Dewan Pers: Penjemputan Paksa Erwin Tak Masuk Akal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagir Manan. TEMPO/Nickmatulhuda

    Bagir Manan. TEMPO/Nickmatulhuda

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Ketua Dewan Pers Bagir Manan menyatakan, penjemputan paksa Pemimpin Redaksi Majalah Playboy Indonesia, Erwin Arnada, oleh pihak kejaksaan tak masuk akal."Kami sudah sepakat, kepolisian, kejaksaan, dan tim advokat untuk menyerahkan Erwin, bukan ditangkap seperti kata mereka (kejaksaan)," katanya kemarin.

    Pihak kejaksaan, kata Bagir, sudah diberi tahu untuk selalu melakukan koordinasi menyangkut kasus majalah Playboy. Hal ini karena kepergian Erwin ke Bali sepengetahuan Dewan Pers. Bahkan kepulangannya ke Jakarta memenuhi panggilan kejaksaan, "Juga atas sepengetahuan Dewan Pers."

    Pihak kejaksaan menjemput paksa Erwin di Bandar Udara Soekarno-Hatta, Sabtu (9 Oktober), sepulang dari Bali. Kepala Kejaksaan Jakarta Selatan M. Yusuf mengatakan, penjemputan paksa itu didasari surat penangkapan paksa.

    Erwin divonis dua tahun penjara oleh Mahkamah Agung atas penerbitan Playboy Indonesia. Dia bersalah karena menyiarkan tulisan, gambar, dan benda yang melanggar unsur kesopanan sebagaimana diatur dalam hukum pidana.

    Penahanan Erwin dikritik pendiri majalah Playboy, Hugh Hefner. "Saya rasa penahanan editor Playboy edisi Indonesia adalah sebuah parodi bagi keadilan," tulisnya di akun situs Twitter @HughHefner, atas pernyataan pengguna, kemarin.

    Hefner juga menuliskan status Twitter-nya, "Menyenangkan rasanya melihat banyaknya dukungan untuk editor Playboy yang ditahan di Indonesia."

    Hefner adalah pendiri majalah Playboy di Amerika Serikat. Majalah itu terbit sejak 1949.

    Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia Imam Wahyudi menyatakan perlunya sosialisasi Undang-Undang Pers kepada aparatur negara. Sebab, "Masih banyak aparatur negara, seperti kepolisian dan kejaksaan, tidak mengetahui dengan jelas undang-undang ini."

    Seharusnya permasalahan yang menyangkut pemberitaan dan pers merujuk pada undang-undang ini, "Bukan pidana," kata Imam.

    Ihwal tudingan menyebarkan pornografi, Erwin menolaknya. "Tak ada gambar yang tak sesuai kesusilaan. Begitu juga tulisan. Majalah Playboy yang di sini disesuaikan dengan budaya sini," katanya, pekan lalu. "Kami lebih menekankan pada bobot tulisan, bukan gambar-gambar "begitu". Playboy itu hanya branding saja."

    RIRIN AGUSTIA | KODRAT SETIAWAN | ANTON S

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tahun-Tahun Indonesia Juara Umum SEA Games

    Indonesia menjadi juara umum pada keikutsertaannya yang pertama di SEA Games 1977 di Malaysia. Belakangan, perolehan medali Indonesia merosot.