Dua Kelompok Bertikai di Ambon Memulai Perundingan di Makassar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Makassar:– Delegasi dua kelompok yang selama ini terlibat perselisihan di Ambon, Maluku, memulai perundingan perdamaian di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Rabu (30/1). Delegasi kelompok Islam akan melakukan pertemuan secara tertutup di Losari Beach Hotel, pukul 15.00 WITA. Sedang pertemuan internal kelompok Kristen, juga akan dilakukan pada pukul 17.00 WITA di Hotel Kenari Makassar. Sebagian sembilan orang delegasi kelompok Islam, sudah tiba di Makassar, sejak Selasa (29/1) petang. Delegasi kelompok Islam dipimpin oleh Abdul Wahab Polpoke. Anggota delegasi lainnya, dijadualkan tiba siang ini, bersama rombongan delegasi kelompok Kristen. Sebelum melangsungkan pertemuan di Malino, Kabupaten Gowa, masing-masing kelompok langsung melakukan pertemuan internal secara tertutup. Pertemuan itu sendiri dikabarkan untuk merumuskan agenda perdamaian yang akan dibicarakan dalam pertemuan Malino. Deputi II bidang Kesehatan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Dr Farid Husein, mengatakan kedua kelompok memang terlebih dahulu melakukan prameeting, sebelum perundingan Malino. Meski begitu, dia belum mau memberi tahu agenda yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut. “Pertemuan ini sifatnya tertutup. Karena hasil pertemuan ini akan dilanjutkan dalam pertemuan Malino pada 5 dan 7 Februari ini,” ujarnya. Sementara Ketua Kerukunan Keluarga Maluku di Makassar HM Saleh Putuhena, mengatakan pertemuan yang digagas pemerintah itu merupakan suatu momentum yang sangat penting untuk penanganan Maluku. Oleh karena itu, dia mengaku optimis pertemuan tersebut membuahkan hasil Apalagi, lanjutnya, kedua belah pihak sebenarnya sudah mencapai kesepakatan paling mendasar. Menurut dia, kedua hal yang disepakati, yakni menghentikan konflik dan penyelesaian kasus-kasus yang selama ini terjadi melalui proses hukum. Bekas Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Makassar ini menambahkan, pertemuan kedua kelompok harus bisa menyelesaikan pembicaraan dua agenda pokok. Pertama, komitmen masing-masing kelompok untuk menghentikan pertikaian. Kedua, pemerintah harus mengusut dan menindak pelaku-pelaku pertikaian selama ini. Dan ketiga, pemerintah harus menunjukkan komitmennya menindaklanjuti pertemuan tersebut, melalui rehabilitasi fisik dan nonfisik di sana. “Sementara kedua kelompok berkomitmen menghentikan konflik, maka harus diiringi dengan penegakkan hukum dan rehabilitasi fisik,” ujarnya. Soal delegasi yang akan mengikuti pertemuan, menurut dia, pada prameeting, masing-masing kelompok diwakili 15 orang. Sementara untuk pertemuan puncak di Malino, setiap kelompok akan diwakili 15 delegasi. Meski jumlah delegasi sangat kecil, namun Saleh menilai hal itu sudah mewakili faksi-faksi di Ambon. Pasalnya, sebelumnya sudah dilakukan pertemuan dengan melibatkan banyak orang di Ambon. Kemudian, katanya, mereka menunjuk masing-masing delegasi yang dipercaya mewakilinya. (Muannas-Tempo News Room)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.