dan sehat. Penurunan air tanah di Yogyakarta tak berpengaruh pada terjadinya penurunan tanah. “Air sumur warga Yogyakarta saat ini kebanyakan masih air sumur dangkal, bukan air sumur dalam, jadi tak akan merembet pada terjadinya penurunan permukaan tanah,” kata dia.

    Yang penting, Suyana melanjutkan, ketegasan pemanfaatan air sumur dalam lebih untuk kepentingan komersial dan dibangun jauh dari pemukiman agar tak mempengaruhi kualitas air-air sumur dangkal warga.

    Kepala Sub Bidang Pengembangan Sumber Daya LBH Kristin Iin mengatakan hasil pemeriksaan air warga tergolong aman konsumsi.

    PRIBADI WICAKSONO.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selamat Jalan KPK

    Berbagai upaya melemahkan posisi KPK dinilai tengah dilakukan. Salah satunya, kepemimpinan Firli Bahuri yang dinilai membuat kinerja KPK jadi turun.