Mahasiswa UGM Tolak John Howard Masuk Kampus

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Yogyakarta:Rencana kedatangan Perdana Menteri Australia John Howard ke Kampus Universitas Gajah Mada di Jalan Bulaksumur, Yogyakarta, Jumat (8/2), ditolak keras kalangan mahasiswa. Keluarga Mahasiswa UGM telah mengorganisir rencana unjuk rasa besok pagi. Penolakan dan rencana aksi itu disampaikan Ketua Departemen Penguatan Publik KM UGM, Nur Mukhlis, dalam jumpa pers di kampus UGM, tadi siang. “Aksi diwujudkan dengan membentuk barisan hidup mahasiswa di Bundaran UGM. Kami turun pukul 09.00 wib besok dengan mengenakan ataribut resmi UGM berupa jaket almamater warna krem,” ujar Nur Mukhlis. Meski demikian, Keluarga Mahasiswa UGM tak akan menghalang-halangi Howard masuk kampus karena implikasi politiknya akan luas menyangkut hubungan bilateral Indonesia dengan Australia. "Ini hanya aksi simbolik. Kami tetap membiarkan Howard masuk kampus. Kami tidak ingin mati konyol karena menghalangi tamu negara. Kalau kami menghalangi, akan mencoreng wajah bangsa dan bisa berakibat buruk bagi hubungan kedua negara," jelasnya. Dijelaskan Nur Mukhlis, mahasiswa UGM menilai kunjungan John Howard terkesan dipaksakan dan manipulatif. Seperti penolakan wakil rakyat di DPR yang tidak digubris pemerintah Australia di Canberra. “Sikap itu sebagai bukti pelecehan pemerintah Australia kepada Indonesia,” ujarnya. Poin masalah lain, jelasnya, mahasiswa UGM melihat Australia selama ini tidak pernah berpihak pada kepentingan pemerintah Indonesia. Seperti dalam kasus Papua, dan yang paling mencolok ketika penyelesaian kemelut di Timor Timur. “Dalam kasus Papua, pemerintah Australia memberikan dukungan kepada KTT Forum Pasifik. Ini mengindikasikan dukungan terhadap gerakan separatis Papua,” tutur Nur Mukhlis. Menurut rencana, Howard tiba di kampus UGM pukul 10.30 wib besok. Persiapan penyambutan sudah terlihat. Bahkan Kapolda Brigjen Pol Wahyu Saronto sempat bertemu Rektor UGM Prof Dr Ichlasul Amal. "Kami tetap menerima kunjungan John Howard. Kunjungannya ke Yogya lebih bersifat kultural. Kalau ke Jakarta lebih bersifat politik. Saya jauh-jauh hari sudah diberi tahu Dubes Indonesia di Australia," tegas Ichlasul kepada Tempo News Room. Howard hanya satu jam di kampus UGM kemudian berlanjut bertemu Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubowono X. Sama seperti sikap Rektor UGM, Sri Sultan juga berjanji akan menerima Howard dengan tangan terbuka. “Tak mungkin saya menolak. Presiden saja menerima,” ujar Sultan. (Heru C. Nugroho)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.