Kasus Gagal Ginjal Akut Disebut Tragedi Kekuasaan

Reporter

Editor

Febriyan

Desi Permatasari (kedua dari kanan), ibu dari pasien gagal ginjal akut yang hingga kini masih terbaring kaku di RSCM. Desi menceritakan kondisi anaknya pada Rabu, 30 November 2022.

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Badan Pengurus Centra Initiative Al Araf, menyatakan pemerintah seharusnya dapat melihat kasus gagal ginjal akut pada anak yang telah menelan lebih dari 170 korban jiwa sebagai tragedi oleh kekuasaan. Dalam keterangannya, ia menuntut agar pemerintah dapat melakukan pemenuhan hak atas kesehatan yang diatur dalam konstitusi dan mengimbau agar tidak lari dari tanggung jawabnya untuk menyelesaikan persoalan ini.

“Saya melihat pemerintah mencoba lari dari persoalan ini ke persoalan lainnya sehingga dengan mudahnya berulang kali BPOM atau pemerintah menganggap kasus sudah selesai,” ujar Al Araf dalam konferensi pers di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Rabu, 30 November 2022.

Al Araf menilai pernyataan Kementerian Kesehatan ihwal selesainya kasus gagal ginjal akut pada anak sebagai hal yang menyakiti hati keluarga korban. Terlebih, ia menyebutkan bahwa hingga saat ini aktivitas perawatan baik itu rawat inap maupun jalan masih dilakukan untuk pemulihan.

Pernyataan Menteri Kesehatan yang dipermasalahkan

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya sempat menyatakan bahwa kasus gagal ginjal akut  telah selesai setelah pihaknya menghentikan peredaran obat sirup yang diduga menyebabkan masalah ini.

“Kalau ginjal akut dari sisi kementerian kesehatan sebenarnya sudah selesai. Kenapa? Sejak kita berhentiin obat-obatan tersebut, itu turun drastis dan sudah tidak ada kasus baru lagi. Sudah 2 pekan,” kata Budi usai menghadiri konferensi pers di gedung Kementerian Kesehatan di Jakarta pada Jumat, 18 Oktober 2022.

DPR diminta menyelidiki BPOM hingga distributor bahan baku obat

Al Araf juga meminta DPR untuk menyelidiki BPOM termasuk kepalanya, Kementerian Kesehatan, hingga produsen dan distributor bahan baku obat untuk mengkaji permasalahannya. Selain itu, pemerintah pun diimbau agar menunjukkan komitmen yang bersifat kontinu agar memberikan efek jangka panjang. 

“Jadi agak aneh sekali wakil rakyat kalau dia tidak mau turun terhadap persoalan yang sangat serius ini secara konsisten,” kata Al Araf.

Kementerian Kesehatan sebelumnya menyatakan gagal ginjal akut pada anak yang meningkat sejak Agustus hingga akhir Oktober lalu dipicu oleh konsumsi obat sirup yang mengandung Propilen Glikol (PG), Dietilen Glikol (DEG) dan Etilen Glikol Butil Eter (EGBE) di atas ambang batas aman.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri pun telah menetapkan tiga perusahaan produsen obat sirup plus satu perusahaan pemasok bahan baku obat sebagai tersangka. Tiga produsen obat tersebut adalah PT Afi Farma, PT Yarindo Farmatama, PT Universal Pharmaceutical Industries sementara satu perusahaan pemasok bahan baku adalah CV Samudera Chemical.

Kementerian Kesehatan pun telah mendatangkan obat Fomepizole dari sejumlah negara untuk menangani pasien gagal ginjal akut. Menurut data Kemenkes hingga awal November lalu, terdapat 325 anak yang mengalami masalah tersebut dengan 178 diantaranya meninggal. 

ALFITRIA NEFI PRATIWI






Pesan Menkes untuk Turunkan Prevalensi Stunting

1 hari lalu

Pesan Menkes untuk Turunkan Prevalensi Stunting

Menkes menyatakan pada 2023 pemerintah fokus mengejar prevalensi stunting turun ke angka 17 persen. Berikut langkah yang dilakukan.


Mengenal 3 Jenis Jamu yang Perlu Anda Ketahui

4 hari lalu

Mengenal 3 Jenis Jamu yang Perlu Anda Ketahui

Jamu adalah obat tradisional yang dibuat degan bahan akar, bahan hewan, bunga, kulit kayu, dan daun.


Bamsoet Dukung Kemenkes Bangun Sistem Penerbitan SIP Dokter

4 hari lalu

Bamsoet Dukung Kemenkes Bangun Sistem Penerbitan SIP Dokter

Proses pemberian Surat Izin Praktik dokter saat ini kerap dimanfaatkan sejumlah oknum.


Hadapi Masalah Stunting di Jakarta, Heru Budi Hartono Bakal Temui Menkes

5 hari lalu

Hadapi Masalah Stunting di Jakarta, Heru Budi Hartono Bakal Temui Menkes

Heru Budi meninjau upaya pencegahan stunting dan menemukan anak yang fisik, berat dan tinggi badan tidak sesuai dengan balita pada umumnya.


Begini Cara Mendapatkan Vaksin Booster Kedua, Apa Syaratnya?

5 hari lalu

Begini Cara Mendapatkan Vaksin Booster Kedua, Apa Syaratnya?

Kementerian Kesehatan mengumumkan bahwa pemberian vaksin booster kedua sudah bisa diperoleh masyarakat umum. Apa saja syaratnya?


Bareskrim Polri Tetapkan Empat Tersangka Perorangan dalam Kasus Gagal Ginjal Akut Anak

5 hari lalu

Bareskrim Polri Tetapkan Empat Tersangka Perorangan dalam Kasus Gagal Ginjal Akut Anak

Penyidik menetapkan empat tersangka perorangan dalam kasus gagal ginjal akut yang kaitannya dengan korporasi. Kemudian telah dilakukan penahanan.


Kementerian Kesehatan Persiapkan Vaksinasi Covid-19 untuk Bayi dan Balita

7 hari lalu

Kementerian Kesehatan Persiapkan Vaksinasi Covid-19 untuk Bayi dan Balita

Kementerian Kesehatan akan melakukan upaya sosialisasi vaksinasi Covid-19 untuk balita kepada masyarakat.


Polda Metro Jaya Sita Ratusan Ribu Obat Palsu dan Ilegal, Sebelas Orang Ditangkap

8 hari lalu

Polda Metro Jaya Sita Ratusan Ribu Obat Palsu dan Ilegal, Sebelas Orang Ditangkap

Polisi menyita 430 ribu butir obat palsu dan ilegal dari tangan para tersangka


Kasus Gagal Ginjal Akut pada Anak, Bareskrim Polri Serahkan Berkas Perkara PT Afi Farma ke Kejaksaan

15 hari lalu

Kasus Gagal Ginjal Akut pada Anak, Bareskrim Polri Serahkan Berkas Perkara PT Afi Farma ke Kejaksaan

Bareskrim Polri telah menyerahkan berkas kasus gagal ginjal akut pada anak ke Kejaksaan Agung dengan tersangka korpasi PT Afi Farma.


Ahli Ingatkan Bahaya Pakai Bahan Daur Ulang Cacahan Polikarbonat untuk Kemasan Air Minum

16 hari lalu

Ahli Ingatkan Bahaya Pakai Bahan Daur Ulang Cacahan Polikarbonat untuk Kemasan Air Minum

Berikut runutan peristiwa bagaimana bahan polikarbonat diolah menjadi kemasan dan pada titik mana berpotensi membahayakan kesehatan karena terjadi lepasan BPA.