Jaringan Jamaah Islamiyah Disebut Bisa Kumpulkan Dana Belasan Miliar

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Petugas Detasemen Khusus (Densus) 88 membawa terduga teroris Taufik Bulaga alias Upik Lawanga dari Lampung setibanya di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu, 16 Desember 2020. Upik Lawangan merupakan buronan polisi sejak 14 tahun lalu yang diduga merakit bom dalam kasus bom di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton. ANTARA/Muhammad Iqbal

    Petugas Detasemen Khusus (Densus) 88 membawa terduga teroris Taufik Bulaga alias Upik Lawanga dari Lampung setibanya di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu, 16 Desember 2020. Upik Lawangan merupakan buronan polisi sejak 14 tahun lalu yang diduga merakit bom dalam kasus bom di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton. ANTARA/Muhammad Iqbal

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Bagian Ban Ops Densus 88 Anti Teror Mabes Polri, Komisaris Besar Aswin Siregar, mengatakan kelompok teroris Jamaah Islamiyah di Indonesia bisa mengumpulkan belasan miliar rupiah dalam setahun. Dana ini digunakan untuk membiayai operasional kegiatan mereka.

    "Contohnya Syam Abadi ini terungkap dalam pemeriksaan pendapatannya hampir Rp 15 miliar per tahun," kata Aswin dalam konferensi pers, Kamis, 25 November 2021.

    Syam Amal Abadi merupakan lembaga yang ada di atas Syam Organizer, yayasan yang disebut Densus 88 sebagai salah satu media Jamaah Islamiyah untuk mengumpulkan dana. Selain itu, ada juga lembaga bernama BM ABA (Baitul Maal Abdurrahman Bin Auf).

    Aswin mengatakan hitungan Rp 15 miliar itu baru didapat Densus 88 dari laporan keuangan kelompok ini. Padahal, menurut Aswin, JI memiliki sistem sel terputus yang bisa membuat mereka menghindari pencatatan-pencatatan formal. "Jumlah ini bisa lebih fantastis dibandingkan dengan apa yang bisa diungkap lewat laporan," kata Aswin.

    Pada waktu penyitaan di kantor pusat di Syam Organizer saja, disita uang tunai hampir Rp 1 miliar. Saat ini, Aswin mengatakan, Densus 88 telah menangkap 14 orang anggota BM ABA dan 10 orang anggota Syam Organizer. Dari mereka, Aswin mengaku sudah mendapatkan lagi nama-nama ataupun peran-peran orang selanjutnya untuk didalami lebih jauh.

    Aswin menuturkan bidang pendanaan merupakan elemen paling vital atau hidup matinya bagi Jamaah Islamiyah atau kelompok teroris. "Ini memang bukan cuma di kita. Di seluruh dunia kelompok-kelompok ini berusaha mendapatkan sumber dana dari manapun. Sehingga aktivitas teroris itu tidak akan eksis kalau pendanaan tak ada," kata Aswin.

    Baca juga: Pengurusnya Terlibat Dugaan Terorisme, MUI Sebut Jadi Sarana Introspeksi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fitur Stiker

    Fitur "Add Yours" Instagram dapat mengundang pihak yang berniat buruk untuk menggali informasi pribadi pengguna. User harus tahu bahaya oversharing.

    Dapatkan 2 artikel premium gratis
    di Koran dan Majalah Tempo
    hanya dengan Register TempoID

    Daftar Sekarang (Gratis)