Mengapa Penembakan Anggota FPI di KM 50 Masuk Kategori Unlawful Killing?

Sejumlah anggota tim penyidik Bareskrim Polri memperagakan adegan saat rekonstruksi kasus penembakan enam anggota laskar Front Pembela Islam (FPI) di Karawang, Jawa Barat, Senin, 14 Desember 2020. Penembakan terjadi Senin dini hari sekitar pukul 00.30 di Tol Cikampek Kilometer 50. ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar

TEMPO.CO, Jakarta - Kasus penembakan anggota FPI atau peristiwa KM 50 kembali disebut-sebut setelah kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir J oleh Ferdy Sambo terungkap. Sejumlah pihak menilai perlu diadakan pengusutan ulang lantaran meragukan kredibilitas Sambo yang turut terlibat menangani kasus Unlawful Killing ini.

Lalu, apa sebenarnya Kasus KM 50 ini? Tragedi apa yang terjadi sehingga disebut Unlawful Killing?

Kasus KM 50 merupakan tragedi tewasnya enam anggota Laskar Forum Pembela Islam atau FPI pada Senin dini hari, 7 Desember 2020. Mereka tewas ditembak personel polisi di Jalan Tol Cikampek Kilometer 50. Itulah sebabnya tragedi ini disebut Kasus KM 50. Dikategorikan unlawful killing, menurut Komisi Nasional Hak Asasi Manusia atau Komnas HAM, pembunuhan ini terjadi di luar proses hukum oleh aparat.

Menurut Jaksa Penuntut Umum Zet Tadung Allo, sebagaimana disampaikan saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin, 18 Oktober 2021, kasus ini bermula dari tidak hadirnya Rizieq Shihab saat dipanggil kepolisian untuk diperiksa. Rizieq diperiksa sebagai saksi terkait kasus pelanggaran protokol kesehatan saat Pandemi Covid-19. Polda Metro Jaya memerintahkan sejumlah personelnya untuk membuntuti Rizieq Shihab. Ada tiga surat perintah menurut JPU.

Menjalankan tiga surat perintah tersebut, tujuh anggota Resmob kemudian diturunkan. Mereka dibagi menjadi tiga tim. Regu pertama terdiri dari Bripka Faisal, Ipda Yusmin, Briptu Fikri, dan Ipda Elwira Priyadi Zendrato berada di mobil Toyota Avanza nomor polisi atau nopol K 9143 EL. Regu kedua yakni Bripka Adi Ismanto dan Aipda Toni Suhendar mengendarai Daihatsu Xenia bernopol B 1519 UTI. Regu ketiga terdiri dari satu personel, Bripka Guntur Pamungkas, menggunakan Toyota Avanza nopol B 1392 TWQ.

Sejak 5 Desember 2020, mereka sudah turun ke lapangan untuk mengawasi segala aktivitas Habib Rizieq. Lalu pada 6 Desember, tim melakukan pemantauan di Perumahan The Nature Mutiara Sentul di Kabupaten Bogor, di mana diketahui Habib Rizieq berada saat itu. Menurut jaksa, menjelang tengah malam, terdapat 10 mobil iring-iringan keluar dari perumahan itu yang merupakan rombongan Habib Rizieq. Mereka menuju arah pintu Tol Sentul 2. Tetapi satu di antaranya, jenis Pajero, bergerak ke arah Bogor.

Regu pertama dan kedua kemudian membuntuti rombongan yang bergerak ke Tol Sentul. Sementara Bripka Guntur menyusul mobil Pajero. Namun dalam pembuntutan tersebut, mobil Bripka Ismanto tertinggal dari rombongan. Disebutkan pengejaran itu berakhir dengan baku tembak yang terjadi di Jalan Simpang Susun Karawang Barat, Jawa Barat pada Senin dini hari, 7 Desember 2020. Dua anggota laskar tewas yakni Luthfi Hakim dan Andi Oktiawan.

Pengejaran terus berlanjut hingga KM 50 tol Cikampek. Empat anggota laskar yang masih hidup kemudian dibawa ke Polda Metro Jaya menggunakan satu mobil. Jaksa menyebutkan mereka tidak diborgol. Di dalam mobil, keempatnya disebut berupaya melawan hingga polisi menembak mereka hingga tewas. Mereka adalah Muhammad Reza, Ahmad Sofyan alias Ambon, Faiz Ahmad Syukur, dan Muhammad Suci Khadavi.

Kuasa Hukum FPI: Skenario Palsu Tembak Menembak

Kuasa Hukum Korban KM50 Laskar Front Pembela Islam, Aziz Yanuar menyampaikan saat ini pihaknya terus mendorong semoga instansi dan lembaga untuk mengusut kasus penembakan terhadap 4 anggota Laskar FPI tersebut.

Ia terus mendorong agar kasus penembakan tersebut bisa termasuk kategori pelanggaran HAM berat. Sejak awal, tim kuasa hukum mendorong kasus KM 50 diproses berdasarkan UU 26/2000 tentang pengadilan HAM. "Karena kasus ini adalah pelanggaran HAM berat," kata Aziz Yanuar, Rabu, 24 Agustus 2022. 

