Sabtu, 24 Februari 2018

Tiga Jam Bersama BJ Habibie: Ibu Ainun Cinta Sejati

Oleh :

Tempo.co

Minggu, 12 Desember 2010 13:06 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tiga Jam Bersama BJ Habibie: Ibu Ainun Cinta Sejati

    Bacharuddin Jusuf Habibie. TEMPO/Yosep Arkian

    TEMPO Interaktif, Presiden ketiga Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie, pada 30 November lalu meluncurkan buku Habibie & Ainun. Buku yang menggambarkan perjalanan cinta Habibie dengan istrinya, Hasri Ainun Habibie, ini hingga Jumat lalu sudah terjual 18 ribu dari 25 ribu buku cetakan pertama. "Mau dicetak 50 ribu lagi," kata Habibie. 

    Buku yang oleh Sekretaris Jenderal ASEAN Dr Surin Pitsuan disebut sebagai kisah Romeo-Juliet Indonesia itu mulai ditulis Habibie sekitar dua minggu setelah istrinya wafat pada 22 Mei 2010. "Saya menderita psychosomatic malignant karena kehilangan pendamping saya selama 48 tahun 10 hari. Jadi saya menulis untuk terapi penyembuhan," katanya kepada Istiqomatul Hayati, Akbar Tri Kurniawan, dan fotografer Yosep Arkian dari Tempo pada Kamis lalu di kediamannya, Jalan Patra, Kuningan, Jakarta Selatan. 

    Menurut pria yang tiap hari mengunjungi makam istrinya hingga hari ke-100 setelah kematiannya ini, para dokter memberinya pilihan. "Tetap membiarkan tubuh makin lemah dan menyusul istri atau bangkit," kata Habibie. Pilihan kedua diambilnya. "Sebulan pertama, saya menulis dengan terus menangis, mengenang istri yang sangat saya cintai."

    Selain itu, agar tidak terus berkubang dalam kesedihan, kedua putranya, Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie, secara bergiliran dengan anggota keluarga mereka menjaga sang ayah. "Setiap hari saya tidur ditemani anak-cucu," ujarnya. Selama tiga jam, profesor kehormatan Institut Teknologi Bandung bidang konstruksi pesawat terbang yang hari ini berangkat umrah untuk mendoakan Ainun ini memberi pelajaran merawat cinta. Ia didampingi oleh Direktur Eksekutif The Habibie Center Ahmad Watik Pratiknya. 

    Apa yang ingin Anda sampaikan dengan menulis buku ini? 
    Tiap manusia memiliki emosi dan rasio. Ada yang dominan emosi, ada pula yang dominan rasio. Ada orang yang berpidato tidak emosional tapi isinya sangat emosional, tapi ada orang yang berpidato emosional tapi isinya sangat rasional. Ini memperlihatkan bahwa emosi adalah suatu proses di dalam sistem setiap manusia yang harus diperhitungkan dan mempengaruhi adrenalin. Saya 48 tahun 10 hari menikah dengan Ibu dan tidak berlebihan bahwa saya tidak pernah bertengkar. Kalau marah-marah (hanya soal) kurang minum air, tidak mau tidur (karena) kerja terus, atau sudah waktu salat, tunggu dulu, tawar-menawar (tertawa). Tidak ada masalah yang prinsipiil.

    Ini resepnya Anda terlihat selalu mesra dengan istri?
    Setiap manusia memiliki sejarah masa lampau. Waktu saya ketemu Ibu, dia sudah berkembang, cantik, punya citra dan punya masa lampau. Saya juga begitu. Punya cewek juga.

