Pelabelan BPA tak Pengaruhi Bisnis Depot Air


INFO NASIONAL – Ketua Umum Asosiasi Pemasok dan Distributor Depot Air Minum Indonesia (Apdamindo) — induk organisasi 60.000 depot air minum di Indonesia, Budi Darmawan, menepis isu pelabelan Bisfenol A atau BPA, bahan kimia yang bisa menyebabkan kanker dan kemandulan, pada galon guna ulang yang beredar luas di masyarakat akan memukul bisnis kecil, terutama depot air isi ulang. 

"Sejak awal kami sudah menyatakan dukungan kami ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)," kata Budi dalam sebuah pernyataan, pekan lalu. "Kami melihat bahwa pelabelan tersebut pada dasarnya demi keamanan konsumen dan dunia usaha justru mendapatkan keuntungan dari adaptasi value chain bisnis itu sendiri."

Menurut Budi, industri air minum kemasan adalah bisnis yang sudah berumur lebih dari 50 tahun, dan tentunya wajar apabila terjadi perubahan yang sifatnya disruptif, semisal pelabelan BPA pada galon keras yang mendominasi pasar. 

"Unsur kepastian akan rasa aman bagi konsumen itu selayaknya menjadi prioritas dalam memproduksi pangan terkemas. Konsumen akan memilih produk yang mampu beradaptasi," katanya.

Budi Darmawan, Ketua Umum Asosiasi Pemasok dan Distributor Depot Air Minum Indonesia/APDAMINDO

Apdamindo, lanjut Budi, mengantisipasi peningkatan kepedulian konsumen akan keamanan produk dengan ikut mensosialisasikan kebijakan pemerintah soal bahaya BPA pada galon berbahan plastik polikarbonat. "Karena ini terkait dengan kebiasaan masyarakat, tentunya perlu waktu untuk berubah," katanya.

Menurut Budi, usaha depot air minum merupakan bisnis skala kecil yang berkontribusi cukup besar dalam pangsa pasar air kemasan. "Kontribusi depot air minum pada pangsa pasar air minum cukup besar dalam 23 tahun terakhir antara lain karena yang produk kami benar-benar diminum langsung dan praktis," katanya. 

Budi mengungkapkan, pelabelan galon BPA tidak akan berpengaruh pada bisnis depot air. Menurutnya, model bisnis depot air adalah penyediaan air minum curah yang praktis dan aman untuk masyarakat yang memiliki dan membawa wadahnya sendiri. "Sepanjang konsumen itu menyadari kondisi wadahnya, maka pihak depot akan mengisi dengan air minum sesuai standar kesehatan," katanya. 

Sebelumnya, Deputi Bidang Pengawasan Pangan BPOM, Rita Endang menyatakan rancangan regulasi pelabelan BPA sebatas menyasar produk galon guna ulang berbahan polikarbonat, jenis plastik keras yang pembuatannya menggunakan bahan campuran BPA. Jenis plastik ini juga banyak digunakan sebagai material bangunan semisal atap garasi.

Menurut Rita, sekitar 50 juta lebih warga Indonesia sehari-harinya mengkonsumsi air kemasan bermerek. Dari total 21 miliar liter produksi industi air kemasan per tahunnya, 22 persen di antaranya beredar dalam bentuk galon guna ulang. Dari yang terakhir, 96,4 persen berupa galon berbahan plastik keras polikarbonat. 

"Artinya 96,4 persen itu mengandung BPA. Hanya 3,6 persen yang PET (Polietilena tereftalat)," kata Rita menyebut jenis kemasan plastik bebas dari BPA. "Inilah alasan kenapa BPOM memprioritaskan pelabelan risiko BPA pada galon guna ulang." 

Digulirkan BPOM dalam setahun lebih terakhir, regulasi pelabelan risiko BPA -- kini memasuki fase pengesahan -- mencakup kewajiban bagi perusahaan galon bermerek yang menggunakan kemasan polikarbonat, jenis plastik yang pembuatannya menggunakan BPA, untuk mencantumkan label peringatan "Berpontensi Mengandung BPA" terhitung tiga tahun sejak pengesahan aturan.

