Polisi Singapura Minta Ijin Memeriksa Mas Slamet bin Kastari

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Kepolisian Singapura meminta ijin ke Mabes Polri untuk memeriksa Mas Slamet bin Kastari, Ketua Jamaah Islamiyah (JI) yang tertangkap di Tanjung Pinang, Riau. Alasannya, dia sudah menjadi buronan Singapura (interpol red notice), yaitu merencanakan pembajakan pesawat dari BangkokSingapura. Karena tidak ada perjanjian ekstradisi dengan Indonesia, mereka mengirimkan wakilnya ke Riau untuk mengembangkan pemeriksaan lebih lanjut, ujar Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri, Komisaris Jenderal Polisi Erwin Mapasseng, di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (4/2). Erwin menjelaskan, menurut pernyataan polisi Singapura, Mas Slamet berencana lari ke Indonesia setelah gagal dalam rencana pembajakan pesawat dari Bangkok-Singapura. Rencananya, pesawat itu akan ditabrakkan di salah satu tower di Singapura, namun tidak terlaksana. Berdasarkan informasi itu, akhirnya dia tertangkap di Tanjung Pinang, ujar bekas Kepala Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri ini. Menurut Erwin, setelah dari Tanjung Pinang, Mas Slamet akan melanjutkan perjalanan ke Jepara, Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berencana ke Sidoarjo, Jawa Timur. Untuk itu, Mabes Polri mengirimkan tim yang memiliki banyak data soal itu untuk mengembangkan pemeriksaan di Riau dan Singapura. Sementara ini, polisi masih mengembangkan pemeriksaan terhadap Mas Slamet atas kasus pemlasuan KTP dan paspor di Bengkalis, Riau. Polisi juga menahan pejabat yang membantu pembuatan KTP milik Mas Slamet. Sementara itu, dalam pengusutan kasus Ali Imron, data Dinas Reserse Mabes Polri menyebut bahwa Imron mengaku menyimpan senjata api dan amunisi di rumah ustad Jafar Sidiq yang ditempatinya. Hari Minggu (2/2) lalu, pukul 15.00 WIB, tim reserse Polres Lamongan menggeledah rumah dan pekarangan milik Jafar. Rumah itu sekarang menjadi ruang kelas pondok pesantren sampai di kebun belakang samping sumur. Di situ, polisi menemukan paralon ditanam dalam tanah kurang lebih 25 cm, dan ditemukan sejumlah senjata api beserta amunisi. Dari temuan itu, diketahui ada satu pucuk senjata api (senpi) laras panjang M-16A1, No 132282 dalam keadaan terurai, 3 kotak amunisi kaliber 22 Winchister berisi 150 butir peluru, 1 kotak amunisi kaliber 22 Victory dengan isi 50 butir peluru, 3 kotak amunisi kaliber 38 buatan Pindad berisi 150 butir, 3 kotak amunisi kaliber 5,56 berisi 260 butir, amunisi kaliber 9 mm terdiri dari 217 butir, amunisi kaliber 22 isi 42 butir, amunisi kaliber 22 panjang isi 42 butir, 1 magazen panjang isi 30 butir dan 1 magazen pendek isi 20 butir. Menurut Erwin, pada hari Senin (3/2), pukul 05.00 WIB, polisi telah menangkap tersangka yang menerima senpi dari Ali Imron untuk disimpan atas nama Nadirin. Sementara, tersangka yang menanam senpi adalah Khotib, warga desa Karang Poh, Tambak Bandung, Lamongan. Dari tersangka Khotib inilah ditemukan barang bukti senpi jenis FN no 193735FN45 model UF1911A US Army, sebuah peredam, dan 2 bungkus amunisi 48 butir jenis ACP 98454. (Eduardus Karel DewantoTempo News Room)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kenali Tanda Masker Medis yang Asli atau Palsu

    Saat pandemi Covid-19 seperti sekarang, masker adalah salah satu benda yang wajib kita pakai kemanapun kita beraktivitas. Kenali masker medis asli.