    Katanya Ibu cinta pertama dan terakhir?
    Tidak. (Ainun Habibie) adalah cinta satu-satunya, cinta sejati. Saya dulu tidak pernah merasakan apa yang saya rasakan kepada Ainun. Konyolnya lagi, ketika berpaling, selalu ingin melihat lagi. Ini yang namanya merindukan. (Dalam buku) ketika bertemu (setelah 7 tahun tak jumpa) saya katakan, "Kok cantik kamu, ya, (dari) gula jawa menjadi gula pasir." Dia cuma lihat saya dan ngomong, "Rudy, kapan kamu datang?" Ngomongnya tenang dan orangnya memang tenang. Saya merasa aneh, tapi yang benar-benar aneh ketika saya bertemu, lalu diajak berdiskusi oleh ayahnya di rumahnya. Ayahnya mau tanya tentang pekerjaan saya di Jerman. Kami duduk di meja makan yang bundar. Ketika ditanya Bapak, saya melihat mata bapaknya. Tiba-tiba ada pertanyaan dari ibunya, pandangan saya beralih dan setiap beralih pasti pandangan melewati mata Ainun, kaget saya. Itu malam takbiran setelah magrib sampai jam 11 malam. Saat (beradu pandangan), saya merasakan getaran yang tak pernah saya rasakan, padahal saya punya cewek banyak juga, tapi tak pernah merasakan ini (tertawa). Dan saya kecanduan (memandang Ainun). Konklusi saya inilah true love.

    Kalau kepada pacar-pacar sebelumnya?
    Cinta. (Tapi) saya tidak tahu cinta sejati. Satu yang saya yakini bahwa God adalah love dalam arti luas. Tuhan adalah cinta antara suami-istri, ibu dengan anak, bapak dengan anak, ibu dengan saudara, keluarganya, rakyatnya. Saya berkeyakinan setiap makhluk hidup direkayasa oleh Allah. 

    Bagaimana Anda yakin, Ibu Ainun-lah cinta sejati Anda?
    Kalau saya berbicara dengan Anda, kecepatannya 1.000 kilometer per jam. Tapi, kalau saya berpandangan mata, kecepatan 1 miliar km/jam. Berarti, dalam detik yang sama, saya lebih banyak bisa membaca karena ada kecepatan lebih tinggi. Jadi informasi yang saya berikan atau sebaliknya paling banyak melalui mata tapi Anda belum sinkron. Saya dengan Ibu lain, saya yakin frekuensinya makin banyak.
    Waktu Ibu sakit, dia dipasangi 50 selang. Profesornya (kepala tim dokter) bilang semoga bisa melewati masa kritis ini. Saya jelaskan kalau kemarin dikunjungi Duta Besar RI, tapi (Ainun) hanya menggelengkan kepala (tidak ingat). Tapi dia ingat (ketika ditanya) siapa yang menemani setiap hari. Lalu (Ainun) berbisik kepada sang profesor (bilang bahwa yang ia ingat adalah suaminya). Profesor itu bilang ini namanya telepati. Kata dokter, telepati ini ada antara Ibu dan saya dan terus berkembang. Saya berkesimpulan bahwa ini salah satu elemen yang dihasilkan oleh cinta. Tuhan itu mengerti bahasa getaran jiwa.

    Buku ini ditujukan untuk Ibu?
    Ini untuk terapi diri. (Habibie membacakan pengantar peluncuran buku ini yang ditulis Ahmad Watik Pratiknya). Keadaan saya tidak menguntungkan (dalam pengantar buku disebutkan mengalami psychosomatic malignant) karena mempengaruhi organ jantung, ginjal, semua. Sampai dokter mengatakan, kalau saya tidak di-treatment, paling banter tiga bulan saya (bakal) nyusul Ibu.

    Seberapa bahayanya kondisi Anda kala itu?
    Tekanan darah atas (systole) di atas 200. Tentu juga pada (gangguan) organ ginjal dan yang lain.

    Gejala ini muncul sejak menunggu Ibu di rumah sakit?
    Tidak. Saat itu saya masih punya harapan bahwa Ibu tetap dengan saya. (Kondisi) ini setelah Ibu tiada. Saya diberi saran oleh dokter tiga hal, yaitu "curhat" kepada sejumlah teman dan sahabat saya maupun Ibu; kedua, menjalani terapi psikiatris dan dengan obat; yang ketiga, saya hadapi sendiri dengan berdialog kepada diri sendiri. Saya ambil yang ketiga karena gelombang emosi dan topan emosi saya tidak bisa diprediksi. Kalau yang pertama dan kedua, gelombang emosi muncul saat tidak ada orang-orang itu bagaimana? Saya akan bergantung pada tim atau berada di rumah sakit, gila apa saya? 

