Rabu, 14 November 2018

Pelantikan Maddusila Sebagai Raja Gowa Dihadang Massa  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Andi Maddusila Karaeng Idjo. TEMPO/Kink Kusuma Rein

    Andi Maddusila Karaeng Idjo. TEMPO/Kink Kusuma Rein

    TEMPO Interaktif, Gowa - Sekitar 500 orang menduduki makam Sultan Hasanuddin di Jalan Palantikan, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Senin (17/1). Mereka menolak pelantikan Andi Maddusila Andi Idjo sebagai Raja Gowa ke-37, yang rencananya mengambil tempat di makam Pahlawan Nasional tersebut.

    Warga menganggap Maddusila sebagai calon raja ilegal. Sebab, pada 2007 kumpulan pemangku adat yang dikenal dengan Bate Salapang telah menobatkan Andi Kumala Idjo sebagai putra mahkota Kerajaan Gowa. "Sehingga tidak perlu lagi ada pengangkatan Raja Gowa selain Andi Kumala," kata Ketua Majelis Adat Bate Salapang Gowa, Abd Razak Dg Jarung Gallarang Tombolo, yang berada di tengah-tengah warga.

    Penobatan raja di makam Sultan Hasanuddin sebagai tradisi yang dipelihara keturunan Raja Gowa. Maddusila dan Kumala merupakan keturunan Raja Gowa ke-36, Andi Idjo Daeng Mattawang Karaeng Lalongang. Mereka yang menolak Maddusila adalah massa gabungan dari berbagai kecamatan.

    Menurut Dani, koordinator warga asal Kecamatan Bongaya, rencana penghadangan disepakati pekan lalu dalam sebuah pertemuan di kantor bupati. "Tidak ada dua raja di Gowa. Pemangku adat tak setuju Maddusila jadi raja," ujar Dani. Lagipula Kumala lebih dekat sebagai keturunan raja ketimbang Maddusila.

    Mendapat penolakan dari warga, Madusilla tetap menggelar pelantikan dirinya. Bertempat di Perumahan Megasari Jalan Jipang Raya, Makassar. Acara ini disaksikan sekitar 300 orang dan dihadiri keturunan raja-raja dari berbagai daerah. Di antaranya Bate Salapang Takalar, Tallo, serta Bate Salapang Gowa seperti Tombolo, Lakiung, Parang-parang, dan Akangje'ne.

    Penobatan Maddusila sebagai Raja Gowa dilakukan oleh Sekretaris Jenderal Forum Keraton se Nusantara, Gunarso G. Kusumodiningrat. Sekitar pukul 15.00 Wita Maddusila resmi sebagai Raja Gowa ke-37 dengan gelar Andi Maddusila Patanyondre Karaeng Katangka Sultan Alauddin II.

    Menurut Maddusila, Batesalapang versi Andi Kumala tidak pernah terbentuk. Status putra mahkota Kumala hanya akal-akalan orang-orang di sekitar pemerintahan. "Yang ilegal justru Batesalapang yang mengangkat Kumala sebagai putra mahkota," ujar Maddusila.

    Dia menambahkan, setelah resmi sebagai raja segera digelar pesta. Waktunya sekitar Mei mendatang. "Kami akan mengundang para sultan dan raja-raja se Nusantara maupun kerajaan di luar negeri seperti kerajaan di Malaysia," katanya.

    SAHRUL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?