Epidemiolog Sebut Pemerintah Terlalu Cepat Klaim Puncak Kasus Omicron

Suasana Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso di Jakarta Utara, Kamis, 10 Februari 2022. RSPI Sulianti Saroso menjadi salah satu Rumah Sakit rujukan perawatan pasien Covid-19 varian Omicron. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

TEMPO.CO, Jakarta - Epidemiolog dari Griffith University, Australia, Dicky Budiman menilai pemerintah terlalu cepat mengklaim bahwa kasus Covid-19 varian Omicron sudah mencapai puncaknya. Pemerintah bahkan menyebut beberapa daerah sudah melampaui puncak dan akan segera melandai.

Penentuan puncak kasus Covid-19, ujar Dicky, mesti didukung oleh angka testing yang kuat. "Sementara data-data yang ada belum memperkuat klaim itu," ujar dia saat dihubungi Tempo pada Selasa, 15 Februari 2022.
 
Adapun data Kementerian Kesehatan menunjukkan rata-rata tes spesimen dalam tujuh pekan terakhir berkisar di angka 400 ribu. Kemampuan tes tersebut dinilai masih jauh dari kata memadai. Untuk itu, Dicky menyarankan pemerintah semakin hati-hati melihat gelombang Omicron ini.
 
"Lagipula ketika sudah mencapai puncak, belum berarti langsung selesai Omicron itu. Tren di beberapa negara, bisa naik lagi dan agak lama turunnya. Negara-negara besar itu punya banyak potensi ledakan di daerah. Tren Omicron itu, masing-masing daerah akan memiliki puncak berbeda. Lain halnya dengan Delta yang bersamaan," ujar Dicky.
 
Kemarin, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut kasus Omicron sudah mencapai puncaknya pada 55 ribu kasus. "Puncak kasus Omicron kami sudah dapatkan yaitu 55 ribu kasus, dengan kematian 111 kasus. Ini jauh sekali dibandingkan kasus Delta di 2021," ujar Budi.
 
Saat gelombang varian Delta, puncak kasus terjadi pada 15 Juli 2021 dengan 56 ribu kasus, dan puncak kematiannya 2.069 kasus. Budi bahkan menyebut enam provinsi sudah melampaui puncak varian Delta, yakni DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Papua. 
 
Kendati demikian, pemerintah tetap waspada akan potensi lonjakan kasus mulai bergeser ke daerah lain. "Setelah daerah-daerah ini melampaui puncak, pemerintah memprediksi baru nanti akan bergeser ke provinsi-provinsi seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta dan daerah luar Jawa-Bali," ujar Budi.
 
Menurutnya fasilitas kesehatan sangat memadai untuk mengantisipasi lonjakan kasus di sejumlah daerah. Sebab, semua provinsi yang sudah melampaui puncak Delta itu, tingkat keterisian rumah sakitnya jauh lebih rendah dibandingkan dari puncak Delta. 
 
Adapun kapasitas tempat tidur di rumah sakit yang disiapkan di Jawa-Bali hari ini sekitar 55 ribu, sementara yang terisi baru 21 ribu tempat tidur. Bila menggunakan kapasitas maksimal di angka 87 ribu tempat tidur seperti saat Delta, ujar Budi, maka BOR hari ini di Jawa-Bali hanya terisi sekitar 25 persen. Angka ini masih jauh di bawah standar memadai WHO, yakni sebesar 60 persen. 
 





PeduliLindungi Berganti Jadi Aplikasi SatuSehat, Ini Tujuannya dan Manfaatnya bagi Pengguna

2 hari lalu

PeduliLindungi Berganti Jadi Aplikasi SatuSehat, Ini Tujuannya dan Manfaatnya bagi Pengguna

Pemerintah mengintegrasikan melakukan transformasi aplikasi Pedulilindungi menjadi aplikasi SatuSehat.


Penyandang Disabilitas Tewas Ditabrak Kereta Api Trans Sulawesi di Barru

4 hari lalu

Penyandang Disabilitas Tewas Ditabrak Kereta Api Trans Sulawesi di Barru

Seorang petani La Sudding, 53 tahun meninggal akibat ditabrak kereta api Trans Sulawesi di Kabupaten Barru, Rabu, 01 Februari 2023.


China Optimistis Pandemi Covid-19 Akan Segera Berakhir

5 hari lalu

China Optimistis Pandemi Covid-19 Akan Segera Berakhir

China yakin pandemi Covid-19 segera berakhir seiring dengan jumlah kasus positif dan kematian yang terus menurun.


Hadapi Masalah Stunting di Jakarta, Heru Budi Hartono Bakal Temui Menkes

5 hari lalu

Hadapi Masalah Stunting di Jakarta, Heru Budi Hartono Bakal Temui Menkes

Heru Budi meninjau upaya pencegahan stunting dan menemukan anak yang fisik, berat dan tinggi badan tidak sesuai dengan balita pada umumnya.


Begini Cara Mendapatkan Vaksin Booster Kedua, Apa Syaratnya?

5 hari lalu

Begini Cara Mendapatkan Vaksin Booster Kedua, Apa Syaratnya?

Kementerian Kesehatan mengumumkan bahwa pemberian vaksin booster kedua sudah bisa diperoleh masyarakat umum. Apa saja syaratnya?


Perlunya Disiplin Protokol Kesehatan saat Subvarian Kraken Merebak

5 hari lalu

Perlunya Disiplin Protokol Kesehatan saat Subvarian Kraken Merebak

WHO menilai risiko terbaru tentang Omicron XBB.1.5 atau Kraken sebagai subvarian yang sangat menular sehingga protokol kesehatan perlu dijaga.


Deteksi Subvarian Baru seperti Kraken dengan Pengurutan Genom

5 hari lalu

Deteksi Subvarian Baru seperti Kraken dengan Pengurutan Genom

Peneliti mengingatkan pentingnya pengurutan genom menyeluruh untuk mendeteksi COVID-19 subvarian baru seperti Kraken.


Rusia Menuduh Kyiv Bertanggung Jawab atas Serangan Rumah Sakit di Donbass

6 hari lalu

Rusia Menuduh Kyiv Bertanggung Jawab atas Serangan Rumah Sakit di Donbass

Rusia menuding Kiev dan sekutunya dari negara-negara Barat bertanggung jawab atas hancurnya sebuah rumah sakit umum di Kota Donbass


Pertemuan Forum Dekan Kedokteran, Ini Rekomendasi Soal Dokter Spesialis

6 hari lalu

Pertemuan Forum Dekan Kedokteran, Ini Rekomendasi Soal Dokter Spesialis

AHS dianggap sebagai salah satu solusi pemenuhan kebutuhan jumlah, distribusi, dan kualitas dokter dan dokter spesialis di Indonesia.


Jokowi Minta Angka Stunting Turun 14 Persen pada 2024, Ini Fakta Stunting di Indonesia

9 hari lalu

Jokowi Minta Angka Stunting Turun 14 Persen pada 2024, Ini Fakta Stunting di Indonesia

Angka stunting di Indonesia diklaim turun sekitar 15 persen sejak Presiden Jokowi menjabat.