Abu Bakar Ba’asyir Akan Gugat AS, Malaysia, dan Singapura Bila Terus Tuduh Teroris

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:KH Abu Bakar Ba’asyir akan menggugat pemerintah Amerika Serikat, Malaysia, dan Singapura bila masih terus mendiskreditkan dan menduganya sebagai teroris. “Saya akan menggugat mereka melalui kuasa hukum saya,” ujar Abu Bakar seusai klarifikasi dengan Tim Intelpam Hubungan Luar Negeri, Mabes Polri, Jakarta, Jumat (25/1) malam. Abu Bakar menjelaskan bahwa dirinya telah mengklarifikasikan segala hal tentang dirinya dan aktivitasnya selama di Indonesia maupun di Malaysia. Pimpinan Pondok Pesantren Al Mukmin itu yakin bahwa pada dasarnya Polri telah memiliki data akurat tentang dirinya dan pihak-pihak lain yang didiskreditkan sebagai teroris. “Saya yakin, Insya Allah, polisi dan pemerintah akan melindungi warga negaranya,” paparnya. Kiai asal Solo itu juga yakin bahwa yang diincar bukan hanya dirinya tapi juga beberapa ulama lain. Namun demikian, ia tidak bersedia menyebut nama-nama ulama yang dimaksud. “Saya hanya sebagai pintu masuk yang tujuannya mengincar para pimpinan Islam,” tambahnya. Hal itu dilakukan, lanjut Ba’asyir, supaya bangsa dan negara Indonesia dapat dikuasai. Selanjutnya, mereka akan menuntut pemerintah Indonesia mengikuti kemauan yang diarahkan. Usai memberikan keterangan kepada polisi selama sekitar tujuh jam, Kiai Ba’asyir juga menegaskan bahwa dirinya bukan teroris. “Saya bukan teroris dan tidak ada bukti bahwa saya terlibat teroris,” tambahnya. Ia juga memastikan bahwa dirinya tidak memiliki hubungan apa pun dengan kelompok Al Qaidah pimpinan Usamah Bin Ladin. Ia menjelaskan, secara fisik dirinya tidak berhubungan dengan Usamah, tetapi secara iman ada. “Dan saya memuji perjuangannya dalam melawan teroris AS,” tukasnya. Mengenai Fathur Rohman Al Ghozy, Kiai berjenggot putih itu menjelaskan, bahwa konon, Fathur memang pernah sekolah di pondok pesantren yang didirikannya. “Tetapi waktu itu saya sudah di Malaysia,” katanya. Meskipun termasuk Fathur muridnya, Kiai Ba’asyir mengaku tidak mengetahui apa-apa tentang diri Fathur, karena ia meninggalkan pondok pesantren sekitar 15 tahun. Sedangkan terhadap Abu Jibril, seorang penganut aliran As Sunah yang ditangkap Kepolisian Malaysia, Kiai Ba’asyir mengaku kenal. Abu Jibril, lanjutnya, adalah mubaligh yang baik. Keduanya sering melakukan tukar pikiran tentang agama. Penahanan tersebut, menurut Ba’asyir, karena dia dianggap telah mengajarkan ajaran jihad dan mati sahid, yang dianggap membahayakan pemerintah Malaysia. “Inilah keanehan bagi negara yang mengaku Islam,” kata dia. Menanggapi kebiasaan Abu Jibril yang suka berganti nama, misalnya dengan nama Iqbal, Kiai Ba’asyir menjelaskan bahwa nama asli Abu Jibril adalah Mohamad Iqbal Bin A Rahman. “Abu Jibril adalah nama alias,” katanya. Di dalam Islam, lanjut dia, Abu adalah sebutan kehormatan. Ia mencontohkan, dirinya yang mempunyai anak bernama Rasyid, maka bisa dipanggil Abu Rasyid. (Retno Sulistyowati-Tempo News Room)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.