Soal Gas Air Mata di Tragedi Kanjuruhan, Polri: Kita Evaluasi dan Selidiki Dulu

Petugas medis memeriksa korban kerusuhan di RSUD Saiful Anwar menyusul kerusuhan usai pertandingan sepak bola liga BRI Liga 1 antara Arema vs Persebaya di Malang, Jawa Timur, 2 Oktober 2022. Kadinkes Kabupaten Malang Wijayanto Wijoyo mengatakan bahwa korban tragedi Kanjuruhan bertambah menjadi total 130 jiwa. TEMPO/M Rizky

TEMPO.CO, Jakarta - Polri menjadi salah satu pihak yang jadi sorotan dalam tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 129 orang. Terutama soal penggunaan gas air mata di dalam stadion.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Dedi Prasetyo meminta masyarakat bersabar agar penyidik bisa bekerja menuntaskan kasus ini.

“Harap bersabar, Pak Kapolri dan Pak Menpora hari ini melakukan rapat dulu bersama pemerintah daerah Provinsi Jawa Timur, tentunya sesuai arahan Presiden, berikan kesempatan kepada penyidik untuk bekerja, nanti hasilnya disampaikan,” kata Dedi Prasetyo kepada wartawan, Ahad, 2 Oktober 2022.

Jenderal bintang dua ini mengatakan, Polri masih mengevaluasi terlebih dahulu secara menyeluruh dan komprehensif. Hasilnya, kata dia, akan disampaikan. “Kita tidak boleh buru-buru menyimpulkan,” ujarnya.

Sebelumnya, polisi diduga melanggar aturan FIFA karena menembakan gas air mata ke kerumunan tribun sehingga menyebabkan massa berdesakan keluar. Tudingan adanya pelanggaran tersebut dilontarkan oleh Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso. Menurut dia, dalam aturan FIFA, senjata api dan pengendali massa tak diperbolehkan masuk ke dalam stadion.

"Penggunaan gas air mata di stadion sepak bola sesuai aturan FIFA dilarang. Hal itu tercantum dalam FIFA Stadium Safety and Security Regulations pada pasal 19 huruf b disebutkan bahwa sama sekali tidak diperbolehkan mempergunakan senjata api atau gas pengendali massa," kata Sugeng dalam keterangan tertulisnya, Ahad, 2 Oktober 2022.

Sugeng juga menyatakan bahwa polisi sempat melepaskan tembakan gas air mata secara membabi buta ke arah penonton. Hal itu membuat penonton panik sehingga berdesakan ke luar stadion.

"Akibatnya, banyak penonton yang sulit bernapas dan pingsan. Sehingga, banyak jatuh korban yang terinjak-injak di sekitar Stadion Kanjuruhan Malang," kata dia.

Karena itu, IPW mendesak agar Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mencopot 
Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat. Dia menilai Ferli harus bertanggung jawab dalam mengendalikan pengamanan pada pertandingan antara tuan rumah Arema FC Malang melawan Persebaya Surabaya itu.

Selain itu, Sugeng juga meminta agar Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta memproses pidana panitia penyelenggara pertandingan. Dia tak ingin tragedi Kanjuruhan ini menguap seperti kejadian pada laga Piala Presiden 2022 di Bandung Juni lalu.

Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta menyatakan bahwa tragedi Kanjuruhan itu bermula ketika sekitar tiga ribu suporter turun ke lapangan pasca pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya. Mereka tidak puas dengan kekalahan tim kesayangannya dengan skor 2-3 di kandang sendiri.

"Dari 40 ribu penonton, tidak semua anarkistis. Hanya sebagian, sekitar 3.000 penonton turun ke lapangan," kata Nico dalam konferensi pers Ahad, 2 Oktober 2022.

Para suporter Arema FC itu disebut berupaya mencari pemain dan ofisial. Melihat kondisi itu, menurut Nico, petugas keamanan berupaya melakukan pencegahan agar para suporter tidak mengejar pemain dan ofisial.

Aparat keamanan lantas melepaskan gas air mata untuk membubarkan para suporter. Menurut Nico, penembakan gas air mata dilakukan karena para pendukung tim berjuluk Singo Edan dinilai telah melakukan tindakan anarkis dan membahayakan keselamatan para pemain dan ofisial.

"Karena gas air mata itu, mereka pergi keluar ke satu titik, di pintu keluar. Kemudian terjadi penumpukan dan dalam proses penumpukan itu terjadi sesak nafas, kekurangan oksigen," kata dia.

Nico menyatakan, dari 127 orang korban meninggal tersebut dua diantaranya merupakan anggota Polri. Selain korban jiwa, terdapat juga 14 unit kendaraan yang mengalami kerusakan, 10 diantaranya merupakan kendaraan Polri.

Duel Arema FC vs Persebaya Surabaya memang dikenal sebagai pertarungan sarat gengsi. Pasalnya, laga itu mempertemukan dua tim terbesar di Jawa Timur.