    Mulai kapan menulis?
    Awal Juni. Dua pekan setelah Ibu meninggal. Jadi saya tidak pernah lepas memikirkan Ibu, saya tahlilan. Saya menghadapi dengan menuliskannya di laptop, kalau ngomong sendiri, sinting kan? Dan saya tidak kesepian karena anak dan cucu bergiliran tidur dengan saya. Dan mereka lihat sendiri saya kayak anak kecil, menangis. Kasihan cucu saya yang jaga. Dia tanya, "Kenapa Eyang?" 

    Bagaimana kondisi saat menulis?
    Saya menulis tidak pakai nama karena saya tidak tahu apa yang akan saya tulis. Tapi saya menyadari saya harus menulis sejak ketemu dengan Ibu hingga hari ini karena saya akan melalui samudra dan kenangan manis yang insya Allah akan menarik saya dan memberi kompensasi saya kembali ke rasio. Itu benar-benar strategi yang jitu. Pernah terjadi, setelah selesai satu-dua bab, saya kirim e-mail ke Makmur Makka (penulis buku Setengah Abad Prof Dr Ing B.J. Habibie) dan Watik. Mereka mengatakan ini indah.

    Berapa dicetaknya?
    Dicetak 25 ribu dan informasi terakhir sudah 13 ribu terjual, sekarang sudah lebih. Seminggu setelah diterbitkan, sudah terjual 5.000 eksemplar. Dan sekarang saya sudah tanda tangan untuk cetakan kedua 50 ribu eksemplar. Royalti saya tulis di buku itu untuk yayasan Ibu Ainun dan saya. Bukan yayasan yang saya dirikan atau Ibu dirikan sendiri, harus yayasan yang didirikan saya dan ibu. Misalkan Bank Mata, ini yang mendirikan bukan Ainun, tapi Ibu Tien Soeharto dan Ibu Ali Sadikin, tapi yang membesarkan Ainun dan Habibie. Itu masuk dalam list yayasan yang akan dibantu (mendapat royalti). Ada juga untuk beasiswa bagi anak yang berbakat tapi orang tuanya tidak mampu. Salah satunya Habibie Center.

    Ada tujuan khusus?
    Waktu selesai, buku ini saya kasih ke Watik, abangnya Ainun, Profesor Hari Besari, juga Ilham dan Thareq. Mereka membacakan saat brainstorming dan mengatakan ini tidak ada salahnya dijadikan buku karena ini penting bagi manusia. Masalah yang saya hadapi itu bisa dialami yang lain. Bisa juga (untuk) yang belum menikah. Ini true love story. The power of love makes Habibie and Ainun become from nothing get everything. Nama-nama tokoh di dalam buku itu bisa diganti dengan nama pembacanya. Ini kan kisah cinta dan hidup manusia. 

    Waktu menulis, tidak terpikir ini akan dijadikan buku?
    Tidak. Yang penting untuk kesembuhan. Ini bukan pelajaran, tapi untuk mengilhami, menginspirasi orang. Jadi untuk merangsang siapa saja untuk merawat cintanya. Kata kuncinya di situ karena itu sekarang sudah ada suara-suara untuk diterjemahkan dalam bahasa Inggris, sudah ada usul juga dibuat film layar lebar.

    Ada pengalaman menarik setelah buku itu diterbitkan?
    (Tertawa) ada seorang pejabat tinggi yang datang mengeluh kepada saya. Dia bilang, "Wah, gara-gara buku itu, istri saya bilang. 'Seharusnya kamu begini juga dong'." 

