Soal Peluang Buka Kembali Investigasi Tragedi Kanjuruhan, Komnas HAM: Belum Diputuskan

Editor

Febriyan

Keluarga korban Tragedi Kanjuruhan mendatangi kantor Komnas HAM di Jakarta, Kamis, 17 November 2022. TEMPO/MIRZA BAGASKARA

TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan belum ada keputusan untuk membuka kembali investigasi Tragedi Kanjuruhan yang pernah lembaga itu lakukan. Komisioner Komnas HAM, Hari Kurniawan, menyatakan pihaknya masih mempelajari berkas-berkas penyelidikan yang dilakukan komisioner periode sebelumnya.

Hari tak menutup kemungkinan pihaknya membuka kembali investigasi Tragedi Kanjuruhan. Asalkan, kata dia, muncul bukti-bukti baru yang menunjukkan kasus tersebut merupakan kasus yang bersifat meluas dan sistematis. 

"Nantinya agar kasus Kanjuruhan bisa dikatakan sebagai kasus pelanggaran HAM berat," ujar Hari melalui pesan tertulis kepada Tempo, Ahad, 27 November 2022.

Terkait status Tragedi Kanjuruhan yang hanya dianggap sebagai pelanggaran HAM oleh Komisioner Komnas HAM periode sebelumnya, Hari berkata tidak bisa berkomentar lebih jauh. Sebab, kata dia, proses telaah itu sendiri masih sedang berlangsung oleh para komisioner Komnas HAM.

"Pengkajian kita nantinya juga akan melihat apakah keputusan penetapan status pelanggaran HAM tragedi Kanjuruhan oleh Komnas HAM sebelumnya terburu-buru atau tidak," ujar dia. 

Akan gelar rapat komisioner bulan depan

Senada dengan Hari, Wakil Ketua Komnas HAM, Abdul Haris Semendawai, menyatakan saat ini pihaknya belum memutuskan langkah lanjutan terhadap kasus tersebut. Ia menyebut semuanya tergantung pada hasil rapat komisioner setelah menimbang data-data dan fakta baru.

"Mudah-mudahan di bulan Desember bisa dilaksanakan rapat komisioner," kata Haris melalui pesan WhatsApp.

Mantan Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban itu juga berkata memang sudah ada pihak keluarga korban yang melapor kepada Komnas HAM. Namun, pihaknya sejauh ini masih hanya sebatas menampung laporan dan aspirasi saja.

"Jadi memang belum ada keputusan final dari para komisioner terhadap kasus Kanjuruhan," kata dia saat ditanyai oleh Tempo.

Tragedi Kanjuruhan terjadi pasca laga BRI Liga 1 antara Arema FC vs Persebaya Surabaya pada 1 Oktober 2022.  Kejadian itu bermula ketika sekelompok suporter memaksa masuk ke dalam lapangan. Sontak, polisi yang bertindak sebagai aparat pengaman menembakkan gas air mata ke tengah lapangan dan dalam tribun stadion.

Ribuan suporter yang panik berebutan menuju pintu keluar. Naasnya, menurut saksi, sejumlah pintu keluar dalam kondisi terkunci. Terjadilah desak-desakan antar suporter yang berusaha menyelamatkan diri dan akhirnya jatuh 137 korban.

Komnas HAM dalam investigasinya menyatakan tragedi tersebut sebagai pelanggaran HAM biasa, bukan berat. Meskipun demikian, Komnas HAM menyatakan ada sejumlah pihak yang seharusnya ikut bertanggungjawab dalam tragedi ini namun hingga saat ini belum dijerat secara hukum. 

Polisi telah menetapkan enam tersangka Tragedi Kanjuruhan. Mereka adalah Direktur PT Liga Indonesia Baru (LIB) Akhmad Hadian Lukita, Ketua Panitia Pelaksana Pertandingan Arema FC Abdul Haris, Security Officer Suko Sutrisno, Komandan Kompi III Brimob Polda Jatim AKP Hasdarman, Kabag Ops Polres Malang Wahyu SS, dan Kasat Samapta Polres Malang Ajun Komisaris Polisi Bambang Sidik Achmadi.






