BNPT: Lebih dari 250 Buku Terorisme Beredar Bebas di Internet

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Ilustrasi teroris. shutterstock.com

    Ilustrasi teroris. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Penindakan dan Penegakan Hukum Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Inspektur Jenderal Ibnu Suhendra mengatakan saat ini terdapat lebih dari 250 judul buku tentang radikalisme dan terorisme yang beredar bebas di internet. Buku-buku yang sebagian besar berformat portable document format atau PDF itu bisa leluasa diakses dan diunduh.

    "Penyebaran buku-buku itu di internet merupakan bagian dari propaganda kelompok teroris. Mereka saat ini beradaptasi dengan perkembangan teknologi komunikasi, memanfaatkan internet untuk menyebarkan ajarannya," ujarnya sambil menunjukkan ratusan judul buku tersebut saat berkunjung ke kantor Tempo pada Rabu, 1 Desember 2021.

    Ratusan buku itu sebagian besar adalah karangan para petinggi Negara Islam Irak dan Suriah yang selanjutnya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Salah satu penterjemah buku-buku tersebut adalah Aman Abdurrahman. Pendiri kelompok Jamaah Ansharut Daulah ini terdeteksi sudah menterjemahkan sekitar 200 buku yang berisi propaganda menyebarkan radikalisme.

    Sejumlah doktrin yang disampaikan di buku-buku tersebut adalah anggapan bahwa negara yang menerapkan sistem demokrasi adalah negara kafir, menganjurkan menyerang dan membunuh polisi dan penegak hukum di negara kafir, hingga menganggap umat muslim yang tidak sepaham dengan kelompok mereka adalah kafir.

    "Buku-buku ini yang mengispirasi para pelaku teror. Dalam setiap penangkapan teroris, kami menemukan buku-buku tersebut yang sekarang dijadikan format PDF dan disebarkan di internet," ujar Ibnu.

    BNPT berharap Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia bisa segera mengantisipasi maraknya peredaran buku-buku radikalisme tersebut. "Seumpama terorisme adalah buah, maka radikalisme adalah pohonnya. Selama paham radikalisme tidak dibendung, terorisme akan terus terjadi," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu Satelit Orbit 123 derajat BT dan Kronologi Kekisruhannya?

    Kejaksaan Agung menilai pengelolaan slot satelit orbit 123 derajat BT dilakukan dengan buruk. Sejumlah pejabat di Kemenhan diduga terlibat.