    Apa yang Anda rasakan saat mendampingi Ibu pada saat-saat terakhirnya?
    (Diam menerawang) sampai detik terakhir saya tidak pernah minta maaf sama Ibu untuk kesalahan yang sengaja atau tidak sengaja, pun juga ibu kepada saya. Sebelum dioperasi 7 April (operasi pertama), dia bilang ke saya, "Saya mau mati. Saya tidak mau pakaian saya kotor (kalau dioperasi)." Saya jawab, "Ndak papa deh, saya antar ke kamar mandi." Dia mandi, lalu dikeringkan badannya. Lalu dia ambil gunting, memotong rambutnya. Potongan rambutnya ia masukkan ke plastik dan diselipkan di Al-Quran. Saya bilang, "Kamu kok kayak orang haji, menggunting rambut (tahalul)." Dia senyum saja. Itu siklusnya. Saya tidak mau minta maaf karena, ketika minta maaf, berarti saya give up. Kalau dia minta maaf, she gives up. Saya sampaikan tidak akan tinggalkan dia. Ini episode yang menyentuh saya. (Ia lalu menunjukkan potongan rambut Ainun yang disimpan di dalam koper merahnya). 
    Tanggal 6 pagi hari dapat kunjungan dari dua profesor dan satu asisten profesor, Ibu harus tanda tangan untuk persetujuan operasi. Selama satu bulan harus 12 kali operasi. Sampai detik ini, tidak bisa saya melupakan wajah dan mata Ibu saat itu.

    Di buku tersebut, Anda menceritakan bahwa Anda mensucikan Ibu dengan air zamzam pada saat-saat terakhirnya dan setelah mangkat?
    Ya. Saya mensucikan Ibu dari kepala sampai ujung kaki dengan air zamzam yang dibawakan teman. Hanya saya yang boleh menyentuhnya dengan dibantu Andina, cucu kakak perempuan saya. 

    Anda terlihat limbung saat pemakaman. Apa yang Anda pikirkan saat itu?
    Waktu Ibu dimakamkan, saya tidak tahan. Saya menghadapi masalah karena janji saya (kepada Ainun), "Tidak akan saya tinggalkan kamu." Saya selalu satu atap dengan dia. Saya limbung.

    Dalam seratus hari, Anda masih datang ke makam. Selain berdoa, apakah Anda 'berbicara' dengan Ibu?
    Ya. Saya bilang kalau saya berdoa supaya (Allah) tidak memisahkan saya dengan ibu. Supaya Allah melindungi Ibu dan saya terhadap segala gangguan, ancaman, dan kejahatan yang datang dari dalam dan di mana pun Ibu dan saya berada. Karena gangguan itu dapat mencemari cinta yang murni, suci, sejati.

    Apakah Anda sering bilang cinta kepada Ibu Ainun?
    Tidak. Tapi saya sering menatapnya dan melayaninya dengan kasih sayang yang besar. Dan itu dirasakan Ibu. (Ia kembali membongkar isi kopernya dan menemukan surat Ainun berisi ucapan selamat ulang tahun kepada Habibie ke-60 [tahun 1996] di dalam amplop merah jambu bergambar Teddy Bear. Di dalamnya, Ainun memberikan hadiah berupa kliping koran berbahasa Inggris [diterbitkan 1984] yang menuliskan prestasi Habibie sebagai profesor industri penerbangan). Itu diberikan di atas pesawat Concorde saat perjalanan ke Perth. Dia ada di samping saya. Lalu bilang, "Pah, ini ada surat." Saya kaget dan terharu sekali. 

    Adakah tanda dari Ibu akan meninggalkan Anda?
    Sebelum berangkat (berobat) ke Jerman, Ibu bertemu dengan Ike, temannya. Ibu bilang, "Saya bersyukur diberi seorang suami yang begitu cinta saya. Itu saya rasakan, (yang membuat) saya sedih." "Lho Dik Ainun, kenapa (sedih)? Rudy begini karena Jeng Ainun lebih baik. Jeng Ainun sudah benar berdoa seperti itu tapi tidak usah nangis. Bersyukurlah." Ibu kemudian stop berbicara. 
    Beberapa hari setelah pemakaman, Ibu Ike datang kepada saya, katanya ada yang harus disampaikan. Lalu menyusul Ibu Ariyanto datang juga kepada saya, katanya ada yang mau disampaikan. Katanya, Bu Ainun mencintai saya. Saya bilang itu biasa. Ada apa? "Begini Mas, beberapa hari sebelum Mbak Ainun pergi (ke Jerman), dia bilang sama saya. 'Dik, saya prihatin, saya duluan dipanggil (Allah) ketimbang Mas Rudy. Kasihan Mas Rudy. Saya tidak tahu apa dia bisa mengatasinya'." 
     