Komnas HAM Sesalkan Sidang Kasus Tragedi Kanjuruhan Dilaksanakan Tertutup

18 jam lalu

Komnas HAM Sesalkan Sidang Kasus Tragedi Kanjuruhan Dilaksanakan Tertutup

Uli menyebut persidangan tragedi Kanjuruhan memiliki urgensi untuk dijalankan secara terbuka.


Menpora Berharap Arema FC Tak Bubar dan Tetap Bermain di Liga 1

21 jam lalu

Menpora Berharap Arema FC Tak Bubar dan Tetap Bermain di Liga 1

Menpora Zainudin Amali berharap klub Arema FC tetap berlaga di Liga 1 Indonesia 2022-2023.


Kasus Penembakan Warga Dogiyai, Papua Tengah, Dilaporkan ke Komnas HAM

1 hari lalu

Kasus Penembakan Warga Dogiyai, Papua Tengah, Dilaporkan ke Komnas HAM

Komnas HAM menyatakan akan menelaah terlebih dahulu soal laporan kasus penembakan warga Dogiyai, Papua Tengah.


Liga 1: Ini Sederet Konsekuensi yang Akan Terjadi Bila Arema FC Membubarkan Diri

1 hari lalu

Liga 1: Ini Sederet Konsekuensi yang Akan Terjadi Bila Arema FC Membubarkan Diri

Arema FC kini tengah menimbang opsi terburuk: membubarkan diri. Ada sederet konsekunsi yang akan mengikuti bila pembubaran diri dilakukan.


Komnas HAM Didesak Bentuk Tim Pencari Fakta Kasus Dogiyai

1 hari lalu

Komnas HAM Didesak Bentuk Tim Pencari Fakta Kasus Dogiyai

Pelapor akan mendatangi kantor Komnas HAM Senin siang ini.


Buntut Penyerangan Markas Arema FC, Manajemen Klub Singo Edan Pertimbangkan untuk Bubar

1 hari lalu

Buntut Penyerangan Markas Arema FC, Manajemen Klub Singo Edan Pertimbangkan untuk Bubar

Manajemen Arema FC akan mempertimbangkan untuk mengambil keputusan bubar jika dianggap tidak kondusif.


Reaksi Manajemen Arema FC Soal Demo Aremania yang Berujung Ricuh

2 hari lalu

Reaksi Manajemen Arema FC Soal Demo Aremania yang Berujung Ricuh

Manajemen Arema FC menyatakan membuka ruang dialog dengan para pendukung klub yang biasa disebut Aremania.


Demonstrasi Aremania Berujung Ricuh, Markas Arema FC Rusak karena Dilempari

2 hari lalu

Demonstrasi Aremania Berujung Ricuh, Markas Arema FC Rusak karena Dilempari

Demonstrasi para pendukung Arema FC, Aremania, di depan kantor klub pada Minggu siang, 29 Januari 2023, berujung ricuh.


Rekap Hasil Liga 1 Pekan Ke-21: Madura United vs Persebaya 0-2, Persebaya Rebut Puncak Klasemen

2 hari lalu

Rekap Hasil Liga 1 Pekan Ke-21: Madura United vs Persebaya 0-2, Persebaya Rebut Puncak Klasemen

Hasil Liga 1 pekan ke-21, Minggu, 29 Januari 2023: Persija Jakarta vs Persikabo 1973 1-0 dan Madura United vs Persebaya 0-2.


Komnas HAM Apresiasi Vonis Seumur Hidup Pelaku Mutilasi Warga Mimika

2 hari lalu

Komnas HAM Apresiasi Vonis Seumur Hidup Pelaku Mutilasi Warga Mimika

Komnas HAM berharap putusan ini dapat menjadi sinyal langkah maju dalam penegakan hukum dan hak asasi manusia di Papua.