Baca juga: Tragedi Kanjuruhan dan Peru Ada Kesamaan, Amnesty Internasional Desak Pemerintah Usut Tuntas

EKA YUDHA SAPUTRA | FEBRIYAN | ANTARA






Korban Tragedi Kanjuruhan Buat Surat Pengaduan Masyarakat Terhadap Kapolri dan Kabareskrim

10 jam lalu

Korban Tragedi Kanjuruhan Buat Surat Pengaduan Masyarakat Terhadap Kapolri dan Kabareskrim

Korban Tragedi Kanjuruhan menantang Kapolri dan Kaberskrim untuk membongkar ulang konstruksi hukum penanganan perkara ini.


7 Fakta Bom Bunuh Diri di Polsek Astanaanyar, Mantan Narapidana Terorisme hingga Lone Wolf

1 hari lalu

7 Fakta Bom Bunuh Diri di Polsek Astanaanyar, Mantan Narapidana Terorisme hingga Lone Wolf

Bom bunuh diri yang terjadi di Polsek Astanaanyar Bandung kemarin dilakukan seorang mantan narapidana terorisme Agus Sujatno.


Pelaku Bom Polsek Astana Anyar Bawa Pesan Soal RKUHP, Wakil Ketua MPR: Perlu Bukti Lebih Lanjut

1 hari lalu

Pelaku Bom Polsek Astana Anyar Bawa Pesan Soal RKUHP, Wakil Ketua MPR: Perlu Bukti Lebih Lanjut

Hidayat Nur Wahid menyatakan pelaku bom Polsek Astana Anyar memiliki keyakinan tak ada hukum yang benar selain syariah.


Kuasa Hukum Ismail Bolong Sebut Kliennya Sudah Menjadi Pemilik Tambang Ilegal Saat Masih Menjadi Anggota Polri

1 hari lalu

Kuasa Hukum Ismail Bolong Sebut Kliennya Sudah Menjadi Pemilik Tambang Ilegal Saat Masih Menjadi Anggota Polri

Ismail Bolong mengaku sudah menjadi pemilik tambang ilegal saat masih menjadi anggota Polri.


Liga 1: Dewa United vs Arema FC 0-2, Javier Roca: untuk Semua Keluarga Korban Aremania dan Aremanita

1 hari lalu

Liga 1: Dewa United vs Arema FC 0-2, Javier Roca: untuk Semua Keluarga Korban Aremania dan Aremanita

Arema FC berhasil mengalahkan Dewa United dengan skor 2-0 dalam pertandingan lanjutan kompetisi Liga 1.


Kuasa Hukum Ismail Bolong Sebut Kasus Kliennya Adalah Perizinan Tambang Ilegal, Bukan Suap

1 hari lalu

Kuasa Hukum Ismail Bolong Sebut Kasus Kliennya Adalah Perizinan Tambang Ilegal, Bukan Suap

Kuasa hukum Ismail Bolong menyatakan kliennya tak dijerat soal aliran dana tambang ilegal ke sejumlah perwira Polri.


Klasemen Liga 1 Pekan Ke-12: Kalahkan Dewa United, Arema FC Perbaiki Peringkat

1 hari lalu

Klasemen Liga 1 Pekan Ke-12: Kalahkan Dewa United, Arema FC Perbaiki Peringkat

Arema FC berhasil memperbaiki posisinya dalam klasemen Liga 1 setelah mengalahkan Dewa United 2-0.


Hasil Liga 1: Dewa United vs Arema FC 0-2, Rizky Dwi Febrianto dan Evan Dimas Cetak Gol

1 hari lalu

Hasil Liga 1: Dewa United vs Arema FC 0-2, Rizky Dwi Febrianto dan Evan Dimas Cetak Gol

Rizky Dwi Febrianto membuka keunggulan lewat tendangan penalti saat Dewa United vs Arema FC 0-2 di pertandingan Liga 1 pekan ke-12, Rabu, 7 Desember.


Waspada Bom Polsek Astanaanyar, Kapolres Bogor Ajak Warga Tingkatkan Keamanan dan Mitigasi Terorisme

1 hari lalu

Waspada Bom Polsek Astanaanyar, Kapolres Bogor Ajak Warga Tingkatkan Keamanan dan Mitigasi Terorisme

Pascabom Polsek Astanaanyar, masyarakat Kabupaten Bogor diminta meningkatkan deteksi dini terorisme.


Moeldoko Tanggapi Bom Polsek Astana Anyar: Tak Ada Untungnya

1 hari lalu

Moeldoko Tanggapi Bom Polsek Astana Anyar: Tak Ada Untungnya

Moeldoko menilai aksi bunuh diri seperti yang terjadi pada peristiwa bom Polsek Astana Anyar tak menguntungkan siapa pun.