Jumat, 16 November 2018

Daniel Murdiyarso Putuskan Terima Achmad Bakrie Award

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Peneliti lingkungan Daniel Murdiyarso memutuskan untuk menerima penghargaan Achmad Bakrie 2010. "Secara umum saya melihat budaya menghargai itu perlu ditumbuhkan, karena sudah ada yang menghargai saya ya saya menerima. Itu saja, tidak muluk-muluk," ujar Daniel ketika dihubungi Tempo melalui telepon, Rabu (28/7) malam.

    Apalagi, lanjut anggota Intergovernmental Panel on Climate Change yang bersama Al Gore beroleh Nobel Perdamaian 2007 ini, pemberian penghargaan merupakan budaya baik yang sudah sangat jarang di dalam masyarakat Indonesia. "Yang ada di masyarakat saat ini bukannya menghargai tetapi mencaci maki dan mencemooh," kata Daniel.

    Karena itu, sekalipun ada yang mempertanyakan sikapnya yang menerima penghargaan dengan situasi yang berkembang belakangan ini, Daniel tetap memutuskan menerima. "Saya tidak mau menganalisa mendalam. Secara umum saja lah," kata Daniel.

    Kerja ilmiah Daniel Murdiyarso berkisar pada penggunaan lahan, kehutanan, dan perubahan iklim. Riset ini mengubah persepsi pengambil keputusan mengenai kaitan antara penggunaan lahan, pengelolaan hutan dan perubahan iklim dunia akibat ulah manusia. Sebagai pemenang penghargaan Sains, Daniel berhak atas piala, sertifikat dan uang sebesar Rp 250 juta.

    Nama Daniel diumumkan Freedom Institute kemarin. Selain Daniel, ada lima orang lagi yang diumumkan layak mendapatkan penghargaan itu tahun ini. Mereka adalah  Sitor Situmorang (bidang Kesusasteraan), Daoed Joesoef (bidang Pemikiran Sosial),  S. Yati Soenarto (bidang Kedokteran), Sjamsoe’oed Sadjad (bidang Teknologi) dan  Ratno Nuryadi (Hadiah Khusus Periset)

    Namun dua diantara tokoh diatas, yaitu Sitor Situmorang dan Daoed Joesoef memutuskan menolak penghargaan itu. Menurut Rizal Malarangeng Dirut Freedom Institute selaku penyelenggara,  penolakan penghargaan tersebut lebih banyak terkait nuansa politik. "Sepertinya ada nuansa politik jadi mereka kurang sreg sepertinya
    Itu. Jadi jangan sangkut pautkan dengan politisi, sebab ini berasal dari almarhum Ahmad Bakrie. Lihatlah ini sebagai penghargaan dan jangan masuk dalam politik," terangnya.

    Kendati dikembalikan, Rizal menambahkan tidak mengurangi jasa Bakrie sedikitpun terhadap jasa para tokoh-tokoh tersebut dan ini juga pernah terjadi di penerimaan nobel.

    "Penghargaan ini juga diniatkan untuk merangsang inovasi dan gagasan yang cutting edge di lima bidang," imbuh Rizal.

    Rizal menuturkan, pertama kali dirintis dan diadakan oleh Freedom Institute, Penghargaan Achmad Bakrie mencakup dua bidang, Kesusasteraan dan Pemikiran Sosial. Pada 2005, satu bidang lagi ditambahkan, yaitu Kedokteran. Dua tahun berikutnya, 2007, dua bidang lagi ditambahkan, yaitu Sains dan Teknologi.


    Menurut Rizal, hadiah ini dinamai Penghargaan Achmad Bakrie, untuk mengenang almarhum Achmad Bakrie yang pada masa hidupnya mempunyai perhatian yang besar untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan di Indonesia. "Secara tak langsung, ini hendak meniru teladan baik yang dicontohkan oleh Alfred Nobel, seorang pengusaha sukses Swedia yang kemudian merintis Hadiah Nobel," kata dia.

    WDA | ARYANI KRISTANTI

     


     

     

    Lihat Juga