BNPT Bilang Generasi Muda Bisa Terpapar Terorisme Hanya dalam 5 Menit

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Seorang narapidana tindak pidana terorisme bendera Merah Putih saat ikrar setia kepada NKRI di Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa, 9 November 2021. Sebanyak 34 narapidana teroris menyatakan ikrar setia kepada NKRI. ANTARA/Humas Ditjenpas

    Seorang narapidana tindak pidana terorisme bendera Merah Putih saat ikrar setia kepada NKRI di Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa, 9 November 2021. Sebanyak 34 narapidana teroris menyatakan ikrar setia kepada NKRI. ANTARA/Humas Ditjenpas

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Polisi Ahmad Nurwakhid menjelaskan kelompok radikal menyasar anak muda dengan membanjiri narasi intoleransi yang berujung pada tindakan kekerasan dan teror. Mahasiswa dan generasi muda disebutnya termasuk dalam kategori kelompok rentan terpapar paham radikal terorisme

    Menurutnya, mahasiswa berpotensi terpapar paham radikal terorisme, terutama generasi milenial dan generasi Z. "Karena mereka ini kan masih tumbuh dan berkembang, nilai wawasan kebangsaannya masih proses pematangan, mereka senang hal-hal baru, tantangan baru," ujar dia dalam keterangannya, Rabu, 26 Januari 2022.

    Nurwakhid, menjelaskan sikap eksklusif dan intoleran adalah watak dasar dari radikalisme yang menjiwai semua aksi terorisme. Semua pelaku teror pasti berpaham radikal, meskipun tidak semua individu atau kelompok yang berpaham radikal serta merta akan menjadi teroris.

    Nurwakhid juga sempat melakukan pretest potensi radikalisasi dalam waktu lima menit kepada mahasiswa. Ia memberikan pertanyaan yang seringkali digunakan kelompok radikal dalam mendoktrin generasi muda, misalnya dikotomi hukum negara dan agama.

    Dari simulasi tersebut didapati ada mahasiswa yang memiliki pemahaman takfiri. Menyikapi hal itu, mantan Kabagbanops Densus 88 Polri ini berpendapat bahwa mahasiswa sangat rentan disusupi paham radikal karena masih memiliki kontrol emosi labil yang sangat berpotensi untuk dilakukan radikalisasi.

    “Bayangkan saja kalau mereka selalu rutin mendengar dan melihat konten-konten di dunia maya tentang pemahaman radikal, itu akan tertanam dari pikiran dan alam bawah sadarnya," kata Nurwakhid.

    Menurutnya, ideologi radikal terorisme tidak bisa dilihat, tapi hanya bisa dirasakan, dan paham ini sangat berbahaya seperti virus yang potensial pada setiap individu manusia. Nurwakhid menerangkan, terorisme tidak ada kaitannya dengan agama apapun karena tidak ada satu agamapun yang membenarkan semua tindakannya.

    "Namun ini terkait dengan pemahaman dan cara beragama yang salah dan menyimpang dari oknum umat beragama," tutur dia.

    Vaksinasi ideologi


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya

    Grafis

    Pemerintah Longgarkan Aturan Memakai Masker

    Jokowi mengizinkan masyarakat lepas masker di ruang terbuka setelah melihat kondisi pandemi Covid-19 yang memenuhi nilai-nilai tertentu.