Jumlah Penyandang Buta Aksara di Ponorogo Masih Tinggi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, PONOROGO - Jumlah warga Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, yang menyandang status buta aksara hingga tahun 2010 mencapai 14.364 jiwa. “Sebagian besar di antara mereka berusia di atas 45 tahun, dan bermukin di wilayah pedesaan,” kata Kepala Bidang Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olahraga Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Heru Tjahyo, Senin (28/6).

    Para penyandang buta aksara tersebar di beberapa wilayah, seperti Kecamatan Ngrayun, Badegan, Ngebel, Mlarak, dan Jambon. “Daerah-daerah tersebut merupakan pelosok yang sulit dijangkau,” ujar Heru pula.

    Meski terus menurun dibandingkan tahun sebelumnya, menurut Heru, jumlah penyandang buta aksara tahun 2010 dinilai masih tinggi.

    Pada tahun 2008, jumlah penyandang buta aksara 16.094 jiwa dengan usia antara 44 tahun hingga 65 tahun. Jumlah tersebut adalah 8, 73 persen dari jumlah penduduk Kabupaten Ponorogo tahun 2008 184.339 jiwa.

    Dari jumlah tersebut, yang sudah mendapatkan pembelajaran aksara dan bisa baca tulis sebanyak 1.730 jiwa dan sisanya sekitar 14.364 lainnya mendapatkan program pembelajaran keaksaraan fungsional tahun 2009 hingga 2010.

    Heru menambahkan pihaknya terus menjalankan program pemerintah untuk menekan tingginya angka penyandang buta aksara melalui program keaksaraan fungsional. “Untuk tahun 2009 dan 2010, yang mengikuti program ini sebanyak 8.000 orang,” katanya.

    Dalam program keakasaraan fungsional, selain diajari baca dan tulis, peserta juga diberi keterampilan. Setiap kelompok belajar buta aksara berjumlah 10-15 orang.

    Sukiman, 52 tahun, salah seorang penyandang buta aksara di Desa Siwalan, Kecamatan Mlarak, mengaku gembira bisa mendapatkan kesempatan mengikuti program pengajaran membaca dan menulis. “Meski sudah tua, saya tidak malu belajar. Saya mulai bisa membaca dan menulis secara pelan pelan,” tuturnya. ISHOMUDDIN.


     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.