Jumat, 16 November 2018

Keracunan Metanol Sulit Diobati

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jenazah teknisi Sukhoi asal Rusia Alexander Poltorak Meksandri. TEMPO/ Muh Sophian As

    Jenazah teknisi Sukhoi asal Rusia Alexander Poltorak Meksandri. TEMPO/ Muh Sophian As

    TEMPO Interaktif, BANDUNG - Peminum cairan metanol atau spiritus dengan kadar lebih dari 30 miligram sulit terhindar dari kematian. Nyawanya hanya bisa diselamatkan jika perutnya segera dicuci, kuras lambung, atau cuci darah di rumah sakit.

    Menurut dosen Farmakologi dan Toksikologi di Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung Joseph Sigit, keracunan metanol tak bisa ditangkal atau diobati dengan mudah. Dalam kadar sedikit, cairan yang biasa dipakai untuk pelarut cat kuku dan pembersih kaca jendela itu bisa keluar dengan cara dimuntahkan.

    “Secara teoritis, dalam waktu 30 menit metanol sudah bisa masuk ke seluruh tubuh,” ujarnya, Kamis (16/9). Gejalanya berupa mual, pusing, dan muntah-muntah.

    Sigit mengatakan, metanol satu golongan dengan etanol atau alkohol. Di dalam tubuh, keduanya sama-sama membuat efek depresi saraf pusat hingga membuat seseorang gagal nafas. Lebih dari 5 miligram, metanol langsung menimbulkan kebutaan. “Metanol itu tidak lazim diminum,” katanya.

    Pada kasus kematian tiga teknisi pesawat Sukhoi asal Rusia di Makassar beberapa hari lalu, kata Sigit, kemungkinan karena mereka meminum metanol yang dicampur dengan alkohol. Rekan korban yang selamat, diduga karena hanya meminum metanol dalam jumlah sedikit. “Kenapa mabuk dengan mencampur metanol dan etanol, itu tidak ada penjelasan saintifiknya,” kata dia.

    Sebelumnya diberitakan, kepolisian menduga kematian tiga teknisi pesawat Sukhoi asal Rusia yaitu Aleksander Poltorak, Serega Voronin, dan Victor Safonov akibat keracunan metanol atau spiritus. Dari pemeriksaan sampel organ tubuh korban, diketahui kadar metanol di dalamnya melebihi ambang batas.

    Metanol umumnya dihasilkan oleh industri untuk campuran bahan kimia, dan tidak untuk dikonsumsi. Sedangkan etanol, ujar Sigit, selain buatan industri untuk bahan kimia, juga biasa ditemui pada makanan atau minuman hasil olahan masyarakat. Misalnya, kata dia, alkohol hasil fermentasi anggur atau tapai. “Yang beredar di pasaran itu umumnya sesuai ketentuan pemerintah berkadar sampai 50 persen,” katanya. Namun jika dikonsumsi berlebihan, orang bisa keracunan bahkan meninggal.

    ANWAR SISWADI


     

     

    Lihat Juga