Minggu, 18 November 2018

Perajin Sangkar Burung Tantang Produk Cina

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta -Perajin sangkar burung di Mojosongo, Surakarta, Jawa Tengah siap menantang kehadiran produk sangkar burung asal Cina. Saat ini, produk sangkar burung dari negara tirai bambu itu sudah mulai memasuki pasar burung di Surakarta dan sekitarnya.

    Karena harganya lebih mahal, produk Cina itu justru ditiru oleh para perajin. Ketua Paguyuban Perajin Sangkar Burung Sangkar Manunggal, Bambang Sulistyo mengatakan saat ini di Mojosongo terdapat ratusan perajin sangkar burung.

    “Hasil produksinya mencapai puluhan ribu tiap bulan,” kata dia. Hasil produksinya dijual hingga luar daerah, seperti Surabaya, Bali hingga Medan.

    Bambang mengakui, saat ini produk sangkar burung buatan Cina mulai masuk ke beberapa pasar burung. “Namun kita siap bersaing,” kata dia. Dia yakin, harga sangkar burung buatan lokal jauh lebih murah dibandingkan produk impor. Sebab, bahan baku sangkar burung, seperti kayu dan bambu mudah diperoleh dan harganya juga masih relatif murah.

    Bambang menegaskan, produk sangkar burung asal Cina memiliki harga tiga kali lipat dibanding harga sangkar lokal. “Paling murah Rp 5 juta per buahnya,” kata dia. Sedangkan untuk produk lokal dengan kualitas yang sama, perajin biasa menjualnya dengan harga Rp 1,5 juta per buah.

    Jika kebanyakan produk Cina yang dijual di Indonesia memiliki kualitas rendah, sangkar burung Cina justru sebaliknya. “Ukirannya sangat halus,” kata ketua paguyuban yang beranggotakan 56 perajin itu. Dirinya menduga, ukiran tersebut dibuat dengan menggunakan mesin.

    Terpisah, salah seorang pedagang di Pasar Burung Depok Surakarta, Suwignyo mengakui jika beberapa pedagang telah memasarkan sangkar burung buatan Cina. “Namun tidak banyak yang menjualnya,” kata dia. Senada dengan Bambang, harga sangkar burung buatan Cina memang jauh lebih mahal.

    Sembari menunjukkan, Suwignyo menjelaskan, jika sangkar burung produksi Cina memiliki ukiran yang sangat halus. Kebanyakan motif ukirannya berupa naga serta dewa-dewa. Berbeda dengan produk lokal yang biasa menggunakan ukiran dengan motif burung, bunga serta daun.

    Anehnya, beberapa produsen lokal justru mencontek motif ukiran sangkar burung asal Cina, yang oleh pedagang biasa disebut dengan sangkar cung kwok. “Sekarang giliran produk mereka dibajak,” ujarnya. Namun, produk tiruan buatan lokal itu memiliki kualitas ukiran yang lebih kasar dibanding aslinya.

    Justru saat ini banyak produk sangkar burung asal Bandung yang menawarkan harga lebih murah dibanding produk lokal. “Bahannya dari plastik dan fiber,” kata Suwignyo. Namun produk tersebut kurang disukai konsumen karena tidak awet.


    AHMAD RAFIQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.