Aziz lalu mengatakan bahwa di kasus pembunuhan 4 Laskar FPI ini ada semacam perlindungan institusional. Perlindungan itu dibuat seolah insiden tembak menembak ini menjadi benar adanya.

"Jadi kelompok eksekutor dan back up perlindungan secara institusional melalui rekayasa skenario palsu tembak menembak ini menjadi satu kesatuan kepentingan bersama," kata Aziz.

Lebih jauh mengenai kasus KM 50, silakan saksikan film dokumenter  di YouTube Kilometer 50 Tempodotco. Klik di sini untuk masuk ke YouTube Tempodotco: https://www.youtube.com/watch?v=KzLIIDyAX9U

HENDRIK KHOIRUL MUHID  I  SDA

Baca: Kasus Km 50 dan Ferdy Sambo, Apa Itu Unlawful Killing?

Ikuti berita terkini dari Tempo di Google News, klik di sini.






Viral Petugas Pengadilan Berkaraoke di Jeda Sidang Bripka RR, PN Jaksel: Itu Video Editan

6 jam lalu

Viral Petugas Pengadilan Berkaraoke di Jeda Sidang Bripka RR, PN Jaksel: Itu Video Editan

Dua petugas Pengadilan Negeri Jakarta Selatan terekam sedang berkaraoke ketika skors sidang pemeriksaan saksi Ricky Rizal atau Bripka RR.


Ferdy Sambo: Bharada E Seharusnya Juga Dipecat, Bukan Cuma Saya

7 jam lalu

Ferdy Sambo: Bharada E Seharusnya Juga Dipecat, Bukan Cuma Saya

Ferdy Sambo menyatakan Bharada E juga seharusnya mendapatkan sanksi PTDH karena menembak Yosua.


Hendra Kurniawan: Ferdy Sambo Tidak Fokus Pimpin Rapat di Hari Pembunuhan Brigadir J

7 jam lalu

Hendra Kurniawan: Ferdy Sambo Tidak Fokus Pimpin Rapat di Hari Pembunuhan Brigadir J

Menurut Hendra Kurniawan Ferdy Sambo terlihat banyak pikiran saat rapat analisis dan evaluasi (anev) semester di Divisi Propam Polri.


Penipuan Bermodus Pesan Singkat Pemberitahuan Kiriman Paket, Retas Ponsel

7 jam lalu

Penipuan Bermodus Pesan Singkat Pemberitahuan Kiriman Paket, Retas Ponsel

Polda Metro Jaya meminta kepada korban penipuan bermodus pesan singkat pemberitahuan kiriman paket untuk segera melapor ke pihak berwajib.


Kuasa Hukum Richard Eliezer Menduga Ferdy Sambo Mau Korbankan Kliennya

8 jam lalu

Kuasa Hukum Richard Eliezer Menduga Ferdy Sambo Mau Korbankan Kliennya

Ferdy Sambo meminta agar istrinya, Ricky Rizal dan Kuat Ma'ruf tak dilibatkan dalam pembunuhan Brigadir Yosua. Dinilai ingin korbankan Richard Eliezer


Eks Anak Buah Kecewa dengan Ferdy Sambo: Jenderal Kok Tega Hancurkan Karier Saya

11 jam lalu

Eks Anak Buah Kecewa dengan Ferdy Sambo: Jenderal Kok Tega Hancurkan Karier Saya

Susanto juga mengungkapkan kekecewan ketika diperintah oleh Ferdy Sambo untuk menangani kematian Brigadir J.


Pinjol di Manado Ancam Sebar Foto Porno Nasabahnya

11 jam lalu

Pinjol di Manado Ancam Sebar Foto Porno Nasabahnya

Tersangka pinjol di Manado itu mengancam bakal menyebar foto porno itu bila peminjam tidak membayar.


Eks Anak Buah Ferdy Sambo Menangis di Ruang Sidang Kasus Brigadir J

12 jam lalu

Eks Anak Buah Ferdy Sambo Menangis di Ruang Sidang Kasus Brigadir J

Dalam kasus Brigadir J, Arif Rachman Arifin diperintahkan Ferdy Sambo untuk menghapus file dan merusak barang bukti rekaman CCTV pos pengamanan.


Polri Ajukan Pencekalan ke Luar Negeri untuk Ismail Bolong

13 jam lalu

Polri Ajukan Pencekalan ke Luar Negeri untuk Ismail Bolong

Nursaleh menjelaskan masa pencekalan Ismail Bolong tersebut berlangsung 16 hari.


Cerita Senior Ferdy Sambo Kesal Diperintah dengan Nada Kasar Urus Jenazah Yosua

13 jam lalu

Cerita Senior Ferdy Sambo Kesal Diperintah dengan Nada Kasar Urus Jenazah Yosua

Susanto merupakan senior dari Ferdy Sambo di Akpol, meski secara kepangkatan Ferdy Sambo lebih tinggi.