    Apa yang terjadi setelah itu?
    Yang lain tentang Ibu, saat saya salat Jumat di pendopo, ada Profesor Oetarjo Diran dari ITB teman saya kuliah, dan Malik Fajar sebagai khotib saya yang mengimami. Oetarjo bilang melihat Ainun di rumah. “Ah yang benar kamu.” Bagaimana dia? Dia cerah. Waktu saya salat mata saya tertutup, Ainun merangkul saya, kepalanya di pundak saya, dicium bibir saya. Selesai salat saya bilang ke Ilham. “Ibumu barusan mencium saya.” Ini sesuatu yang saya butuh seperti orang membuat kapal terbang, kenapa bisa begini? Ilusi, apa itu? Karena itu saya pakai keberadaan kita ada tiga fase, fase sebelum masuk rahim, keluar dari rahimnya sampai dia meninggal.  Fase ketiga setelah mati. Dalam fase-fase itu Ainun hidup. Enam dimensi itu. Dimensi ruang dan waktu, dimensi quantum energi, dan dimensi kecepatan. Cuman sekarang ini software kita tidak bisa, tidak memiliki panca indera yang bisa mendeteksi dimensi kelima. Dalam doa saya pasti saya akan kembali kepada Ibu dalam keadaan yang sama. Dimensi dan alam yang sama, dan raga yang abadi.

     
    Ibu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Tidak terpikir untuk membuat makam keluarga?
    Lho, di samping makam Ibu itu sudah disiapkan buat saya nanti. Jadi, ketika pemerintah meminta Ibu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, saya bilang oke, tapi ada syaratnya. Jika saya meninggal, saya harus dimakamkan di samping Ibu, atau ditumpuk juga enggak apa-apa. Kalau enggak disetujui, saya enggak mau. Dan itu disetujui, bahkan sudah keluar surat keputusannya dari Kementerian Sosial. 

     
     
     
     
    Pengendara Mobil Zigzag 

    Meskipun ahli mekanik, siapa sangka jika banyak yang tidak ingin menumpang mobil yang dikendarai Bacharuddin Jusuf Habibie, termasuk istrinya, Hasri Ainun Habibie. Jika Habibie memegang kemudi, Ainun selalu berujar, "Kalau kamu nyetir, saya turun. Mendingan naik taksi. Bikin deg-degan." 
    Pengguna parfum buatan Prancis, Aramis, ini--dipilihkan istrinya--kerap membuat takut penumpangnya. Ia bahkan hampir ditilang polisi Jerman karena melajukan mobil secara zigzag. "Begitu lihat saya, polisi itu bilang, 'Profesor, Anda orang baik. Saya yakin Anda tidak akan neka-neko, jadi sudahlah, silakan jalan'," katanya.
    Teman karibnya, Jack Welch (John Francis Welch Jr), Presiden dan CEO General Electric, Amerika Serikat, juga pernah trauma disopiri Habibie. Pada akhir 1980-an, Welch datang ke Jakarta. Ia dipameri Mercedes-Benz 300 SL, yang berpintu gull wing keluaran 1954, oleh Habibie. Kabarnya, di dunia, mobil jenis itu kini hanya dimiliki oleh mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi itu. Mobil yang ditemukan di Jambi tersebut direstorasi Habibie selama tiga tahun. 
    Berdua mereka menjajal mobil itu menjelajahi Jalan Thamrin, Jakarta. Saat di jalan, Welch terlihat tenang. Setelah turun, Welch mengatakan, "Rudy, thank you very much. This is the first and last time to ride beside you," kata Habibie menceritakan kembali seraya tergelak. 


    ISTIQOMATUL HAYATI | AKBAR TRI KURNIAWAN


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Ucapan Pedas Duterte, Memaki Barack Obama dan Dukung Perkosaan

    Presiden Filipina Rodrigo Duterte sering melontarkan ucapan kontroversial yang pedas, seperti memaki Barack Obama dan mengancam pemberontak wanita.