Pemberangkatan Haji Terganggu, Manajemen Indonesia Airlines Minta Maaf

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden Direktur Indonesian Airlines (IA), Rudy Setyopurnomo, minta maaf kepada masyarakat atas gangguan dan keterlambatan perjalanan para calon ibadah haji ke tanah suci. "Memang kesalahan kami miss. Ini adalah kali pertama kami ikut berpartisipasi dalam perjalanan haji," katanya, kepada pers, di bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Minggu (26/1). Seperti diberitakan kemarin, sekitar 1.000 lebih para calon jamaaah haji pengguna fasilitas ONH Plus selama sepekan terakhir mengalami ketidakpastian keberangkatan ke Arab Saudi. Mereka yang mengalami keterlambatan keberangkatan ini berasal dari biro perjalanan haji yang memakai jasa penerbangan Indonesia Airlines. Menurut Rudy, sebagai maskapai penerbangan swasta pertama di Indonesia yang diberi izin memberangkatkan para calon jamaah haji, pihaknya tidak mengantisipasi adanya prosedur jaminan bank (bank guarantee) di negara Arab Saudi. "Kami memang miss soal itu," katanya. Pada bulan Desember tahun lalu, tuturnya, Indonesian Airlines diundang oleh pemerintahan Arab Saudi untuk ikut berpartisasi dalam perjalanan ibadah haji di Indonesia. "Ini tawaran yang pertama bagi perusahaan swasta lain, di luar Garuda. Mereka meminta kita menyewakan pesawat," kata Rudy. Selanjutnya, tanggal 20 Desember dilakukan penandatanganan kontrak kerjasama. Maskapai ini akan memberangkatkan 2.000 calon jamaah haji, dari 5.000 jamaah yang dijatahkan dalam perjanjian itu. Penerbangan perdana dengan mengangkut 450 jamaah haji dilakukan pada tanggal 8 Januari lalu, dari Batam menuju Madinah. Untuk mendapatkan izin mendarat, kata Rudy, maskapai ini disyaratkan harus menandatangani Commercial Agreement dengan Saudi Arabian Airlines, pada tanggal 13 Januari. Masalah baru muncul, saat Indonesia Airlines diharuskan mengeluarkan jaminan bank yang dikeluarkan oleh bank lokal di Arab saudi. Padahal, maskapai ini menyiapkan jaminan bank dari Indonesia. "Yang membayar bank guarantee adalah yang memiliki account di sana," kata Rudy. Seiring dengan terus mepetnya waktu --tanggal 21 Januari Indonesia Airlines harus menerbangkan 450 penumpangnya, dan maskapai ini belum juga bisa memberikan jaminan bank, akhirnya pesawatnya tertahan di Arab Saudi. "Baru hari Sabtu (25/1), setelah jam buka bank, kami membayar dan pesawat dapat terbang," jelas Rudy. Dia menolak menyebutkan rekening milik siapa untuk membayarkan uang jaminan itu. "Tidak usah disebut siapa. Bilang saja, Seorang pengusaha Arab Saudi," kilah Rudy, sambil menyebutkan jumlahnya sekitar 1 juta Real Arab Saudi. Setelah masalah jaminan bank ini selesai, Rudy menjamin semua calon haji yang semula memutuskan menggunakan penerbangan maskapainya akan tetap diberangkatkan ke tanah suci. Seperti diketahui, dari 2.000 calon haji yang direncanakan diterbangkan, sebanyak 1.100 jamah mengundurkan diri akibat masalah ini. Mereka dipindahkan ke perusahaan penerbangan lain, seperti Qatar Airways, Garuda Indonesia, Malaysia Air System, dan Emirate. Sedangkan 450 jamah lainnya akan diberangkatkan Senin pagi (27/1), setelah pesawat Indonesia Airlines yang tertahan itu mendarat di Jakarta, pada Minggu sore ini. "Kami bertanggungjawab atas semua kerugian komersial para calon jamaah haji yang diakibatkan kejadian ini," kata Rudy. Ganti rugi itu, antara lain, membayar ongkos penginapan dan memberikan ganti rugi secara materiil. Tapi, dia menolak menyebutkan berapa besarnya kerugian yang diderita perusahannya karena kejadian ini, dan pengalihan penumpang ke maskapai lain. "Saya belum hitung berapa kerugian materiilnya," katanya. Alasannya, mereka saat ini lebih memfokuskan pada bagaimana cara memberangkatkan semua calon jamaah ke Arab Saudi. Mengenai masalah lainnya, seperti adanya rencana dari agen biro perjalanan haji ONH plus menuntut mereka, Rudy menyatakan kesiapannya. "Kami siap dituntut oleh mereka," ujarnya. Selanjutnya, perusahaan ini berjanji akan lebih memperbaiki dan mempersiapkan diri lebih baik dalam melayani perjalanan pulang para jamaah haji. (Yura Syahrul - Tempo News Room)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.