Sebelumnya Kepala BPOM Penny K. Lukito menyebut, pelabelan BPA perlu agar publik mendapatkan haknya untuk mengetahui informasi produk yang mereka konsumsi. Pelabelan juga untuk mengantisipasi munculnya gugatan hukum terkait keamanan produk air kemasan yang tertuju pada pemerintah dan kalangan produsen di masa dating.

Menurut BPOM, penelitian dan riset mutakhir di berbagai negara, termasuk Indonesia, menunjukkan BPA bisa memicu perubahan sistem hormon tubuh dan memunculkan gangguan kesehatan termasuk kemandulan, penurunan jumlah dan kualitas sperma, feminisasi pada janin laki-laki, gangguan libido dan sulit ejakulasi.

Paparan BPA juga disebutkan bisa memicu gangguan penyakit tidak menular semisal diabetes dan obesitas, gangguan sistem kardiovaskular, gangguan ginjal kronis, kanker prostat dan kanker payudara. Sementara pada anak-anak, paparan BPA dapat memunculkan gangguan perkembangan kesehatan mental dan autisme.(*)

 






Kehadiran Shopee Center di Pekalongan Beri Harapan untuk UMKM

8 jam lalu

Kehadiran Shopee Center di Pekalongan Beri Harapan untuk UMKM

Shopee Center Pekalongan menyediakan berbagai fasilitas untuk UMKM, antara lain studio foto dan studio live streaming.


Pegadaian-DJKN Perpanjang Kerja Sama Akurasi Data Bea Lelang

8 jam lalu

Pegadaian-DJKN Perpanjang Kerja Sama Akurasi Data Bea Lelang

PKS ini sebagai wujud komitmen bersama antara Pegadaian dan DJKN dalam meningkatkan akurasi data bea lelang.


Rapat Monev Inpres 2/2021 Dorong Pekerja Terlindungi BPJS Ketenagakerjaan

10 jam lalu

Rapat Monev Inpres 2/2021 Dorong Pekerja Terlindungi BPJS Ketenagakerjaan

Pada prinsipnya setiap warga negara Indonesia berhak atas jaminan sosial.


Kementan Pastikan Penanganan PMK Maksimal

10 jam lalu

Kementan Pastikan Penanganan PMK Maksimal

Kementan terus melakukan penanganan, termasuk pendistribusian vaksin.


Mas Dhito Penuhi Janji Pasang Palang Pintu Kereta Api

11 jam lalu

Mas Dhito Penuhi Janji Pasang Palang Pintu Kereta Api

Pintu perlintasan di Branggahan ditargetkan rampung Agustus.


Pemilik Akun Klarifikasi, BNI Pastikan Beri Pinjaman dengan Agunan

11 jam lalu

Pemilik Akun Klarifikasi, BNI Pastikan Beri Pinjaman dengan Agunan

Penyaluran kredit ke pihak mana pun pasti melewati proses pemenuhan seluruh persyaratan kredit.


Bamsoet Bicara tentang Disrupsi Digital pada Media Cetak

12 jam lalu

Bamsoet Bicara tentang Disrupsi Digital pada Media Cetak

Masyarakat merasa lebih nyaman dan praktis dalam mengakses berita dengan hanya menjentikkan jari ke smartphone.


HNW Tegaskan Pentingnya Reaktualisasi Dekrit Presiden 5 Juli 1959

12 jam lalu

HNW Tegaskan Pentingnya Reaktualisasi Dekrit Presiden 5 Juli 1959

Seminar ini dapat menggali hikmah dan sisi-sisi yang relevan dari dekrit itu untuk aktualisasi dan reaktualisasi Pancasila.


Harapan Erick Thohir pada HUT Ke-76 BNI

14 jam lalu

Harapan Erick Thohir pada HUT Ke-76 BNI

BNI harus menjadi bank berkapasitas global yang mampu membantu pelaku UMKM, pekerja migran Indonesia, dan diaspora


Puan Maharani Dorong Kolaborasi Bantu Telur Asin

14 jam lalu

Puan Maharani Dorong Kolaborasi Bantu Telur Asin

Telur asin sudah mendapatkan pengakuan nasional dengan diterbitkannya sertifikat warisan budaya tak benda pada tahun 2020.