Kasus Jurnalis Tempo Tahap Penuntutan, AJI Dorong Jaksa Tuntut Maksimal Terdakwa

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Jurnalis melakukan aksi solidaritas di kawasan Tugu Adipura, Kota Tangerang, Banten, Rabu 31 Maret 2021. Mereka menuntut pihak berwenang untuk mengusut tuntas oknum pelaku kekerasan terhadap wartawan Tempo, Nurhadi dan kasus kekerasan terhadap wartawan lainnya. ANTARA FOTO/Fauzan

    Jurnalis melakukan aksi solidaritas di kawasan Tugu Adipura, Kota Tangerang, Banten, Rabu 31 Maret 2021. Mereka menuntut pihak berwenang untuk mengusut tuntas oknum pelaku kekerasan terhadap wartawan Tempo, Nurhadi dan kasus kekerasan terhadap wartawan lainnya. ANTARA FOTO/Fauzan

    TEMPO.CO, Jakarta - Proses persidangan kasus kekerasan terhadap jurnalis Tempo Nurhadi memasuki tahap penuntutan di Pengadilan Negeri Surabaya Rabu besok, 1 Desember 2021. Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya Eben Haezer mendorong jaksa penuntut umum mengajukan tuntutan maksimal kepada dua terdakwa anggota polisi aktif, Purwato dan Muhammad Firman Subkhi.

    Menurut Eben tindakan terdakwa sudah cukup menunjukkan adanya upaya perampasan kemerdekaan pers dan pelanggaran hak asasi manusia kepada Nurhadi. Eben juga mendorong agar majelis hakim memerintahkan kepada penyidik melakukan pemeriksaan terhadap para pelaku lain yang terlibat kekerasan.

    “Dalam persidangan dua terdakwa sudah menyebutkan nama lain yang terlibat. Sejumlah saksi juga demikian. Maka kami berharap agar pengungkapan kasus ini tak hanya berhenti pada dua terdakwa ini,” tutur Eben, Selasa, 30 November 2021.

    Berkaitan dengan tahap tuntutan tersebut, AJI Surabaya dan AJI Malang menggelar unjuk rasa di depan markas Polda Jawa Timur dan kantor Kejaksaan Tinggi Jawa Timur di Surabaya pada Selasa siang. Pengunjuk rasa mendesak agar Polda Jawa Timur bekerja secara profesional untuk mengungkap para pelaku lain yang terlibat dalam penganiayaan terhadap Nurhadi.

    Ketua Umum AJI Indonesia Sasmito Madrim mengatakan bahwa setidaknya ada 54 kasus kekerasan terhadap jurnalis dengan pelaku anggota polisi. Tiga kasus di Jakarta sudah dilaporkan ke kepolisian, namun kasusnya tidak pernah diadili. Karena itu, kasus Nurhadi harus menjadi momentum penting bagi penegakan kebebasan pers di Indonesia.

    Dia menambahkan, perkara ini mendapat pemantauan tak hanya dari AJI, tetapi juga dari organisasi-organisasi pembela HAM dan demokrasi dari negara lain. “Karena itu kami mendesak supaya polisi profesional dan mengusut tuntas semua pelakunya yang terlibat, termasuk yang berlatar belakang polisi. Karena Kapolri sendiri juga sudah punya semangat untuk membersihkan Polri dari anggota-anggotanya yang mencoreng nama institusi,” tutur Sasmito.

    Baca Juga: AJI Indonesia Ingin Kasus Kekerasan Terhadap Nurhadi Bisa Tuntas di Pengadilan


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Sepakati Travel Bubble dengan Singapura, Ini Penjelasannya...

    Indonesia membuka pintu pariwisata melalui Travel Bubble. Wisatawan yang memenuhi syarat dapat menyeberang ke Singapura melalui Batam dan Bintan.